Waspadai, Depresiasi Rupiah Makin Liar

AKIBAT DEFISIT TERUS MELEBAR

Senin, 20/05/2013

Jakarta - Kalangan pengamat dan akademisi menilai, depresiasi rupiah terhadap dollar AS yang konstan terjadi sejak Januari 2012 hingga 17 Mei 2013 merupakan sebuah sinyal rapuhnya neraca transaksi berjalan Indonesia. Ini yang membuat nilai rupiah bergerak liar sendirian di antara mata uang negara ASEAN lainnya selama periode tersebut.

NERACA

Berdasarkan hasil riset Investment Research UBS, bank besar di Swiss, pekan lalu, menunjukkan bahwa hanya rupiah yang melemah terhadap dolar AS di antara negara ASEAN lainnya. Sebaliknya pergerakan kurs dolar Singapura, ringgit Malaysia, baht Thailand, peso Filipina, menunjukkan tren yang menguat selama periode Januari 2012 hingga 17 Mei 2013. Padahal sebelumnya, posisi nilai tukar mata uang lima negara ASEAN seragam stabil selama tahun 2011. Namun, sejak Januari 2012, kurs rupiah bergerak liar sendirian terhadap US$.

Data Bank Indonesia (BI) memperlihatkan kondisi rupiah memang stabil selama 2011 berada di kisaran Rp 8.931 hingga Rp 8.990 per dolar AS. Namun mulai Januari 2012, nilai tukar rupiah yang semula Rp 9.079 terus meluncur melemah menjadi Rp 9.714 per US$ pada 17 Mei 2013. Pelemahan kurs rupiah disebabkan neraca transaksi berjalan Indonesia hingga kuartal I-2013 mengalami defisit US$6,6 miliar. Sementara Thailand, Singapura, Filipina, dan Malaysia mengalami surplus pada periode yang sama.

Menurut Dody Budi Waluyo, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Moneter BI, bahwa untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, BI tidak punya target tertentu soal itu harus sampai batas berapa. Tetapi, katanya, BI akan menjaganya di level fundamental nilai tukar, serta akan menjaga volatilitasnya, dengan setiap saat ada di pasar.

“Dari sisi kebijakan untuk intervensinya tidak berubah, kita akan terus membantu kepada pasokan valas di pasar. Kita tahu di situ ada perusahaan besar, seperti Pertamina dan PLN, dan kita akan bantu dalam hal pasokan (valas)nya,” katanya kepada Neraca, akhir pekan lalu.

Namun dia mengakui, ada pengaruh dari berbagai faktor di dalam dan luar negeri terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. “Pertama (dari dalam negeri), ekspektasi terhadap kebijakan BBM masih belum clear, artinya dari masyarakat sendiri masih menunggu kejelasan itu. Kalau dari sisi eksternalnya memang gambaran dari triwulan pertama juga mempengaruhi, walau sebenarnya outlook untuk triwulan kedua akan lebih baik, “ ujarnya.

Jadi, tutur dia, sangat banyak faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah, bukan hanya dari persoalan neraca pembayaran. “Masalah BBM juga mempengaruhi ekspektasi (pasar) dari rencana pemerintah, dan BI cukup yakin dengan outlook neraca pembayaran Indonesia (NPI) ke depan seandainya kebijakan BBM itu diimplementasikan akan berpengaruh positif kepada neraca perdagangan dan transaksi berjalan kita, termasuk nilai tukar rupiah,” tuturnya.

Rekannya, Doddy Zulverdi, Kepala Grup Neraca Pembayaran Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter BI mengatakan, defisit transaksi berjalan memang tidak serta merta mengakibatkan nilai tukar rupiah melemah, tapi dengan syarat neraca modal dan finansialnya harus mencukupi untuk menutupi defisit transaksi berjalan.

“Misalnya defisit transaksi berjalan bisa saja menjadi Rp10 miliar, tapi yang penting (neraca) di bawahnya yaitu neraca modal dan finansial harus surplus. Tapi yang repot kalau dari sisi itu tidak cukup. Nah, ini yang harus kita waspadai, dan sedapat mungkin yang bisa buat kita aman adalah kalau neraca finansial itu terutama ditutupi oleh dana jangka panjang, misal PMA, dan kalau perlu utang adalah juga yang berjangka panjang,” paparnya.

Menjawab pertanyaan apakah neraca transaksi berjalan Indonesia yang terburuk jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, Zulverdi mengakui jika neraca transaksi berjalan Indonesia memang yang defisit sendirian, sedangkan Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina mengalami surplus. “Sehingga otomatis nilai tukar mereka bisa lebih tahan dari gejolak pasar global dibandingkan kita yang transaksi berjalannya sudah defisit,” ujarnya.

Walau demikian, menurut dia, apabila suatu saat defisit di transaksi berjalan Indonesia lewat dari 3%, namun itu tidak akan langsung membuat kondisi perekonomian berantakan. “Karena harus ada kombinasi kondisi lain yang menyebabkan defisit transaksi berjalan negatif. Misalnya di India, tidak kemudian ambruk negaranya, walau sekarang defisitnya bisa 5%-6% dari PDB,” ujarnya.

Neraca transaksi berjalan memperlihatkan komposisi ekspor-impor, juga arus modal dan arus keluar. Jika ekspor melebihi impor dan arus modal masuk melebihi arus keluar, akan terjadi surplus, begitu juga sebaliknya. Neraca transaksi berjalan yang surplus akan mendorong apresiasi kurs mata uang.

Daya Saing

Menurut guru besar Universitas Satyawacana Prof Dr Hendrawan Supratikno, nilai rupiah yang terus terdepresiasi akhir-akhir ini perlu dicermati oleh pemerintah. Terlebih sampai dengan saat ini belum ada tanda-tanda perbaikan, baik dari internal maupun eksternal sehingga sampai akhir 2013, nilai tukar rupiah terhadap US$ diperkirakan masih akan terus mengalami pelemahan. \"Salah satu akar permasalahan utamanya yaitu karena daya saing produk Indonesia yang sampai saat ini terus mengalami penurunan.\" ujarnya.

Hal itu, lanjut dia, tercermin dari indeks daya saing Indonesia yang mengalami penurunan dari peringkat 44 menjadi 50. \"Ekspor kita bukan hanya komoditas seperti crude palm oil (CPO) yang turun, namun secara keseluruhan ekspor saat ini lebih kecil ketimbang impornya yang deras masuk ke dalam negeri,” ujarnya.

Selain itu sampai dengan saat ini Indonesia juga terjebak bukan hanya pada neraca transaksi pembayaran dan perdagangan yang mengalami defisit, namun juga APBN mengalami defisit. \"Yang terjadi saat ini bukan lagi defisit kembar (twin deficit), tapi juga ditambah adanya kebocoran anggaran dan korupsi sehingga menyebabkan APBN terus defisit.\" ujarnya.

Sementara dari faktor eksternal, lanjut dia, terjadi persaingan antarnegara sehingga memunculkan kekhawatiran perang kurs. Seperti diketahui AS saat ini terus mendesak Tokyo untuk menahan diri agar tidak menerapkan devaluasi, dan tidak menargetkan nilai tukarnya untuk tujuan bersaing.

Salah satu penyebab merosotnya nilai rupiah terhadap US$, menurut Rektor Kwik Kian Gie (KKG) School Prof Dr Anthony Budiawan, adalah terjadinya defisit pada neraca perdagangan di sektor ekspor impor dan defisit pada neraca modal yang terjadi pada kuartal I- 2013 ini. \"Untuk neraca perdagangan dan modal ini sangat memerlukan dollar, jadi arus keluar itu lebih banyak ini yang menyebabkan depresiasi rupiah,\" ujarnya.

Solusinya, menurut Anthony, adalah dengan memperkuat daya saing industri dan meningkatkan jumlah ekspor. \"Ekspor di Indonesia kan tergantung dari beberapa komoditas besar seperti kelapa sawit, karet dan batu bara, jika barang industri turun maka kita akan kalah bersaing oleh negara lain,\" ujarnya.

Pengamat ekonomi Indef Prof Dr Didiek J Rachbini mengatakan, depresiasi rupiah yang cukup tajam terjadi dalam setahun terakhir terutama adalah karena impor BBM yang semakin tidak terkendali.

“Impor BBM yang banyak bikin depresiasi rupiah. Lalu BBM diselundupkan dan diselewengkan. Konsumsi BBM yang banyak ini juga karena harga yang murah. Masyarakat mudah saja membeli BBM karena murah sehingga konsumsi meningkat yang berarti meningkatkan impor BBM,” ujarnya, kemarin.

Menurut dia, masalah depresiasi rupiah adalah persoalan ekspor impor. Artinya, jika ingin nilai rupiah menguat, segera tingkatkan ekspor dan kurangi impor. Impor yang paling penting adalah mengurangi impor BBM.

Ekonom UGM Sri Adiningsih menilai, depresiasi yang terjadi pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akibat defisit neraca pembayaran. \"Saat ini, Indonesia tidak hanya dihadapi dengan defisit neraca perdagangan dimana lebih banyak impor dari pada ekspor. Akan tetapi Indonesia juga dihadapi defisit neraca pembayaran yang mengakibatkan nilai tukar menjadi remuk,\" ujarnya.

Menurut ekonom Bank BNI Ryan Kiryanto, salah satu alasan rupiah melemah saat ini adalah karena pasar yang merespon negatif neraca transaksi berjalan yang defisit. \"Pasar kurang merespon serta kebijakan BBM yang sampai saat ini belum jelas kepastiannya,\" ujarnya.

Adapun harus dilakukan BI, menurut dia, adalah mengupayakan agar rupiah bisa kembali ke kisaran Rp 9.500 per US$. Ini agar kredibilitas mata uang Indonesia kembali terangkat. \"Indonesia harus membenahi fundamental ekonomi dan menciptakan surplus neraca transaksi berjalan serta mempercepat pengurangan subsidi BBM agar fiskal lebih sehat,\" ujarnya. lia/ria/sylke/iqbal/bari

Tabel Kurs Beli Rupiah Terhadap US$

Tanggal Kurs Beli

3 Jan. 2011 8.931

30 Juni 2011 8.554

16 Des. 2011 8.990

2 Jan. 2012 9.079

29 Juni 2012 9.433

28 Des. 2012 9.622

2 Jan. 2013 9.637

1 April 2013 9.686

17 Mei 2013 9.714

Sumber: Data Bank Indonesia