Mayoritas Total DHE Masuk Bank Devisa Dalam Negeri

Senin, 20/05/2013

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa sebanyak 84% atau mayoritas dari total devisa hasil ekspor (DHE), atau senilai Rp32 miliar, di triwulan I 2013 sudah masuk ke bank-bank devisa di dalam negeri. Persentase ini selalu naik sejak BI mengeluarkan aturan tentang kewajiban eksportir melaporkan atau melewatkan DHE-nya di perbankan dalam negeri, setelah selama ini lebih banyak yang menyimpannya di perbankan luar negeri. "Tahun 2011 itu porsi DHE yang masuk ke bank devisa domestik itu sekitar 80% dari total DHE yang diterima oleh eksportir kita. Di 2012, mulai triwulan pertama sejak BI menerbitkan aturan DHE, pelan-pelan dia meningkat menjadi 80,6%, di triwulan kedua naik menjadi 82,2%, di triwulan ketiga dan keempat naik lagi menjadi 84%, sehingga overall di 2012 itu sekitar 83%. Gambaran angka di triwulan pertama 2013 ini lumayan membaik walaupun tipis, sudah hampir 84%, yakni sekitar Rp32 miliar,” tutur Doddy Zulverdi, Kepala Grup Neraca Pembayaran Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, ketika ditemui di Jakarta, Jumat (19/5) pekan lalu.

Dia menambahkan kalau jumlah DHE yang terpantau BI adalah sesuai dengan yang tercatat di Bea Cukai. Karena kalau nilai ekspor turun, otomatis DHE-nya juga harus turun. Tapi BI memang berkeinginan supaya porsi DHE yang masuk perbankan dalam negeri bisa semakin meningkat, bahkan mencapai 100%. “DHE ini kebanyakan masuk melalui bank-bank pemerintah. Kalau secara sektor, kontribusinya masih seperti sebelumnya, karena 50% ekspor nonmigas kita masih banyak di barang-barang primer kan, seperti di batubara dan sawit yang masih dominan, serta tekstil juga naik akhir-akhir ini,” katanya. Dengan adanya DHE yang masuk ke perbankan dalam negeri tersebut sudah barang tentu akan meningkatkan simpanan valas mereka yang sewaktu-waktu dapat diminta lagi oleh si eksportir jika dia mau mengimpor barang dari luar negeri.

“Misalnya eksportir nonmigas, dia masukkan DHE-nya ke bank, katakanlah nilainya Rp1 miliar. Asumsinya pada waktu itu tidak ada lagi klaim impor, berarti neraca transaksi berjalan (bank) surplus Rp1 miliar. Maka yang kita debit nanti simpanan valas bank tersebut sebagai asetnya. Cuma karena aset bank itu dalam neraca pembayaran adanya di transaksi finansial, maka sebagai debit tandanya harus negatif, sedangkan kredit harus positif. Kalau bank menambah asetnya dengan simpanan valas di luar negeri, dan ini sifatnya sangat likuid, karena memang tujuannya untuk menjaga likuiditas, kalau-kalau si eksportir butuh valasnya lagi, maka bank harus siap sedia untuk itu.” paparnya.

Kenapa itu bisa disebut sebagai simpanan valas si bank di luar negeri, yakni karena bank-bank devisa di dalam negeri ini pasti punya hubungan korespondensi dengan bank-bank di luar negeri. Misalkan valas itu masuk ke Bank Mandiri tidak dalam bentuk segepok uang kertas, melainkan hanya pola transfer yang nantinya akan ada pemindahan antarrekening. “Misalnya kelapa sawit diekspor oleh satu perusahaan di Indonesia ke Belanda, dia tinggal minta debit saja rekeningnya di ABN Amro Bank sana untuk dipindahkan ke rekening Mandiri, dan Mandiri biasanya juga punya rekening di Citibank New York misalnya, kemudian akan dia minta ditaruh di sana. Itu yang kemudian menjadi rekening giro Bank Mandiri di Citibank New York. Intinya ini adalah pertambahan cadangan devisa (cadev), tapi yang di tangan bank,” ujar dia.

Sementara kalau ekspor migasnya dilakukan oleh pemerintah, misalnya Pertamina, itu akan masuk ke dalam pencatatan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) di BI. “Kalau misalkan ekspor migas yang menjadi bagian pemerintah, katakanlah Rp5 miliar, dan devisanya itu masuknya ke BI. Pencatatannya di BI yaitu ekspor tercatat Rp5 miliar, maka itu akan muncul di transaksi berjalan sebagai surplus sejumlah itu, seandainya tidak muncul hal-hal lain seperti impor. Tapi lawannya secara akunting harus ada, ekspor itu kita kirim barang, dan dalam konvensinya kita catat sebagai kredit, debitnya adalah aset valas di BI atau cadev. Cadev itu mempengaruhi overall neraca pembayaran makanya ada di bawah (dalam komposisi neraca),” jelasnya.

Doddy mengakui bahwa BI itu biasa menyuplai dolar AS kepada pasar dalam rangka memenuhi kebutuhan para perusahaan pengimpor minyak. Baik itu dalam kondisi normal ataupun tidak. “Karena kemarin (Januari-Februari 2013) kondisi trade balance-nya masih memburuk dan kondisi globalnya belum membaik, serta kebutuhan valas untuk impor dan arus masuk modal itu belum cukup, sehingga untuk kita menjaga nilai tukarnya jangan terlalu lemah, maka kita masuk (ke pasar). Karena sumber tekanan dari impor minyak yang kebetulan sedang tinggi, makanya kemudian kita bantu untuk supply kebutuhan impor minyak,” ucapnya.

Dia mengatakan kalau Pertamina memang selalu impor impor minyak setiap tahun. Pada saat-saat normal, kebutuhan valas mereka untuk impor bisa dipenuhi oleh pasar, disebabkan oleh kemungkinan ekspor migas yang masih bagus, lalu ada portofolio investasi masuk yang besar, dan sebagainya. “Cuma ketika kemudian kondisi ekspornya belum begitu optimal, terutama investasi portofolio dan lainnya belum banyak masuk, walaupun Pertamina butuh dana valasnya sama saja, tapi tetap tekanannya muncul. Pertamina selalu masuk pasar karena butuh valas untuk impor itu sehingga biasanya di-supply bank dalam keadaan normal. Tapi saat bank-bank seret (valas), misal karena impor nonmigas lagi tinggi dan ekspor rendah, atau portofolio modal masuk juga lagi rendah, jadi terpaksa BI juga ikut masuk kan (ke pasar),” ungkapnya.

Menurut Doddy, intervensi bank sentral ke dalam pasar valas itu harusnya seminimal mungkin, karena kalau tidak akan membuat pembentukan harga di sana terdistorsi. “Tapi saat kondisinya tidak match di banknya maka kita masuk supaya gejolaknya tidak berlebihan di nilai tukar. Kemudian, kalau intervensi BI di pasar valas itu berdampak pada kekeringan di pasar rupiah, maka pasti akan kelihatan di suku bunga PUAB, dan sejauh ini dia tidak pernah lewat dari batasnya, bahkan kita melihatnya selalu ada di batas bawah koridor suku bunga BI kan,” tutup dia.[ria]