Industri Baja Tertekan Rencana Kenaikan BBM

Selasa, 21/05/2013

NERACA

Jakarta - Industri baja pada kuartal II akan kembali tertekan seiring dengan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi oleh pemerintah. Direktur Eksekutif The Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Edward R. Pinem mengatakan, meski ada peningkatan, sepanjang tahun ini industri baja masih tetap lesu.

“Akan tertekan karena pada periode ini pelaku bisnis akan menekan atau menunda kegiatannya sehingga berpengaruh pada penjualan. Pelaku bisnis akan wait and see,” kata Edward, Senin (20/5).

Meskipun industri baja diperkirakan masih lesu pada tahun ini, Edward mengatakan kalau industri tahun ini masih lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu.Ketika industri baja regional tertekan oleh krisis yang melanda Eropa dan China.

Menurutnya, salah satu faktor perbaikan industri baja nasional dipengaruhi pertumbuhan ekonomi yang stabil yang akan membuat permintaan akan baja tumbuh sekitar 10%. Namun, bila pertumbuhan ekonomi stagnan, akan berpengaruh juga pada industri baja.“Tapi kemarin katanya pertumbuhan ekonomi dikoreksi kembali kan jadi sekitar 6,2% - 6,3%, jadi belum tahu nih bagaimana,” katanya.

Adapun pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2013 dipatok sebesar 6,8%. Sebelumnya Edward mengakui, kondisi ini berbeda dengan tahun lalu. Ketika itu kondisi industri baja regional tertekan oleh krisis yang melanda Eropa dan China. Krisis tersebut membuat permintaan dan pasokan baja tidak seimbang sehingga membuat harganya jatuh.

“Krisis ini juga meng­akibat­kan kinerja perusahaan baja re­gional seperti Malaysia dan Thai­land sangat tertekan dan me­ng­alami kerugian. Bahkan di Thai­land tidak mampu berpro­duksi dan baru beroperasi lagi pa­da 2013 setelah menyelesaikan per­soalan keuangannya,” katanya.

Edward mengatakan, salah satu faktor perbaikan industri baja nasional dipengaruhi pertum­buhan ekonomi yang stabil. Kondisi tersebut membuat permintaan baja tum­buh sekitar 10%. Dia mengatakan, industri baja di Indonesia sebagian besar dikon­sumsi untuk sektor properti dan infra­struk­tur, se­dangkan untuk oto­motif masih terbatas. Sementara di negara lain seperti Thailand industri baja banyak dikonsumsi oleh otomotif.“Setidaknya in­dustri baja mereka dipergunakan juga untuk jaringan industri otomotif di luar negara tersebut,” ucapnya.

Sedangkan di Indonesia, mes­kipun pertumbuhan infra­struktur demikian pesat namun karena basis pendanaannya dari pinja­man luar negeri, maka komponen baja yang dipergunakan juga berasal dari negara pemberi pinjaman. Hal ini yang membuat industri baja sulit berkembang meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 7 % tahun ini.

Menghadapi kondisi yang tidak menguntungkan tersebut, Edward mendesak pemerintah segera mengeluarkan kebijakan untuk memberikan perlindungan kepada industri baja di dalam negeri seperti dila­kukan di se­jumlah negara. “Perlindungan itu sangat pen­ting di tengah-tengah kondisi in­dustri baja dunia yang saat ini masih mengalami tekanan seba­gai dampak krisis ekonomi di Eropa dan China,” jelasnya.

Edward mengatakan, pasar baja di Indonesia sangat terbuka di­banding negara-negara tetang­ga seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam yang justru memberikan perlindungan sangat ketat terha­dap industri baja di dalam negerinya.

Menurut dia, puluhan hingga ratusan importir baja yang tidak memiliki industri di dalam negeri (hanya sebagai trader) dengan mudah memasukkan baja impor ke pasar Indonesia sehingga membuat harga tidak stabil. Per­lindungan yang diberikan peme­rintah kepada industri baja ba­rulah pemberian label SNI (Stan­dar Nasional Indonesia).

Sebelumnya, akibat mekanis­me impor tentang verifikasi ba­han baku besi bekas, pertum­buhan industri logam dasar besi dan baja hingga akhir 2012 ha­nya mencapai 4 %. Menurut Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Ke­menterian Perindustrian ,Panggah Susanto, pada 2012, sektor in­­dustri logam dasar besi dan baja tum­buh 13 % dan mem­beri­kan kontribusi terbesar terhadap pertum­buhan in­dustri manufaktur yang mencapai 6,8 %.

Dengan mekanisme impor me­ngenai verifikasi bahan baku besi bekas scrap, menurut dia, per­tumbuhannya mencapai 4% dan mempengaruhi rea­lisasi pertumbuhan industri ma­nufaktur yang mencapai 6,7 % sampai akhir tahun ini.