Orang Bijak, Tidak Sebatas Mendasarkan pada Ilmu

Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Rektor UIN Malang

Senin, 20/05/2013

Orang seringkali terlalu fanatik pada ilmunya. Ia mengira, ilmu dapat digunakan menyelesaikan semua persoalan. Ia berdalih karena ilmu diperoleh dengan cara obyektif, rasional, terbuka dan didasarkan pada hasil observasi. Pandangan yang bukan diperoleh dengan cara itu dianggap sepele dan karena itu harus ditolak. Benarkah pandangan itu ?

Jika kita menengok al Quran, ternyata di atas ilmu masih ada lagi yang lebih tinggi, yaitu hikmah. Jika dibahasakan secara sederhana, hikmah adalah kearifan. Disebut sebagai orang arif, jika dia bisa mengimplementasikan ilmunya itu secara tepat. Kearifan tidak semua orang memilikinya. Dan ternyata, kearifan tidak dimonopoli oleh orang berpendidikan tinggi saja.

Ada cerita menarik, seorang raja yang kebetulan matanya yang satu kurang sempurna. Sebagai seorang raja ia ingin dirinya dilukis, untuk dipasang lukisan itu di berbagai tempat yang dianggap penting. Maka, dipanggilah pelukis untuk melukisnya. Setelah selesai lukisan itu, diserahkanlah kepada sang raja. Tanpa diduga raja sangat marah melihat dirinya dilukis secara tepat, yakni matanya dikelihatkan tidak sempurna. Pelukis itu dimarahi dan akhirnya dihukum. Masih belum berhasil mendapatkan lukisan yang menyenangkan, dipanggilah pelukis lainnya. Pelukis kedua ini tahu kalau pelukis pertama, dengan cara obyektif, dihukum maka ia mencoba melukis raja dengan wajah sempurna, sekalipun matanya yang satu tidak sempurna, dilukis seolah-olah sempurna. Diserahkanlah lukisan itu, dan ternyata raja juga marah. Pelukis kedua ini dianggap menghinanya karena melukis yang tidak senyatanya. Pelukis kedua inipun akhirnya dipenjarakan.

Raja masih tetap berkeinginan dirinya dilukis secara tepat. Maka, dihadirkanlah pelukis ketiga. Pelukis ini tahu juga kalau keinginan raja sudah mengorbankan dua orang pelukis. Baik pelukis obyektif, yakni melukis apa adanya mapun pelukis subyektif, yakni pelukis yang mengubah gambar wajah yang tidak sempurna menjadi sesempurna mungkin, ternyata keduanya dianggap salah dan dihukum.

Pelukis ketiga tidak ingin menjadi kurban berikutnya. Dia tahu bahwa sang raja memiliki kegemaran menembak. Maka sebelum melukisnya, ia bawakan sebuah senapan yang paling modern, yang belum pernah disentuh oleh tangan raja itu. Ditunjukkanlah senapan itu kepada sang raja, dan dengan cara yang sopan, pelukis memohon agar sang raja berkenan mencoba menggunakan alat berburu yang menjadi hobinya. Raja pun mau mencobanya, dan tentu siapapun yang mencoba menggunakan senapan, tidak terkecuali raja, pasti dalam mengintai sasaran, menggunakan mata satu. Di sinilah keberhasilan pelukis ketiga, ia melukis raja dalam posisi menembak. Raja menggunakan matanya yang satu, seolah-olah raja dalam keadaan sempurna. Ternyata pelukis ketiga ini berhasil. Raja sangat bahagia dengan hasil lukisannya itu.

Maka Inilah contoh sederhana tentang kearifan. Tidak selalu yang obyektif dianggap tepat dan menyenangkan orang, begitu pula yang subyektif. Dalam kehidupan masyarakat, memang justru kearifan yang selalu dinanti-nantikan. (pkesinteraktif.com)