Bank Kalah Langkah Jika Pertukaran Merchant Terlaksana

Jumat, 17/05/2013

NERACA

Jakarta – Salah satu provider layanan telepon seluler (ponsel), Telkomsel, meyakini bahwa jika nanti sudah tercipta kerja sama pertukaran merchant antar provider ponsel, terutama yang besar seperti Telkomsel, Indosat, dan XL, maka mereka akan bisa maju selangkah daripada bank. Maksudnya di pertukaran merchant ini adalah pelanggan Telkomsel misalnya bisa membeli pulsa atau cash out uangnya dari layanan T-Cash di merchant Indosat atau XL. “Ini (layanan e-money interoperability/P2P Transfer) baru tahap satu, tahap kedua itu dari pembelian pulsa lintas operator, tahap ketiga yang kita kejar adalah pertukaran merchant, jadi nanti merchant punya XL bisa melayani T-Cash, dan sebaliknya. Itu adalah end game-nya. Dan dengn ini, kita akan berusaha lebih maju satu step dibandingkan bank. Karena kalau bank itu kan contohnya parkir itu hanya (bisa pakai) BCA Flazz, dan kalau tol hanya E-Toll Mandiri, tapi kalau kita ingin sinkron,” kata Rudyanto Herlambang, Head of Mobile Payment and Digital Money Division Telkomsel, ketika ditemui di Jakarta, Rabu (15/5).

Untuk layanan e-money di provider ponsel, khususnya T-Cash punya Telkomsel, transaksi yang paling utama dan sering dilakukan nasabah adalah beli pulsa. Karena melakukan ini lebih mudah dengan adanya fasilitas e-money. “Kalau pelanggan T-Cash, terutama adalah beli pulsa, karena mereka cukup dari hp dan tidak perlu ke mana-mana untuk beli. Dia mau butuh pulsa berapa pun tinggal bayar,” imbuhnya. Rudy menegaskan kalau dalam jangka waktu tiga bulan mendatang, tiga provider ponsel besar ini akan meluncurkan tahap kedua, yakni pembelian pulsa lintas operator, dalam bentuk satu produk lagi. “Jadi pembicaraan ini sudah kita lakukan sejak Desember 2012, terealisasi sudah di April 2013, dan pada Mei 2013 ini kita launching,” tuturnya.

Menurut dia, yang saat ini terdaftar di layanan T-Cash ada sekitar 12 juta pelanggan. Untuk full service itu ada sekitar 600 ribu pelanggan, sementara yang aktif bertransaksi itu hanya sekitar 150 ribu pelanggan dalam jangka waktu enam bulan terakhir. Sedangkan jumlah pelanggan Telkomsel keseluruhan ada 125 juta. “Perbedaan antara basic dan full itu yaitu kalau full service, pelanggan bisa cash out dan transfer (ke pelanggan T-Cash lainnya). Sedangkan yang basic itu hanya bisa payment saja, karena ini yang tidak tervalidasi ketika mendaftar, misalnya nama atau nomor KTP-nya tidak jelas. Kita akan mayoritas kartu pra bayar, maka daftar itu kan gampang hanya via sms. Jadi untuk tervalidasi, harus daftar dulu di Grapari dengan membawa fotokopi KTP, supaya bisa melakukan pengiriman uang. Dan sebelum itu, pelanggan harus mengisi duitnya dulu,” paparnya.

Rudi mengakui kalau jumlah pelanggan T-Cash memang masih kecil, karena sebelumnya mereka mempunyai kendala sebelum dikeluarkan PBI yang baru yang ada relaksasi aturan. “Dulu sebelum ada PBI, bahwa cash out itu harus punya buku, tapi sekarang sudah tidak lagi, itu adalah salah satu yang mempermudah. Jadi ada relaksasi untuk melakukan KYC dalam meng-upgrade ke full service. Di aturan itu juga, yang unregistered itu maksimal transaksi cuma Rp1 juta, hanya bisa cash in dan payment, sedangkan yang registered itu maksimal bisa Rp5 juta, juga bisa cash out dan transfer,” jelasnya.

Dia juga menerangkan kalau cash in bisa dilakukan di jaringan ATM Bersama, karena T-Cash ini sudah berkomitmen dengan PT Artajasa. “Jadi kita sudah terintegrasi dengan 80 sekian bank, dan kami juga pakai sms sehingga dapat revenue dari sana. Dan juga di samping fee, revenue (yang didapat dari e-money) juga dari pemakaian jaringan, lalu tentu pada saat kita menaruh uang di bank, tapi itu kecil, ya itu kita dapat bunga rekening giro. Tp intinya revenue terbesar dari telco dalam menjalankan industri e-money ini adalah transaction based, karena kita menerapkan fee. Kita tidak seperti bank yang kalau dapat uang bisa di-floatingkan, dikelola, diputar, tapi kita tidak bisa,” tutupnya. [ria]