Fesyen dan Kerajinan Andalan Sektor Kreatif

Sumbang Nilai Ekspor US$ 13 Miliar Per Tahun

Rabu, 22/05/2013

NERACA

Jakarta - Kerajinan anyaman memiliki potensi besar sebagai komoditas industri kreatif yang pertumbuhannya semakin meningkat, rata-rata sekitar 7% per tahun. Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengungkapkan subsektor fesyen dan kerajinan, serta komputer dan piranti lunak merupakan subsektor yang dominan memberikan kontribusi ekonomi baik dalam nilai tambah, tenaga kerja, jumlah unit usaha, dan ekspor.

Menurut dia, nilai tambah yang dihasilkan subsektor fesyen dan kerajian berturut-turut sebesar 44,3% dan 24,8% dari total kontribusi sektor industri kreatif, dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 54,3% dan 31, 13%, dan jumlah usaha sebesar 51,7% dan 35,7%. "Nilai ekspor dari kedua subsektor ini mencapai rata-rata US$ 13 miliar per tahun selama beberapa tahun terakhir ini," ujar Hidayat di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (21/5).

Hidayat menjelaskan dominasi kedua subsektor tersebut karena populasinya menyebar di seluruh wilayah Indonesia, didukung kekayaan budaya etnis di masing-masing daerah.Sektor industri kreatif ini, menurut dia, juga diharapkan dapat menumbuhkan wirausaha baru dari kalangan generasi muda yang mampu melahirkan inovasi-inovasi baru dalam pengembangan produknya."Saat ini kami juga sedang berusaha untuk memudahkan akses para wirausaha baru kreatif tersebut terhadap sumber pembiayaan untuk membantu start-up bisnisnya," kata Hidayat.

Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Herawati Boediono mengimbau para perajin terus mengembangkan produk kerajinan yang inovatif dan dibuat dari bahan baku ramah lingkungan. "Tuntutan pasar dunia semakin ketat sehingga diperlukan produk kerajinan yang inovatif dan kreatif yang disesuaikan dengan selera pasar dan dibuat dari bahan baku yang ramah lingkungan," ujar Herawati.

Selain itu, Herawati juga meminta perajin terus meningkatkan kualitas sehingga dapat bersaing dengan negara lain. Herawati menambahkan, pameran Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) tahun ini mengusung produk anyaman. Produk anyaman merupakan produk tertua di Indonesia dan mempunyai keanekaragaman dan mempunyai ciri khas masing-masing di tiap daerah.

Sementara itu, dalam pameran produk anyaman, Herawati Boediono selain membuka juga melakukan kunjungan ke gerai-gerai pameran. Pameran produk anyaman ini terselenggara atas kerjasama Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah bersama Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) selama empat hari, 21-24 mei di plasa pameran Kementerian Perindustrian, Jakarta, diikuti oleh 48 peserta IKM binaan Dekranas, dari berbagai daerah, antara lain; Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan lain-lain. Produk yang dipamerkan meliputi batik, tenun, anyaman bambu, keramik hiasan rotan dan bambu, serta produk-produk lainnya.

Pertumbuhan IKM

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengungkap dengan adanya pameran industri kreatif ini membantu meningkatkan pertumbuhan Industri Kecil Menengah (IKM) sepanjang tahun ini sebesar 7%.

"Meskipun pertumbuhan produksi industri kecil dan menengah (IKM) pada kuartal I/2013, menurut BPS hanya 4,84 %. Saya yakin kalau IKM kita mampu tumbuh stabil dengan persentase 7 % yang kita pakai adalah patokan investasi," ujar Euis.

Ia memproyeksikan target pertumbuhan itu akan ditopang oleh sektor industri pakaian jadi, khususnya busana Muslim, yang pasarnya diprediksi mampu tumbuh di atas 7 %. IKM komponen otomotif dan garmen, menurut Euis, dihadapkan pada permasalahan kenaikan upah buruh dan tarif listrik yang meningkatkan biaya produksi.

"Sektor komponen otomotif dan garmen memiliki tingkat konsumsi energi lebih tinggi dibandingkan jenis usaha lainnya. IKM logam dan otomotif paling terkena dampak kenaikan upah dan TTL. Untuk penurunannya berapa saya belum ada angkanya," ujar dia.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu berpendapat fesyen mempunyai potensi luar biasa dengan meningkatkan jumlah penduduk kelas menengah. "Ini win-win solution. Mall juga ramai, buat kami sebagai wadah untuk memasarkan industri kreatif," ujarnya saat hadir di ajang Jakarta Fashion & Food Festival ke-10 di La Piazza, Sentra Kelapa Gading, belum lama ini.