Waspadai, Arus Investasi Terus Melambat

NERACA

Jakarta – Badan Koordinasi Pananaman Modal (BKPM) mengakui, arus investasi di Indonesia melambat lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Perlambatan penanaman modal yang sedianya ditaksir pada semester II-2013 kemungkinan maju tiga bulan lebih awal, yakni pada kuartal I-2013 ini. Perlambatan investasi yang dipengaruhi oleh penurunan impor barang modal yang terjadi pada kuartal I-2013 ini berpotensi mengoreksi pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Kepala BKPM Chatib Basri, sinyal perlambatan arus investasi itu datang dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis pertumbuhan ekonomi nasional hanya mampu menyentuh angka 6,02%, teramat jauh dari asumsi pertumbuhan ekonomi 6,8% sepanjang tahun. Sinyal berikutnya, sepanjang kuartal I-2013, investasi asing bertumbuh lebih lambat dari kuartal IV 2012. Penurunan pertumbuhan penanaman modal asing (PMA) memang lebih terlihat, yaitu sebesar 27,2% dengan realisasi investasi mencapai Rp65,5 triliun.

“Saya harus kerja keras karena ada gejala dimana investasi slow down (perlambatan investasi) di akhir tahun ini. BPS bilang PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto)nya turun 5,9% dari kuartal sebelumnya, jadi kami harus usaha keras supaya investasinya tumbuh (ke depan). Makanya kita buat tim. Lalu harus ada upaya supaya birokrasi izin dimudahkan, dan sebagainya. Tapi di first quarter (2013) sih sudah lumayan,\" kata Chatib di Jakarta, Kamis (16/5).

Dia juga mengakui, perlambatan investasi yang menurut dia dipengaruhi oleh penurunan impor barang modal yang terjadi pada kuartal I-2013 ini bisa mengoreksi pertumbuhan ekonomi nasional. Padahal pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2013 yakni 6,02%, terendah sejak September 2010 Apalagi, seperti umum diketahui, sejauh ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia utamanya ditopang oleh konsumsi domestik dan penanaman modal dari investor lokal maupun asing.

Secara terpisah, ekonom FEUI Aris Yunanto mengatakan perlambatan arus penanaman modal terjadi karena fasilitas investasi yang ada di dalam negeri belum bertambah. \"Pada kuartal II pun perkiraan nilainya di bawah periode tahun lalu,\" kata Aris kepada Neraca, kemarin.

Selain itu, menurut dia, penyebab melambatnya investasi adalah rencana kenaikan BBM serta nilai tukar rupiah yang tidak stabil. \"Mayday kemarin juga jadi penyebab, soal tuntutan pencabutan outsourcing dan UMP. Jika lihat seperti itu mana ada investor yang mau investasi?\\\" tanya Aris.

Sementara menurut Chris Kanter, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional, keputusan investor untuk berinvestasi di Indonesia itu memang pasti dipengaruhi oleh keadaan makro ekonomi dan politik. \"Tapi pastinya turun atau tidak itu masih perlu dilihat lagi ke depannya. Kemarin Moody mengubah peringkat utang Indonesia menjadi stabil, juga adanya ketidakpastian kenaikan harga BBM, sehingga ini membuat ketidakyakinan dalam diri investor untuk berinvestasi di negara ini. Kemudian akan ada juga pemotongan anggaran, sehingga anggaran ke pembangunan juga akan berkurang, lebih ke belanja rutin saja. Juga masih banyak subsidi yang tidak perlu dalam anggaran,\" terang Chris.

Jadi, tutur dia, investor masih akan wait and see ke depannya. \"Jelas berbagai hambatan di makro ekonomi dan pemerintahan (birokrasi) yang menyebabkan investor menunda atau berpikir kembali untuk berinvestasi. Jadi yang bisa pemerintah lakukan adalah mengurangi subsidi yang tidak perlu, menyederhanakan jalur birokrasi, khusus untuk perizinan, serta mengatasi masalah penguasaan tanah,\" ungkapnya.

Adapun pengamat ekonomi EC Think, Telisa Aulia Falianty, berpandangan, melambatnya investasi disebabkan beberapa faktor, yaitu faktor internal dan juga faktor eksternal. Tetapi, dia mengatakan yang paling dominan mempengaruhinya adalah faktor internal seperti ketidakjelasan masalah BBM, masalah buruh, dan juga infrastruktur. ”Semua itu yang paling memepengaruhi menurut saya, kalau faktor eksternal seperti krisis global sih efeknya tidak besar. Dan itu membuat tahun ini lebih berat dari tahun sebelumnya,” tegas dia.

ria/ahmad/sylke/munib

BERITA TERKAIT

APBN Cuma Biayai 8,7% Infrastruktur - PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR MELAMBAT SETELAH ORBA

Jakarta-Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas mengungkapkan, dana APBN hanya dapat membiayai 8,7% dari total kebutuhan di sektor infrastruktur, sementara negara…

BEI Bakal Buka 10 Galeri Investasi di Jatim

Bidik investor potensial dari kalangan generasi milenial, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Surabaya tahun ini berencana membuka 10…

YLK Sumsel Imbau Masyarakat Waspadai Kosmetika Ilegal

YLK Sumsel Imbau Masyarakat Waspadai Kosmetika Ilegal NERACA Palembang - Yayasan Lembaga Konsumen Sumatera Selatan mengimbau masyarakat setempat untuk mewaspadai…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Darmin: Impor Garam Industri Tak Perlu Rekomendasi KKP

NERACA Jakarta-Pemerintah memberi kemudahan impor garam industri dengan melonggarkan ketentuan rekomendasi impor yang diterbitkan Kementerian Kelautan Perikanan. Kementerian KKP sekarang…

KREDIT PERBANKAN 2017 TUMBUH 8% LEBIH - Presiden: Bank Jangan Hanya Kumpulkan DPK

Jakarta-Presiden Jokowi mengingatkan kinerja para bankir untuk lebih memacu penyaluran kredit ketimbang fokus pengumpulan dana masyarakat di tengah upaya pemerintah…

PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR MELAMBAT SETELAH ORBA - APBN Cuma Biayai 8,7% Infrastruktur

Jakarta-Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas mengungkapkan, dana APBN hanya dapat membiayai 8,7% dari total kebutuhan di sektor infrastruktur, sementara negara…