Kemendag Bakal Tingkatkan Ekspor ke Afrika

Produk Indonesia Dikenal Lebih Murah

Senin, 20/05/2013

NERACA

Jakarta - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengungkapkan bahwa produk-produk ekspor Indonesia di Afrika cukup laku. Pasalnya produk-produk tersebut dikenal dengan harga yang murah. Dengan begitu, pihaknya akan terus berekspansi untuk meningkatkan ekspor ke Afrika. "Produk kita di pasar Afrika dikenal lebih murah atau relatif belum ada di pasar-pasar Afrika sehingga respon dari masyarakat Afrika juga cukup baik," kata Gita di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, ada beberapa produk seperti alas kaki (sepatu dan sandal), mobil, mie instant, produk-produk kelapa sawit, makanan daging dan olahan, ikan dan olahan sangat laku di pasar Afrika. Selain itu sparepart kendaraan produksi Indonesia juga laku dibeli masyarakat Afrika. "Sparepartnya iya, mobilnya juga iya. Ekspor otomotif tahun lalu kan pertumbuhannya hampir mencapai 50%. Itu ekspornya ke Afrika, Timur Tengah dan Amerika Latin," imbuhnya.

Dikatakan dia, pertumbuhan ekonomi Afrika sangat pesat. Sehingga pasar Afrika yang tergolong pasar non tradisional akan menjadi bidikan Indonesia untuk mendongkrak angka ekspor Indonesia yang masih minim. "Iya kelihatan Afrika ini dahsyat pertumbuhan ekonominya. Afrika merupakan negara 7 dari 10 negara yang perekonomiannya yang tumbuhnya paling pesat di dunia dalam satu dekade terakhir itu ada di Afrika. Kelihatan sekali produk-produk kita sangat diminati oleh mereka," katanya.

Untuk itu, kata dia, kedepannya pemerintah akan terus mencari pasar-pasar tradisional baru untuk program diversifikasi ekspor. "Tapi kalau kita lebih membutuhkan kita harus menjalankan misi-misi dagang yang lebih intensif. Kemarin kita dikunjungi oleh negara Mozambik salah satu negara yang pertumbuhannya bagus di Afrika. Dalam waktu dekat kita akan melakukan misi dagang ke beberapa negara Afrika," jelasnya.

Perluas Pasar

Sementara itu, Menteri Perindustrian MS Hidayat meminta agar diversifikasi atau perluasan tujuan ekspor dari yang sebelumnya ke Eropa menjadi Afrika dan Timur Tengah untuk menghadapi dampak krisis global. "Kita mesti melakukan diversifikasi tujuan ekspor dari pasar tradisional di Eropa ke Afrika dan Timur Tengah," katanya.

Kemenperin, kata dia, telah meningkatkan target ekspor ke Afrika dan Timur Tengah yang saat ini sekitar 14% menjadi sekitar 30%. Upaya ini dilakukan untuk mengatasi perlambatan ekonomi yang utamanya terjadi di kawasan Eropa. Dia juga menambahkan saat ini pemerintah tengah mencoba menyusun matriks perubahan regulasi untuk mendorong daya saing Indonesia.

Matriks perubahan regulasi itu nantinya juga bisa diguakan untuk menghadapi perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China (ASEAN-China Free Trade Agreement/ACFTA) pada 2015 mendatang. "Isinya harmonisasi dan juga perubahan untuk meningkatkan competitiveness kita di ASEAN," ujarnya.

Menurut dia, matriks perubahan regulasi itu, nantinya selama tiga tahun ke depan bisa secara bertahap merubah aturan, terutama terkait ongkos produksi yang saat ini cukup tinggi sehingga membuat daya saingnya rendah.

Menperin juga memproyeksikan pertumbuhan industri 2013 akan berada di kisaran 6,8 hingga 7,1%. Dengan laju pertumbuhan sebesar itu, Menperin memperkirakan bisa menciptakan sekitar 450.000 tenaga kerja baru. Selain itu, dengan laju pertumbuhan tersebut, dia juga memproyeksikan ekspor barang industri bisa mencapai sekitar US$125 miliar dan penanaman modal asing bisa mencapai US$12 miliar.

Hal senada juga diungkapkan Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan. Pihaknya, mencoba memperluas pasar UKM ke Benua Afrika melalui optimalisasi kerja sama FORSEAA (Forum of Small Medium Enterprise Africa ASEAN). “Afrika merupakan salah satu alternatif pasar ekspor yang potensial khususnya untuk produk kerajinan tangan dan garmen,” ujarnya.

Menurut Menkop, untuk masuk ke pasar itu, pemerintah (Kemenkop dan UKM) harus melakukan diversifikasi pasar karena Eropa dan Amerika sedang krisis, di samping ekonomi China juga sedang mengalami perlambatan. "Kita dorong UKM mencari market baru salah satunya masuk pasar ekspor Afrika. Kita akan fasilitasi roadshow untuk mereka," katanya.

Sebagai langkah awal, kata Syarief, pihaknya akan menjadikan Republik Seychelles sebagai pintu masuk untuk seluruh pasar di Afrika. Syarief menilai Seychelles sebagai negara kepulauan yang sangat potensial dengan 115 pulai dan berada di 1.500 km di sebelah timur Afrika. Negara itu berpopulasi 86.525 penduduk dan maju di sektor pariwisata dengan tingkat kunjungan lebih dari 600.000 turis asing pertahun.

Menteri menambahkan, kerja sama FORSEAA akan meliputi kerja sama pertukaran pengalaman kebijakan dalam hal koperasi dan UKM, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan pasar bersama, investasi bersama, pendukungan kebijakan untuk kerja sama bisnis antara ASEAN dan Afrika.