BI Mencatat Surplus Rp5,82 Triliun

Laporan Keuangan 2012

Senin, 20/05/2013

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatatkan surplus setelah pajak sebesar Rp5,82 triliun dalam Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia (LKTBI) 2012, yang mendapat predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada akhir April 2013 lalu. Surplus tersebut berbeda dengan kondisi selama tiga tahun sebelumnya, di mana bank sentral mengalami defisit sampai Rp25,15 triliun pada 2011, defisit sebesar Rp21,16 triliun di 2010, dan di 2009 defisit Rp1 triliun. “Predikat opini WTP selama sepuluh tahun berturut-turut dari BPK membuktikan komitmen BI untuk senantiasa mengelola keuangan secara transparan dan akuntabel. Pemeriksaan LKTBI 2012 oleh BPK dimulai pada 4 Februari 2013, dan pada 30 April 2013 BI menerima Laporan Hasil Pemeriksaan BPK,” kata Mubarakah, Direktur Eksekutif Departemen Keuangan Intern BI, ketika ditemui di Jakarta, Jumat (17/5) pekan lalu.

Surplus yang terjadi, tambah Mubarakah, dikarenakan adanya penurunan beban operasi moneter yang signifikan pada 2012, yaitu menjadi sebesar Rp19,01 triliun, dari nilai di 2011 yang sebesar Rp30,09 triliun. Dalam LKTBI 2011 memang tercatat bahwa BI mengalami defisit cukup besar, terutama sebagai konsekuensi dari tingginya beban sebagai pelaksana kebijakan di sektor moneter. Selama 2012, bagian terbesar dari beban BI terdapat pada beban pengendalian moneter sebesar Rp19,27 triliun atau 60,33% dari total beban BI yang sebesar Rp31,94 triliun. Beban operasi moneter selama periode tersebut menurun sebesar Rp11,09 triliun (36,84%) dibandingkan periode sama tahun 2011 yang sebesar Rp30,09 triliun. “Besarnya penurunan beban operasi moneter pada 2012 terutama disebabkan oleh meningkatnya porsi penyerapan ekses likuiditas rupiah melalui operasi moneter valas (sterilisasi), serta penurunan BI rate,” ujarnya.

Dia menerangkan kalau BI mencatatkan surplus di satu periode bukan karena bertujuan utama untuk mendapatkan itu. “Juga jika BI membukukan defisit itu bukan karena manajemen tidak benar dalam mengelola keuangan BI. Tapi karena ini merupakan konsekuensi dan dampak dari pelaksanaan kebijakan yang ditempuh guna mencapai tujuan BI yakni memelihara kestabilan nilai tukar rupiah,” terangnya. Posisi dana yang tersimpan dalam instrumen-instrumen Operasi Pasar Terbuka (OPT) BI juga menurun dari Rp403,35 triliun pada 2011, menjadi Rp344,57 triliun pada akhir 2012. Kisaran BI rate pada 2012 yaitu 5,75%-6,00%, sedangkan pada 2011 yaitu 6,00%-6,75%.

Sedangkan total aset atau aktiva BI di akhir 2012 mencapai Rp1519,53 triliun, atau meningkat 10,76%, daripada aset di akhir 2011 yang sebesar Rp1371,84 triliun. Dari jumlah ini, yang terbesar berupa surat berharga, yang nilainya mencapai Rp874,34 triliun, meningkat dari nilai di periode sama 2011 yang sebesar Rp843,13 triliun. Kemudian, total ekuitas tercatat mencapai Rp166,47 triliun, atau naik 85,85%, dibandingkan tahun 2011 yang sebesar Rp89,57 triliun. Rasio modal sebelum dikurangi sisa surplus yang menjadi bagian pemerintah adalah sebesar 3,14%, dengan total nilai kewajiban mencapai Rp1353,06 triliun atau meningkat 5,52%, dibandingkan tahun 2011 yang sebesar Rp1282,27 triliun. “Rasio modal meningkat karena pengaruh dari surplus tadi,” imbuhnya.

Kewajiban BI belakangan ini meningkat cukup besar disebabkan surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali atau reverse repo Surat Berharga Nasional (SBN). Nilainya mencapai sekitar Rp99,59 triliun, atau naik 44,85%, daripada akhir 2011 yang sebesar Rp68,75 triliun. Sedangkan reverse repo SBN yang dipegang BI di sisi aset mencapai Rp252,76 triliun, atau menurun sebesar 2,38%, dibandingkan akhir 2011 yang sebesar Rp258,78 triliun. Sementara, total nilai SBN yang dipegang BI yang tercatat di sisi aset, telah mencapai Rp108,43 triliun atau meningkat 31,58%, dibandingkan akhir 2011 yang sebesar Rp 82,40 triliun.

Menurut dia, perkembangan tersebut sejalan dengan strategi BI untuk secara perlahan mengganti Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan SBN. Strategi yang telah digenjot sejak awal tahun lalu tersebut nantinya akan membuat SBN menjadi instrumen moneter utama yang digunakan BI. “Jadi kami tidak lagi menerbitkan SBI, nantinya SBI lama-lama hilang seperti halnya bank-bank sentral lainnya di dunia. Tapi, tidak seperti bank, kami harus memikirkan strategi operasi moneternya terlebih dahulu jika hendak masuk ke pasar SBN. Sebab, kami membelinya dalam jumlah besar,” tuturnya.

Kemudian, selama 2012, BI melakukan pembelian emas seberat 30 ribu troy ons atau 933 kilogram. Dengan demikian, total simpanan emas bank sentral mencapai 2,37 troy ons atau 73,93 ton pada akhir 2012. Dari emas seberat itu, maka dalam neraca aktiva BI per 31 Desember 2012, tercatat nilai aset dalam bentuk emas sebesar Rp38,24 triliun, atau mengalami peningkatan dari Rp33,51 triliun pada akhir 2011. “Kalau bicara emas, jangan dibayangkan semua kepemilikan BI berwujud fisik emas batangan, tetapi sebagian ada yang berupa surat berharga yang underlying emas,” pungkasnya. [ria]