Menperin Khawatirkan Pasokan Energi - Sektor Industri Manufaktur Tumbuh Pesat

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian MS Hidayat menyatakan penyediaan energi harus diwaspadai seiring dengan pertumbuhan sektor industri manufaktur. Menurutnya, seiring dengan semakin tumbuhnya industri manufaktur nasional, semakin tinggi pula kebutuhan industri akan kebutuhan energi. “Ini yang harus diingat, pertumbuhan industri akan membawa konsekuensi pemakaian bahan energi yang meningkat. Jadi supply energi harus diwaspadai,” kata Hidayat di Jakarta, akhir pekan lalu.

Seperti pasokan listrik, pihaknya berharap PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) bisa menjaga kualitas pasokan listrik untuk industri. Pasalnya, belakangan terdengar keluhan industri yang menyatakan tegangan listrik PLN seringkali turun naik.

Berdasarkan data PLN, penjualan listrik pada April 2013 tumbuh 10,58% dibandingkan penjualan pada April 2012. Adapun pertumbuhan konsumsi listrik kelompok pelanggan industri mencapai 9%. Terutama industri besar dengan daya 200 Kilo Volt Ampere seperti pabrik tekstil, kimia, baja dan semen. Sedangkan pertumbuhan kelompok pelanggan bisnis sebesar 5,4% hingga akhir April ini.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan gangguan tersebut (tegangan listrik naik turun) dialami oleh hampir semua pelaku industri petrokimia dari hulu hingga hilir. Tiap pabrik rata-rata bisa berhenti beroperasi sebanyak 3 kali dalam kuartal pertama.

Menurutnya, tegangan listriknya naik turun sangat berpengaruh karena produksi petrokimia sensitif terhadap listrik. Jadi, bila tegangannya naik atau turun sedikit saja, industri bisa menghentikan produksi.

Penurunan kualitas pasokan listrik ini justru mulai dirasakan sejak awal Januari ketika harga listrik mulai dinaikan. Pelaku industri petrokimia pun mempertanyakan mengapa kenaikan harga tidak diiringi dengan kehandalan kualitas.

Contoh Jepang

Sebelumnya Dirjen Basis Industri Manufaktur, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Panggah Susanto mengungkap pentingnya ketersediaan energi bagi keberlangsungan sektor industri dinilai perlu dioptimalkan dengan menyatukan satu kebijakan dalam satu Kementerian. \"Harusnya kita contoh Jepang yang Kementerian Industri dan Energinya menyatu dalam satu Kementerian.

Panggah menambahkan, negara Jepang sadar akan pentingnya ketersedian energi dan sektor industri diatur lewat satu atap Kementerian. Dengan begitu, kendala ketersediaan energi khususnya alokasi gas bagi kebutuhan kinerja operasi. \"Industri tanpa energi itu tidak bisa berbuat banyak. Jepang sudah membuktikan hal tersebut dengan membangun industri yang juga mengelola ketersedian energi dalam satu Kementerian,\" tutur Panggah.

Dia menyampaikan, keinginan sektor industri kini adalah mengenai alokasi gas yang jelas dan harga yang tidak berfluktuatif. Karena itu ia berharap agar PT Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai trader dan transporter memastikan ketersedian pasokan gas yang baik dan harga yang murah bagi kalangan industri.\"Yang penting industri itu harga murah dan pasokannya jelas. Tapi kalau pun memang mahal ya tolong suplai gasnya juga pasti,\" ujarnya.

Panggah mengungkap kalau sampai saat ini Indonesia hingga kini masih sangat tergantung pada industri minyak dan gas bumi (migas) sebagai penutup pendapatan negara. Padahal kemajuan suatu negara bisa maju pesat jika sektor industri dan jasa maju pesat dan bukan dari hasil penjualan Migas dengan volume besar. Karena itu, cara Indonesia mengurus sektor migas bisa dikatakan sebagai cara yang kuno.

Lebih jauh lagi Panggah memaparkan, Uni Emirates Arab yang dulunya mengandalkan 80% pendapatan negara dari Migas, sekarang kebalikannya, hanya 20%. Sekarang ini 80% disandarkan pada sektor industri dan jasa.

Menurut Panggah, pemerintah Indonesia masih memegang pemahaman lama bahwa minyak dan gas merupakan faktor utama penutup pendapatan negara. Alih-alih mengoptimalkan penggunaan energi untuk industri, pemerintah masih mengandalkan energi sebagai pendongkrak perekonomian.\"Kita belum mampu mengubah pemikiran bahwa energi jangan dijadikan satu andalan. Energi itu ibarat darah kita. Kalau dijual kita kurang darah, bisa rentan sekali terkena penyakit,\" terang Panggah.

BERITA TERKAIT

Realisasi Subsidi Energi Lampaui Pagu Anggaran

  NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan realisasi subsidi BBM dan LPG dalam APBN pada…

Penjualan Fajar Surya Wisesa Tumbuh 50%

Hingga September 2018, PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) membukukan penjualan bersih senilai Rp7,45 triliun atau meningkat 50% year on…

Penerimaan Pajak Diperkirakan Tumbuh 17,4%

    NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Robert Pakpahan memperkirakan penerimaan pajak hingga akhir Desember 2018…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Laboratorium Pengujian di Era Disrupsi Teknologi

NERACA Jakarta -  Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), Imam Haryono mengatakan saat ini, pemerintah Indonesia…

Terkait Kemajuan Digital - RI Dapat Topang Asia Jadi Garda Depan Transformasi Industri 4.0

NERACA Jakarta – Implementasi industri 4.0 di kawasan Asia dinilai dapat membangkitkan kontribusi sektor manufaktur dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi bagi…

Ketahanan Pangan Harus Jadi Fokus Pembenahan

NERACA Jakarta – Salah satu hal yang layak untuk diprioritaskan dalam program para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden…