Kebangkitan Ekonomi Indonesia?

Hari ini (20 Mei) tepat peringatan kelahiran Boedi Oetomo 105 tahun yang lalu, dimana merupakan tonggak awal tumbuhnya rasa nasionalisme Indonesia. Saat itu bangsa kita benar-benar mengalami penjajahan kolonialisme, sehingga muncul perlawanan terhadap kesenjangan dan ketidakadilan di zaman kolonial itu yang patut dikikis habis oleh para pejuang kita tanpa pamrih.

Ketika itu pembangunan solidaritas kebangsaan bertransformasi secara bertahap dari nasionalisme kultural menjadi nasionalisme politik, dan yang terakhir ini bersifat lintas kultural bernama Indonesia. Ini menunjukkan pergerakan nasional adalah sebuah gerakan kesatuan yang kolektif dan tidak didasari atas kultur, ideologi, atau agama tertentu.

Artinya, Indonesia dibangun sejak awal dengan semangat pluralisme yang tidak menganakemaskan golongan tertentu. Pergerakan nasional mencita-citakan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang didasari kemajemukan kultur dan agama yang hidup di negeri ini.

Setiap individu memiliki kebebasan sepanjang tidak merugikan orang lain dan melanggar kontrak yang disepakati. Karena itu, memahami kebangkitan nasional termasuk ekonomi berarti juga bertaruh pikiran dan tenaga untuk membahagiakan dan memuliakan seluruh anak bangsa ini.

Namun setelah lebih dari satu abad berdirinya Boedi Oetomo, Indonesia selalu menghadapi tantangan yang terus menerus berat. Korupsi, kekerasan, dan berbagai potret buram dalam kehidupan negara menjadi cermin dari merosotnya moral, yang pada akhirnya menjurus pada kerapuhan ekonomi nasional.

Padahal kita seharusnya sadar, bahwa abad ke-21 milik Asia. Indonesia yang berada dalam pusaran regional semestinya tidak menyia-yiakan kesempatan bagus ini. Kebangkitan ekonomi Asia didorong oleh munculnya industrialisasi, urbanisasi, dan perdagangan dunia yang tumbuh pesat sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi di China dan India.

Apalagi, jumlah penduduk dua negara tersebut lebih dari sepertiga penduduk bumi, membuat kebangkitan ekonomi di China dan India mampu mengubah peta ekonomi dunia, kekuatan ekonomi dunia bergeser, dari Barat ke Timur. Tapi Indonesia tetap masih tertinggal, kenapa?

Momen peringatan kebangkitan nasional seperti ini kerap menumbuhkan spirit baru dalam menghidupi negara. Namun ternyata spirit itu cepat menguap, karena ketidakberdayaan sebagian besar petinggi negara membangkitkan nalar positif, dengan prasyarat ideal berupa keadilan dan kesejahteraan bersama bagi semua komponen bangsa Indonesia.

Jika kondisi itu terus berlangsung maka kita patut khawatir soal keberlangsungan negara ini. Kerusakan nalar positif masyarakat akan memicu kerugian besar dalam kehidupan negara dan demokrasi. Legitimasi kekuasaan akan memudar dan negara menjadi sosok yang tidak jelas, yaitu ada negara tetapi tidak kuat. Untuk itulah, kita patut mewujudkan usaha-usaha serius melalui spirit kebangkitan dan terus memperjuangkan kemerdekaan ekonomi di waktu mendatang.

Karena itu, kini saatnya segenap elemen bangsa baik pemerintah maupun rakyat, perlu bergotong royong memperbaiki kehidupan ekonomi negara. Pemerintah perlu mengokohkan otoritas negara dengan supremasi hukum, sementara rakyat memperkuat modal sosial sehingga salah satunya mendorong keterciptaan kehidupan yang toleran dan demokratis sesuai UUD 1945 dan Pancasila. Semoga!

BERITA TERKAIT

Wapres Dorong Peningkatan Kerjasama Ekonomi Negara D8

    NERACA   Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, Indonesia akan mendorong peningkatan kerja sama ekonomi dalam KTT…

Solusi Alami Kendalikan Pemanasan Global di Indonesia

Oleh: Genta Tenri Mawangi Pemanasan global telah menjadi masalah masyarakat dunia, karena dampaknya dianggap tengah terjadi di banyak negara. Dalam beberapa…

Indonesia Pacu Tiga Sektor Manufaktur Jepang Tambah Investasi - Penanaman Modal di Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus mendorong para pelaku industri Jepang skala menengah untuk terus berinvestasi di Indonesia. Terdapat tiga…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Beban Utang Negara

Menkeu Sri Mulyani Indrawati menegaskan masyarakat tak khawatir terhadap kebijakan pemerintah untuk berutang. Alasannya, utang merupakan responsibility choice dan strategi…

Awas Korupsi di Desa

Membanjirnya anggaran negara ke desa pada hakikatnya bertujuan mulia, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Namun pada kenyataannya, banyak aparat…

Apresiasi Kinerja Jokowi-JK

Memasuki usia ke-3 tahun pemerintahan Jokowi-JK, masyarakat sudah merasakan dinamika pembangunan yang positif. Tidak heran jika pemerintah mengklaim pertumbuhan ekonomi,…