Bank Peserta Belum Berani Tetapkan Target

Pilot Project Branchless Banking

Jumat, 17/05/2013

NERACA

Jakarta – Beberapa bank peserta pilot project bank tanpa cabang (branchless banking) masih belum berani tetapkan target pencapaian dari hal tersebut. Mereka menganggap bahwa proyek ini baru saja dimulai. “Ini baru mulai banget, namanya juga pilot project. Saya belum bisa membicarakan berapa besarnya target. Karena kita belum mengerti pasarnya juga, karena baru dijalanin kan,” kata Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, ketika ditemui di Jakarta, Kamis (16/5).

Budi menerangkan kalau alasan BI memilih lima bank, yaitu Bank Mandiri, BRI, Bank CIMB Niaga, BTPN, dan Bank Sinar Harapan Bali (SHB), sebagai peserta pilot project branchless banking dikarenakan bank-bank tersebutlah yang memiliki kesiapan lebih dibandingkan bank-bank yang lain. “Alasannya karena bank itu (sendiri) yang apply dan mau (melaksanakan pilot project). Kita memang dari dulu sudah mau masuk ke situ, makanya kita apply (ke BI). Ini lebih ke kesiapan, konsepnya, business model-nya, sudah punya atau belum, ketika dijalani, juga sudah masuk RBB tahun ini. Lalu untuk Bank SHB kan dia anak perusahaan kita, jadi kita sama-sama. Sementara BTPN kan juga sudah siap. Jadi itu memang bank-bank yang sudah lama menyiapkannya,” terangnya.

Menurut dia, Bank Mandiri sudah lama menyiapkan pelaksanaan branchless banking ini sejak dua tahun lalu. Khususnya melalui implementasi di anak usahanya yakni Bank SHB. “Kita sudah mulai sejak dua tahun lalu, dibantu sama ISD, itu sebabnya BSHB dan kita ikut. Yang sudah kita lakukan di BSHB akan kita replicate. Tapi itu kan hanya di Bali saja, sekarang akan kita coba di Jatim. Dan, ini memang kerjasama dengan (perusahaan telekomunikasi) juga,” jelas Budi.

Ditemui pada kesempatan terpisah, Direktur Ritel dan Micro Banking Bank Mandiri, Heri Gunardi, mengatakan bahwa program branchless banking ini masih tetap merupakan bagian dari e-money Mandiri. “Itu tetap e-money, jadi nama dagangnya apa akan kita beritahu kemudian. Kalau e-money itu kita memang tidak peduli operator (ponsel)nya apa saja, tiga-tiganya (Indosat, Telkomsel, dan XL) bisa. Karena operator itu hanya alat saja untuk mengirim kan. Si agennya bisa pakai nomor apa saja,” ujarnya. Diakuinya bahwa keikutsertaan Bank Mandiri pada pilot project tersebut bisa menjadi sarana pembelajaran bagi mereka. “Pasti kalau kita lakukan uji coba itu supaya kita punya modal kuat untuk nanti implementasi kan. Jadi pilot ini untuk kita belajar mana yang harus diperbaiki, diperkuat, dan sebagainya, sampai nanti jadi modal dalam implementasi. Karena pada saat implementasi kita tidak boleh gagal. Kalau sekarang kita bisa coba-coba,” ungkapnya.

Maka itu, Bank Mandiri berharap dengan adanya pilot project, ekosistem layanan ini yaitu bank, agen, dan provider telekomunikasi juga bisa berjalan baik kerjasamanya. Untuk agen bagi pihaknya, tutur Heri, terbagi dua. “Itu ada yang kita namakan ritel (warung-warung yang berdiri sendiri di pedesaan itu) dan korporat (seperti grocery store yang cabangnya banyak, seperti Indomaret atau Alfamart). Untuk memilih agen tentu saja harus ada KYC-nya juga, dan tidak sembarangan. Kita juga lakukan supervisi yang baik tentunya. Ada tata kelola yang baik antara agen dengan kita, ada perjanjian juga, tidak bisa dilepas begitu saja. Agen itu bisa nasabah kita, bisa juga tidak, tapi sebaiknya sih nasabah,” tuturnya.

Menurut Budi, agen itu harus punya cash flow sendiri, kemudian karena perannya besar dalam branchless banking ini, maka juga akan mendapatkan revenue atau sharing fee. “Kalau tidak dikasih itu, nanti mati dia. Untuk fee itu kan tentunya ada transaction cost, nah, itu nanti dibagi-bagi antara agen dan bank,” imbuhnya. Sebagai tempat pilot project tersebut, Bank Mandiri, memang sudah dipilihkan di dua provinsi oleh BI, yaitu di Jawa Barat (Jabar) dan Sumatera Selatan (Sumsel). Di Jabar itu ada di daerah Pantura dan Cikampek, dan Palembang di Sumsel.

“Kita dipilihkan daerah-daerah yang bervariasi (oleh BI), ada yang wilayah didominasi perkebunan, industri yang punya buruh juga, dan lain-lain. Kita lihat sebagian Cikampek itu kan ada industri di sana, sebagian lagi ada pemukiman nelayan. Tapi kalau masuk Sumsel itu ada hubungannya dengan petani-petani kelapa sawit, mereka juga punya aliran uang banyak, tapi mereka unbanked atau tidak punya rekening bank,” jelasnya.

Dia mengatakan kalau produk yang akan dipasarkan dalam branchless banking nanti akan sama seperti tabungan yang sekarang sudah ada yakni Tabungan Kapel, juga tabungan untuk payroll. “Untuk buka rekening, pasti syaratnya mudah, karena yang ingin kita gaet itu utamanya adalah yang belum punya rekening. Dia tidak perlu buka rekening bank, tapi dengan nomor ponselnya saja sudah jadi rekening,” katanya.

Sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, yang juga jadi salah satu bank peserta pilot project, menjelakan bahwa pihaknya akan memodifikasi produk tabungan yang sudah ada, seperti Britama dan Simpedes, untuk dipasarkan dalam branchless banking ini. Tapi dia juga belum bisa mengatakan target pastinya yang akan didapat dari program ini. “Sekarang kan kita sudah ada 45 juta rekening (Britama dan Simpedes), dan dengan adanya kerjasama (branchless banking dengan perusahaan telco) ini, belum bisa kita targetkan berapa (perolehan nasabah atau pendapatan), tapi diharapkan bisa menambah minimal 20 juta rekening sampai setahunlah,” jelas A. Toni Soetirto, Direktur Konsumer BRI, ketika ditemui di Jakarta, Rabu (15/5).

BRI, tutur dia, akan menggunakan Teras BRI yang sudah ada sebagai agen. “Kan ada yang di pasar2, itu sekitar ada 2000. Untuk kantor Telkom, ada 12 ribu agennya, kemudian ada agen-agen PPOB yang sejumlah 8000. Karena kita memang ada dimana-mana di Indonesia,” imbuhnya. Tempat pelaksanaan pilot project yang sudah dipilihkan BI bagi BRI, adalah provinsi Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Tengah (Jateng). “Kebetulan itu ada pembagian wilayah, sentra masyarakat di situ banyak di daerah pertanian, kemudian jauh dari unit-unit kita juga. Tapi kita belum tentukan kecamatan pastinya yang mana. Jadi masing-masing Teras ada 5 orang, nanti mereka jadi agen juga. Untuk Terasnya mau kita tambah sekitar 500 unit lagi,” tuturnya.

Sementara, bagi bank BUMN lainnya yaitu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, yang tidak ikut serta dalam pilot project branchless banking ini, mengatakan kalau pihaknya memang tidak diundang BI untuk ikut. “Ini kan baru pilot project atau trial, dan ini inisiatif BI untuk mengundang. Ya, kita tidak diundang. Kita sih siap saja (kalau mau diimplementasi nasional). Tapi nanti kita lihat deh sistemnya seperti apa, dan hasil pilot project itu bagaimana,” kata Gatot M. Soewondo, Direktur Utama BNI. [ria]