Nobu Kesampingkan Branchless Banking

Ingin Fokus di Sektor Mikro

Selasa, 21/05/2013

NERACA

Jakarta - PT Bank Nationalnobu Tbk atau Bank Nobu mengaku masih mempelajari Peraturan Bank Indonesia (BI) terkait branchless banking atau pelayanan jasa perbankan tanpa kantor cabang dan fokus berekspansi kredit di sektor mikro. Menurut Komisaris Utama Bank Nobu, Adrianus Mooy, perseroan masih akan meninjau kembali dampak yang akan didapatkan bila Bank Nobu menerapkan branchless banking.

Lebih lanjut Adrianus menjelaskan, satu sisi, Bank Nobu ingin membuka jaringan kantor cabang (kacab) baru di beberapa daerah. Namun sisi lain, pihaknya juga ingin melihat keberadaan branchless banking ini, apakah dapat memberikan dampak positif atau tidak. “Apakah memang (branchless banking) masuk ke daerah-daerah yang kami belum bisa masuki? Itu yang masih kami pelajari dan evaluasi, apakah akan diterapkan atau tidak,” ungkapnya di Jakarta, Senin (20/5).

Keengganan Bank Nobu menerapkan branchless banking ini lantaran Bank Indonesia (BI) hingga saat ini masih memberikan piloting kepada beberapa bank saja. Dengan demikian, lanjut Adrianus, pihaknya masih wait and see. Terkait ekspansi di sektor kredit mikro, pihaknya akan menyalurkannya berupa kredit modal kerja maupun kredit investasi.

Secara umum, kata dia, hal ini dilakukan untuk membantu perekonomian Indonesia serta memberi peluang kepada masyarakat kelas bawah yang jumlahnya cukup besar pada usia produktif namun masih berada di taraf konsumtif. “Kriteria spending-nya hanya US$2 per hari. Kita ingin mereka menjadi kreatif dan produktif, karena sangat penting untuk membangun empowering mereka,” jelas Adrianus.

Dari sisi peluang, Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk mengembangkan usaha mikro. Dirinya sangat berharap Pemerintah mengadakan pelatihan-pelatihan untuk mengurangi kelemahan manajemen pemasaran kepada pemula. Dia juga mengaku kalau dahulu sempat ada kebijakan terpadu antara perdagangan, perindustrian dan perbankan.

Kala itu, perdagangan membantu pemasaran, perindustrian memberikan penyuluhan dalam pelatihan dan segi teknis produksi, lalu BI atau perbankan memberikan kredit usaha kecil. “Dulu itu agar kerja sama jadi tidak simpang siur. Artinya, tidak terjadi lagi seperti di Jawa Timur, sudah diberikan modal usaha namun tidak ada yang ada pembinaan. Jadi dana sudah dapat tapi tidak maju-maju,” terang Adrianus.

Lalu lebih lanjut dirinya mengatakan, jika semua itu bisa dilakukan secara satu paket serta manajemen yang baik. “Bahkan di manajemen ada istilah bapak angkat di mana perusahaan besar memberi bantuan ke perusahaan kecil seperti belajar manajemen. Hal ini memang perlu, namun sekarang perbankan hanya dari segi pendanaan saja,” ujar dia.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan per 31 Desember 2012, aset perseroan telah mencapai Rp1,2 triliun dengan total penyaluran kredit sebesar Rp413,5 miliar dan penghimpunan dana masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp951,5 miliar.

Dari sisi penghimpunan dana, perseroan memposisikan produk-produknya pada segmen transaksi ritel dan payment banking, yang didukung dengan fasilitas ATM yang terkoneksi dengan ATM Bersama, internet banking dan virtual account. Akhir tahun lalu, perseroan telah mengoperasikan 40 kantor di 11 kota atau 8 provinsi. Menurut rencana, perseroan akan membuka lebih dari 30 kantor di tahun ini hingga mencapai 70 kantor. [sylke]