Tingkatkan Produksi, Sritex Siapkan Capex Rp 2,4 Triliun

Bidik Pasar Ekspor Cina

Selasa, 21/05/2013

NERACA

Jakarta – Guna memenuhi permintaan kontrak baru, perusahaan tekstil dan garmen PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) pada 2013 dan 2014 sebesar Rp2,4 triliun. Nantinya, dana tersebut untuk meningkatkan produksi.

Presiden Direktur Sritex, Iwan Setiawan mengatakan, belanja modal ini bersumber dari kas internal dan pinjaman perbankan. "Dana capex itu, Rp1,5 triliun dari equity dan sisanya dari pinjaman perbankan, sudah ada beberapa bank yang mau membiayai," katanya di Jakarta, Senin (20/5).

Selain itu, guna meningkatkan permodalan, perseroan bakal menawarkan saham perdana atau initial public offering (IPO) di pasar modal. Perseroan menargetkan, hasil dana dari IPO bisa dihimpun sebesar Rp 1,5 triliun.

Dana hasil IPO, sekitar 87% akan digunakan untuk ekspansi divisi spinning dan sisanya digunakan untuk ekspansi divisi garmen. Disebutkan, sasaran ekspansi bisnis perseroan adalah pasar Cina.

Menurutnya, Cina memiliki populasi yang besar dengan potensi pembeli dan kenaikan pendapatan yang luar biasa, “Untuk produk Uniqlo brand pakaian asal Jepang, baru tahun lalu kita dapatkan dan untuk 3 tahun ke depan sangat berpotensi dapat berkembang di Indonesia,”tuturnya.

Saham Perdana

Sritex dengan penjamin emisi telah menetapkan harga perdana saham di kisaran Rp230-Rp385 per lembar saham. "Semuanya sudah kita evaluasi, kita sudah lihat-lihat. Akhirnya keluar harga per saham Rp230-Rp385," kata Direktur Utama PT Bahana Securities, Eko Yuliantoro.

Rencananya, Sritex akan menawarkan maksimal 30,12% atau mencapai 5,6 miliar saham dari modal ditempatkan dan disetor penuh dimana setiap sahamnya memiliki nilai nominal Rp 100. Sebagai penjamin pelaksana emisi efek, PT Bahana Securities ditunjuk oleh Sritex. Sritex juga memiliki pelanggan di lebih dari 30 negara.

Penawaran saham Sritex akan berlangsung sejak 20 Mei hingga 28 Mei. Rencananya, pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 5 Juni mendatang dan Sritex akan mulai mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesi (BEI) pada 17 Juni.

Mengenai kurs rupiah yang fluktuatif, menurut Direktur Sritex Allan M.Severino, hal tesebut tidak berpengaruh terhadap keuangan Sritex. Pasalnya, pembelian dan penjualan perseroan menggunakan mata uang dolar.

Sebagai informasi, sejak tahun 2011 penjualan Sritex mengalami peningkatan 12,8% yaitu Rp 3,6 triliun dan menjadi Rp 4,1 triliun pada 2012. Sementara net profit margin juga alami kenaikan dari Rp 161,5 miliar pada 2012 menjadi Rp 229,3 miliar pada 2012 atau alami peningkatan sebesar Rp 68 miliar. Sritex sendiri saat ini mengoperasikan 9 unit spinning, 3 unit weaving, 3 unit dyeing/printing/finishing, dan 7 unit garmen. Beroperasi di atas lahan seluas 50 hektar dengan jumlah karyawan sekitar 16.000 orang. (nurul)