Investor Akan Lebih Memilih Ke Deposito

Pasar Obligasi Bakal Seret

Senin, 20/05/2013

NERACA

Jakarta – Rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi memberikan dampak terhadap terhadap pasar obligasi. Pasalnya, emiten yang bakal menerbitkan obligasi akan mengkaji dan menghitung ulang seiring dengan kenaikan inflasi.

Direktur Utama BCA Sekuritas, Mardi Henko Sutanto mengatakan, kenaikan BBM akan memaksa emiten menghitung kembali rencana penerbitan obligasi karena dikhawatirkan penyerapannya rendah, “Kenaikan BBM tentu ada dampaknya dan termasuk pasar obligasi karena bunganya akan bersaing dengan deposito,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Bahkan menurutnya, dengan kenaikan BBM tersebut, investor akan lebih memilih investasikan dananya di deposito dan Surat Utang Negara (SUN) yang dinilai lebih aman. Oleh karena itu, dirinya mengakui nantinya akan banyak dana masyarakat beralih ke deposito dan Sukuk pemerintah karena suku bunganya yang tinggi seiring inflasi yang naik akibat dampak kenaikan BBM.

Sebelumnya, analis dari PT Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo pernah bilang, isu kenaikan harga BBM memang mempengaruhi pasar obligasi di Indonesia. Bahkan dia memperkirakan akan ada penurunan volume transaksi sebesar 2%-4%. Sementara Direktur Utama PT Bahana Securities, Eko Yuliantoro, menilai prospek penerbitan surat utang (obligasi) di Indonesia masih cukup baik. Ini dengan catatan sepanjang inflasi masih dapat terkendali di tengah ekspektasi dari kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi."Obligasi masih mempunyai prospek yang bagus. Namun secara makro, inflasi yang tidak terkendali akan berdampak negatif terhadap obligasi," ujarnya.

Eko berharap pemerintah dapat menjaga kestabilan inflasi sehingga dapat memberi kepastian pada para investor obligasi. "Investor tidak menyukai sesuatu yang tidak dapat diperkirakan, yang penting sepanjang dapat diprediksi dan nilai kuponnya 'plus-minus' masih diminati oleh para investor," jelasnya.

Sedangkan Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar yang mengatakan, penurunan peringkat Indonesia menjadi stabil oleh lembaga pemeringkat S&P tidak mempengaruhi minat investor asing terhadap penerbitan surat berharga negara, “Kalau ke obligasi saya rasa tidak terlalu (berpengaruh) karena sekarang dunia itu sedang kelebihan likuiditas dan mereka memerlukan instrumen untuk investasi," ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Hoesen pernah bilang, peringkat surat utang pemerintah Indonesia di level layak investasi (investment grade) akan memberikan sentimen positif untuk penawaran obligasi korporasi domestik."Penawaran obligasi sendiri masih akan semarak di 2013 maka diperkirakan nilai emisi penerbitan obligasi korporasi tahun ini dapat mencapai Rp 50 triliun," tuturnya.

Sebagai informasi, data BEI mencatatkan, total emisi obligasi dan sukuk telah tercatat sepanjang 2013 sebanyak 19 emisi dari 16 emiten senilai Rp 19,41 triliun.Sementara, total emisi obligasi dan sukuk tercatat di BEI berjumlah 218 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp 198,02 triliun dan US$ 100 juta yang diterbitkan oleh 93 emiten. Surat Berharga Negara (SBN) yang telah tercatat di BEI berjumlah 90 seri dengan nilai nominal Rp 859,17 triliun dan lima Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp 1,83 triliun. (bani)