Benahi Infrastruktur Secara Terukur

Rabu, 22/05/2013

Di tengah mimpi pemerintah menargetkan Indonesia menjadi negara maju pada 2025 dengan pendapatan per kapita antara US$14.250-US$15.500 melalui proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3I), kondisi riil infrastruktur di negeri ini saat ini masih sangat memprihatinkan. Apalagi pemerintah menyediakan modal sendiri hanya 10% dari kebutuhan dana infrastruktur Rp 1.923,7 triliun.

Walau kalangan Bappenas mengakui untuk meraih target pertumbuhan ekonomi, Indonesia sebesar itu masih terbentur dengan rendahnya investasi, sebagai akibat lemahnya konektivitas serta melebarnya disparitas regional dan tingginya biaya ekonomi, cita-cita mulia tersebut harus jadi kenyataan.

Seperti kita ketahui bahwa untuk periode 2010-2014 (pre-MP3I) dengan perhitungan porsi kebutuhan infrastruktur sebesar 5% dari GDP, maka dibutuhkan dana infrastruktur sebesar Rp1.923,7 triliun.

Jelas, dengan kondisi seperti itu kalangan swasta akan berpikir dua kali jika pemerintah sendiri hanya menyediakan modal sendiri sebesar 10%. Padahal, APBN semestinya mampu menyediakan dana infrastruktur yang lebih besar lagi.

Ekonomi Indonesia sebenarnya bisa tumbuh pesat dan maju dengan dukungan ekspor sumber daya alam dan industrialisasinya. Karena itu, pemerintah sejatinya harus bisa mengatasi masalah ekonominya, khususnya infrastruktur buruk yang dihadapinya.

Padahal, Indonesia memiliki masa depan yang cerah seperti diramalkan oleh Goldman Sachs yang tahun 2005 mendeklarasikan negara Next Eleven (N-11), yang diperkirakan akan memiliki kekuatan ekonomi besar seperti kawasan BRIC (Brazil, Rusia, India, China).

Indonesia diharapkan tampil menjadi bagian dari N-11 tersebut karena memiliki potensi besar asalkan dengan syarat, dapat menjaga pertumbuhan ekonominya yang berkelanjutan, sehingga Indonesia bisa berada pada posisi 14 di dunia pada 2025, dan pada 2050 berada di urutan ke-7, salah satu kekuatan ekonomi dunia.Namun tentunya harus dengan perencanaan yang matang dan rasional, bukan dengan pemaparan program MP3I yang mirip textbook ekonometrika di bangku kuliah S-3.

Menghadapi tantangan tersebut, Indonesia tampaknya berat karena diprediksi masih tetap sebagai lower middle income country pada 2050. Selain itu, Indonesia memiliki juga broad based weakness, sehingga memerlukan perbaikan hampir di semua aspek, termasuk dalam stabilitas ekonomi makro, kondisi ekonomi makro, SDM, teknologi, dan stabilitas politik.

Indonesia boleh saja berbangga diri karena berbagai proyeksi tersebut menunjukkan bahwa negeri ini akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi besar dunia. Hal itu bisa menimbulkan optimisme pada bangsa Indonesia, sehingga kita bersemangat untuk membuatnya menjadi kenyataan.

Optimisme yang tinggi tersebut telah menumbuhkan percaya diri bangsa Asia lainnya, khususnya emerging economy, bahwa mereka juga bisa bangkit. Bayangkan saja, bangsa Asia yang dulunya adalah jajahan berbagai negara Eropa ataupun Amerika kini telah bangkit dan siap memimpin dunia, menjadi superpower ekonomi dunia.

Jadi, tanpa penyelesaian berbagai masalah ekonomi yang masih kita hadapi sekarang ini, semua proyeksi tadi hanya akan menjadi mimpi di siang bolong. Kita yakin mimpi indah MP3I bisa menjadi kenyataan, kalau semua teknokrat dan para decision maker sama-sama berpikir rasional, terukur dan tentu disertai dukungan APBN yang sehat. Ingat, resep negara maju adalah perlu high capital bila ingin mendapatkan high return, bukan sebaliknya mengandalkan low capital tetapi ingin meraih high return?