Perputaran Uang Sektor Telekomunikasi Rp 400 Triliun

Prediksi Tiap Tahun

Selasa, 21/05/2013

NERACA

Jakarta – Dalam masterplan Percepatan dan Perluasan Pembanguan Ekonomi Indonesia (MP3EI), pemerintah memasukkan sektor telekomunikasi karena berkaitan dengan konektivitas. Dengan begitu, perputaran uang di sektor tersebut tentunya cukup besar. Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring memprediksi perputaran dana di sektor telekomunikasi mencapai Rp400 triliun.

“Setiap tahunnya perputaran uang di sektor telekomunikasi sekitar Rp400 triliun. Hal ini lantaran masyarakat Indonesia yang sudah mengenal dan terbiasa dengan dunia digital dan internet. Untuk saat ini, jumlah pelanggan mencapai 220 juta dimana ada sekitar 63 juta orang pengguna internet, 33 juta pengguna twitter dan 47 juta pengguna facebook, maka perputaran uangnya pun signifikan,” ungkap Tifatul di Jakarta, Senin (20/5).

Ia menjelaskan bahwa perputaran dana yang dimaksud adalah belanja modal operator telekomunikasi, penjualan pulsa operator, sampai dengan bisnis yang digerakkan oleh sektor telekomunikasi. Perputaran dana yang mencapai triliunan dibenarkan oleh Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto P. Santosa.

Menurut dia, angka Rp400 triliun masuk akal mengingat perputaran bisnis di sektor telekomunikasi cukup besar. “Pertumbuhannya lebih tinggi dari sektor lainnya. Hal itu terjadi karena pemicunya adalah perubahan pola konsumsi rakyat Indonesia yang sudah mulai masuk ke era knowledge based economy,” katanya.

Hal tersebut, menurutnya, tentu akan membutuhkan banyak sarana dan prasarana telekomunikasi. Berdasarkan laporan keuangan operator telekomunikasi, tahun ini Grup Telkom membelanjakan Rp 20 triliun untuk pembangunan jaringan telekomunikasi. Indosat mengalokasikan US$ 800 juta atau Rp 7,8 triliun, sedangkan XL menyiapkan Rp 9 triliun untuk belanja modal 2013.

Ditopang Mobile Internet

Sementara itu, Lembaga penelitian Frost & Sullivan menyatakan bahwa pertumbuhan industri telekomunikasi 2013 akan ditopang oleh peningkatan internet seluler atau mobile internet. “Bisa dibilang mobile internet inilah yang akan jadi penyelamat industri telekomunikasi Indonesia 2013. Hal itu dilihat dari semakin murahnya harga ponsel pintar dan tingginya tingkat adopsi jejaring sosial," kata Head of Consulting ICT Practice Frost & Sullivan Dev Yusmananda.

Menurut Dev, mobile internet akan tetap menjadi pendorong tingginya penetrasi internet di Indonesia. Disamping itu, mobile internet juga akan menciptakan sumber pendapatan yang potensial bagi para pelaku industri telekomunikasi. Dia juga mengungkapkan adanya peningkatan penggunaan mobile internet akan mendorong pertumbuhan penjualan perangkat nirkabel.

Pada 2013, Dev memprediksi penjualan wireless dongle diperkirakan akan tumbuh 47,5 persen CAGR (compounded annual growth rate), sementara ponsel cerdas akan tumbuh sekitar 16,1 persen CAGR dan komputer tablet tumbuh 11,6% CAGR. “Kondisi pasar yang semakin kompetitif mendorong pelaku industri telekomunikasi untuk bertransformasi guna mempertahankan pertumbuhan,” katanya.

Layanan data seluler, menurut Dev, akan menawarkan nilai tambah yang dapat menjadi sumber pendapatan penting bagi operator. Dia menuturkan dari total pendapatan penyedia jasa telekomunikasi di Indonesia senilai Rp135 triliun, sebanyak 38 persennya merupakan pendapatan dari layanan data. Sementara pelanggan layanan data seluler pada 2012 telah melebihi 250 juta orang.

Pasar Terbuka

Tidak hanya perputaran uang yang cukup besar, namun juga pasar di sektor telekomunikasi juga cukup terbuka. Mantan Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno menilai bahwa penetrasi telekomunikasi sudah melebihi populasi di Indonesia, 110%. Saat ini jumlah penduduk Indonesia 240 juta, sedangkan pelanggan telepon seluler (GSM dan CDMA) 276 juta. Yakni, pelanggan Telkomsel mencapai 105 juta, Indosat 51,5 juta, XL 43,5 juta, Tri 16 juta, Axis 15 juta, Flexi Telkom 18 juta, Esia 14 juta, Smartfren 7 juta, dan Smart 6 juta.

Meski demikian, peluang pasar masih terbuka lebar karena pendapatan per kapita sudah di atas US$ 3.000 atau Rp 2,25 juta per bulan. Sebanyak 56,5% penduduk belanja US$ 4-5 atau Rp 27-36 ribu per hari. Di tambah lagi, populasi penduduk berusia muda (15-44 tahun) sekitar 49%, yang merupakan pasar telekomunikasi. “Jadi, tak mengherankan kalau investor terus menyerbu industri telekomunikasi nasional. Pada 2001, di Indonesia baru ada empat operator, kini ada 11 operator telekomunikasi” ujar Sarwoto.

Tingkat penetrasi telekomunikasi juga telah melampaui jumlah penduduk. Tercatat tingkat penetrasi Indonesia mencapai 110% jauh lebih baik dibandingkan dengan Jepang 99%, India 80%. Namun, kata dia, Indonesia masih kalah dibandingkan dengan Malaysia yang mencapai 133% dan Thailand mencapai 116%.