80% Kajian Pengurangan Lot Saham Rampung

Menunggu Keputusan OJK

Senin, 20/05/2013

NERACA

Jakarta –Rencana PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pengurangan lot saham di pasar modal dalam rangka meningkat likuiditas saham, kajiannya sudah mendekati final. Hanya saja, kebijakan pengurangan lot saham dari 500 menjadi 100 masih menunggu keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Direktur Utama BEI, Ito Warsito mengatakan, realisasi pengurangan jumlah lot saham tinggal menanti persetujuan OJK, “Itu tinggal menanti persetujuan final dari OJK, secara prinsip OJK setuju, tapi tetap saja melewati proses administrasi dan tata caranya,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurut Ito, proses pengurangan jumlah lot saham hingga saat ini sudah 80%. Tergetnya akan selesai pada akhir semester pertama tahun ini, diharapkan berlaku efektif di akhir tahun 2013,”Sehingga untuk persiapan kami (BEI) terus lakukan. Persiapan sistem dalam arti back office, anggota bursa juga harus siap untuk perubahan sistem untuk penurunan besaran lot (saham). Kalau sistem di bursa gampang, tapi vendor juga harus menyiapkan sistem, investor dan juga publik harus mengetahui tentang ini," ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, penurunan jumlah lot saham ini juga sudah bisa diterima oleh investor dan anggota bursa, sehingga tidak ada masalah ke depannya. Jika aturan ini berlaku, kata Ito, beberapa pihak terkait seperti anggota bursa, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan vendor, juga harus menyiapkan pembaharuan sistem.

Selain itu, aturan baru ini harus segera disosilisasikan kepada masyarakat luas juga agar berjalan dengan baik. Sebelumnya, Kepala Pengawasan Pasar Modal OJK, Nurhaida pernah bilang, pengurangan jumlah lot saham masih dalam kajian dengan beberapa pihak pasar modal.

Menurutnya, kajian yang dilakukan juga terkait dengan sistem perdagangan di bursa, perusahaan efek, serta investor. Diharapkan, untuk sistem perdagangan di Bursa diperkirakan tidak ada masalah.

Dirinya menegaskan, setelah kajian peraturan terkait penurunan jumlah saham dalam lot itu selesai, pihaknya akan melontarkan ke publik untuk menambah masukan, “Diharapkan kajiannya selesai tahun ini, namun tidak bisa ditargetkan. Dalam kajian masih ada perdebatan, seperti apakah penurunan jumlah saham itu akan efektif dikarenakan harga saham domestik juga masih cukup banyak yang nilainya kecil," jelasnya.

Sementara Direktur PT Evergreen Capital, Rudy Utomo menilai likuiditas perdagangan saham berpotensi meningkat jika bursa mengubah jumlah saham dalam satuan lot dari 500 saham menjadi 100 saham.

Dia mencontohkan harga saham suatu emiten Rp30.000 per saham, investor harus mengeluarkan dana Rp15 juta untuk dapat mengoleksi satu lot saham salah satu emiten, “Jika jumlah saham dalam satu lot diturunkan menjadi 100 saham, dana yang dibutuhkan untuk mentransaksikan saham tersebut hanya Rp3 juta. Sehingga transaksi atas saham tersebut menjadi lebih likuid," kata Rudy. (bani)