Eksplorasi Migas, RI Gandeng Papua Nugini

Rabu, 22/05/2013

NERACA

Jakarta - Papua Nugini menjalin kerjasama dengan Indonesia untuk bisa mengeksplorasi minyak dan gas bumi (migas) dan mineral. Menteri Energi dan SUmber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menjelaskan nantinya proyek migas akan dibangun di daerah perbatasan antara Papua Nugini dan Indonesia. "Di perbatasan disinyalir dari data-data yang ada banyak kandungan oil, gas and mineral tetapi baru sedikit yang baru dieksplorasi," ungkap Jero di Jakarta, Selasa (21/5).

Menurut Jero, kerjasama dibidang energi juga perlu dibarengi dengan peningkatan keamanan di perbatasan agar bisa lebih baik atau joint development security. Selain itu, akan ada pembangunan jalan diperbatasan yaitu membuat jalan raya dari utara Jayapura sampai ke selatan bersama-bersama dengan mereka. "Jadi ada proyek jalan di Papua yang ditawarkan Papua Nugini, dan tentunya biaya dari mereka," ujar Jero.

Di samping itu, tambah Jero, ada juga proyek di Papua Nugini yang ditawarkan ke Indonesia yaitu di bidang electric city dengan menggandeng Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Pertamina agar dapat diajak bekerjasama. Sementara di bidang minerba rencananya akan digarap PT Aneka Tambang (Antam). "Mereka minta nya seperti itu," tuturnya.

Kawasan perbatasan Indonesia dan Papua Nugini yang akan dikembangkan bersama berada di wilayah barat. Jika eksplorasi mulai berlangsung 2013 atau pada tahun depan, imbuh Wacik, Indonesi bakal panen produksi migas maupun minerba sekitar 10 tahun mendatang. "Ini agar lebik baik pengelolaan daerah perbatasan kita," ucapnya.

Dengan kerja sama itu, Jero berharap berdampak positif terutama untuk keamanan di wilayah perbatasan Indonesia-Papua Nugini terjaga dengan baik. Pada 2011 nilai perdagangan antar kedua negara sebesar US$ 428 juta. Indonesia menjadi mitra ekonomi terbesar ke-8 bagi Papua Nugini.

Belum Dieksploitasi

Sebelumnya, Staf Ahli Gubernur Papua Bidang Pembangunan dan Potensi Daerah Agus Sumule mengatakan banyak sekali potensi sektor tambang yang berada di Papua berdekatan dengan Papua Nugini yang belum dieksploitasi guna meningkatkan kesejahteraan rakyat setempat. Salah satunya adalah Timika yang mempunyai kandungan minyak dan gas bumi, emas, tembaga, batubara, nikel, pasir besi dan lainnya.

Ia mengatakan, potensi minyak dan gas bumi selain terdapat di Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat yang kini dikelola British Proteleum (BP), juga terdapat di Merauke. "Merauke menyimpan sekitar 14,4 kubik feet potensi migas dengan mutu dan jumlah terbanyak di dunia," kata Agus.

Sementara potensi emas dan tembaga terdapat di sebagian besar wilayah Papua. Potensi emas dan tembaga tersebut baru sebagian yang dieksploitasi oleh PT Freeport Indonesia di wilayah Grasberg Tembagapura, Mimika.

Adapun potensi batubara terdapat di Memberamo, Teluk Bintuni, selatan Mimika hingga Merauke dan sampai saat ini belum dieksploitasi. "Potensi batubara sangat besar di Papua. Jika ini bisa dikelola secara baik maka merupakan salah satu sumber energi termurah," katanya.

Agus mengatakan saat ini terdapat dua perusahaan tambang sedang merintis investasi di Papua yaitu PT Aneka Tambang (Antam) dan perusahaan Valli dari Brazil. Kedua perusahaan itu berencana berinvestasi di bidang pertambangan emas di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Papua New Guinea (PNG).

Agus mengatakan, di wilayah perbatasan tersebut sebelumnya terdapat perusahaan tambang emas Oktedi yang beroperasi di PNG, namun sudah ditutup. Penutupan perusahaan tambang emas Oktedi menimbulkan masalah lingkungan l n perusahaan itu mengalirkan tailing melalui sungai ke wilayah Indonesia. "Hal ini tentu saja menimbulkan masalah karena perusahaan itu sudah ditutup dan siapa yang bertanggung jawab atas pencemaran lingkungan yang terjadi di wilayah Indonesia," tanya Agus.

Tidak hanya sektot migas dan tambang, namun juga sektor kehutanan salah satunya kayu merbau. Agus mengatakan Papua menyimpan kekayaan hutan berupa kayu merbau alias kayu besi dengan kualitas terbaik. Sesuai data Dinas Kehutanan Provinsi Papua, katanya, sekitar enam juta hektar hutan di Papua kaya dengan kayu merbau dimana setiap hektar menyimpan potensi kayu merbau sekitar 13,65 meter kubik.

Sementara potensi hutan sagu di Papua mencapai 2,2 juta hektar. "Dahulu orang Papua memanfaatkan sagu hanya sekedar untuk kebutuhan pangan, tapi sekarang kita mulai melihat potensi bio etanol untuk sumber energi alternatif," jelas Agus. Ia mengatakan setiap batang sagu menghasilkan sekitar 100 kg tepung yang jika diolah akan menghasilkan 25 liter etanol.