BI Ingin Pasar Valas Domestik Efisien

Penerbitan JISDOR

Selasa, 21/05/2013

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia (BI), pada 20 Mei 2013 ini, meluncurkan Kurs Referensi: Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Hal ini dikarenakan BI ingin mendukung pendalaman pasar valas domestik yang memerlukan adanya referensi harga spot USD/IDR akurat dan kredibel yang mencerminkan harga pasar supaya efisien. “Sebelumnya, informasi harga USD/IDR tersedia hanya berdasarkan kuotasi bank, yang merupakan minat beli atau jual yang ditawarkan oleh bank, dan belum tentu terealisir dalam transaksi. Karena tidak didasarkan pada transaksi aktual, kuotasi harga dapat memberikan informasi harga yang kurang akurat, bahkan bisa menimbulkan asimetri informasi, yang pada gilirannya menyebabkan pembentukan harga tidak efisien di pasar.,” kata Difi A. Johansyah, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, ketika ditemui di Jakarta, Senin (20/5).

JISDOR merupakan harga spot USD/IDR yang disusun berdasar transaksi valuta asing antar bank, yang datanya diperoleh secara real time melalui Sistem Monitoring Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah (SISMONTAVAR) di BI. Itu dibentuk berdasarkan rata-rata tertimbang dari volume seluruh transaksi USD/IDR antar bank dalam rentang waktu pukul 08.00 – 09.45 WIB. Dan JISDOR diumumkan tepat pukul 10.00 pada situs BI. Data tersebut akan tersedia pada setiap hari kerja, dalam hal ini tidak termasuk Sabtu, Minggu, hari libur nasional, atau hari lain yang ditetapkan sebagai hari libur.

“Pembentukan kurs ini rata-rata antar bank, sehari itu biasanya ada sekitar 200 transaksi. Di jam itu biasanya hanya 50 transaksi, pembentukan harga acuan kurs bisa banyak tapi hanya di sekitar itu saja. Kenapa jam segitu, karena ada kebutuhan dari pelaku pasar sendiri yang melakukan referensi ini sebelum sesi pagi berakhir jam 12, maka kita umumkan jam 10. Dari window time sejam 45 menit itu sudah cukup menggambarkan kuotasi. Ini berdasarkan 20% dari tracking data historis yang kita lakukan,” tuturnya. Bank yang menjadi kontributor dalam pembentukan JISDOR itu adalah bank-bank devisa yang berjumlah 70 bank. Bank-bank tersebut melakukan transaksi otomasi antar bank melalui media yang bisa bertransaksi antar treasury, dan kita punya sistem yang bisa menangkap transaksi mereka secara real time.

“Tapi tidak semua bertransaksi pada hari yang sm. Karena misalnya ada BPD yang bank devisa namun dalam sehari tidak melakukan transaksi. Jadi ini tergantung pasar saja. Paling sehari dalam sehari rata-rata 65 bank yang berkontribusi. Ke depan masih terbuka evaluasi dan pengembangan, poinnya adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar, dan acuan ini cukup kredibel dalam menggambarkan pasar,” ujarnya. Kurs referensi tersebut, jelas Difi, tidak bersifat mandatory atau wajib. “Bank itu tidak wajib sebagai kontributor kurs tersebut. Kurs ini hanya untuk di-refer para pelaku pasar. Bank dengan lawan transaksinya punya assessment masing-masing, misalnya antara bank besar dan kecil itu berbeda, kemudian volume transaksinya juga berbeda-beda. Bisa jadi wajib kalau dalam kontrak tercantum bahwa dalam transaksi harus pakai acuan harga dari BI,” jelasnya.

Menurut dia, adanya JISDOR ini akan melancarkan bisnis bank itu sendiri, juga menguntungkan nasabahnya. “Karena selama ini nasabah banyak yang tidak tahu lihat harganya di mana. Kemudian, dengan adanya informasi harganya di sekitar sekian, maka akan meningkatkan bisnis bank, karena nasabah akan lebih leluasa bertransaksi dan tahu harga pasarnya. Jadi bank juga akan lebih hati-hati dalam memberikan harga ke nasabah. Ini juga akan bisa meningkatkan likuiditas pasar valas domestik,” ucapnya.

Nasabah, melalui JISDOR ini, jadi bisa tahu jika bank menerapkan kuotasi harga yang sangat jauh dari harga pasar, sehingga variabilitas yang terjadi dalam transaksi bisa konvergen. “Kalau sudah sama-sama terbuka (antara bank dengan nasabah) maka tidak akan memunculkan harga jual-beli yang terlalu jauh. Nasabah jadi bisa punya bargaining power yang lebih,” katanya. Untuk tampilan informasi JISDOR ini di situs BI, icon-nya masih sedang dalam pembuatan “Nantinya memang akan ditampilkan di icon tersendiri (di situs BI). Tapi sekarang kalau mau diakses bisa di klik kolom moneter, lalu informasi kurs, dan di sana akan ada penjelasan informasinya, kemudian ada angka JISDOR di sana. Penyempurnaan dari kurs tengah memang akan jadi JISDOR,” ungkapnya.

BI harus mengawasi

Di samping itu, kurs referensi menjadi alat monitoring dan asesmen Bank Indonesia dalam membentuk pasar valas agar berkembang secara sehat dan mempunyai daya tahan lebih tinggi terhadap gejolak pasar. “Kalau transaksi (jual-belinya) terjadi di luar bank, BI tetap bisa mengawasi, karena kita mempunyai laporan bank dengan nasabah dalam Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU). Jadi kalau transaksinya sangat jauh (dari dealing room di bank) masih bisa dimonitor,” tutur dia. Ketika ditemui sebelumnya, Chief Economist Bank Mandiri, Destry Damayanti mengatakan bahwa adanya JISDOR ini cukup bagus untuk perkembangan pasar valas dalam negeri. Tapi yang terpenting dari sistem referensi kurs tersebut adalah bagaimana BI memonitor atau mengawasi peristiwa transaksi tersebut.

“Kenapa di Singapura gagal, karena memang ada permainan kolusi di antara para kontributornya. Di LIBOR kan juga sama, karena ada kolusi di antara mereka. Sistem ini bagus, tapi bagaimana pengontrolan atau monitoringnya. Bagaimana bisa tahu jika antara kamu atau aku sudah teleponan duluan. Kalau teleponnya di dealing room kan termonitor, tapi bisa saja teleponnya dari luar segala macam, jadi bagaimana mendeteksinya,” jelasnya.

Menurut Destry, dengan adanya JISDOR tersebut, bank jadi tahu kondisi likuiditasnya seperti apa, serta bisa menjaga nilai tukar rupiah agar tidak terlalu volatile. “Kalau (terjadinya) di Singapura tergantung dari market mereka kan, kalau likuiditas jadi tight, kita jadi ikut-ikutan. Justru dengan ini volatilitas rupiah yang mau diminimalisir, jadi akhirnya BI bisa mematok rate-nya sekian. Maksudnya kalau rate-nya di atas acuan, maka akan kembali kepada rate di equilibrium-nya. Cuma masalahnya market forex dalam negeri masih sangat kecil, sehingga harus ada pendalaman market. Mau tidak mau BI harus terus menjaga likuiditas,” pungkasnya. [ria]