PLN Ajak Investor Garap Proyek Rp1 Triliun

Jumat, 17/05/2013

NERACA

Jakarta- Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengatakan sedang mencari sumber pembiayaan untuk mendukung proyek senilai Rp100 triliun pada 2014 dan 2018. Karena itu, pihaknya tengah mencari investor yang berminat menginvestasikan dananya dalam proyek tersebut. “Saya punya proyek nilainya Rp100 triliun, nanti saya akan menanyakan kepada investor,” kata Direktur Utama PLN, Nur Pamudji di Jakarta, Kamis (16/5).

Menurutnya, proyek yang akan dilakukan yaitu proyek pembangkit listrik dan transmisi. Untuk proyek pembangunan pembangkit listrik, dana yang dibutuhkan diperkirakan sebesar US$9 miliar, sedangkan untuk proyek transmisi sekitar US$1,9 miliar. “Untuk 2014 sampai 2018, proyek pembangkitnya US$9 miliar, transmisi US$1,9 miliar, untuk Jawa, Kalimantan, dan Papua,” jelasnya

Baca juga: BTN Terbitkan KIK EBA Rp 2 Triliun - Danai Proyek Sejuta Rumah

Beberapa sumber pembiayaan yang bisa dilakukan perusahaan untuk mendapat tambahan dana biasanya dapat dilakukan dengan pinjaman perbankan maupun penerbitan obligasi. Jika dicermati, hampir sebagian besar perusahaan lebih memilih sumber pendanaan melalui penerbitan obligasi karena dianggap memiliki suku bunga yang lebih kompetitif dibanding perbankan dan memiliki tenor yang lebih panjang.

Prospek Global Bond

Tidak terkecuali, untuk obligasi yang diterbitkan dalam bentuk dolar (global bond). Global bond korporasi di Indonesia dinilai menjadi incaran karena memberi keuntungan yang lebih besar. Terlebih jika hal tersebut dilakukan pada saat likuiditas masih tinggi. Dalam penerbitannya, global bond memberikan yield yang lebih rendah, sehingga beban utang yang harus ditanggung oleh emiten akan lebih murah.

Baca juga: Telkom Kantungi Laba Bersih Rp 7,44 Triliun

“Perusahaan menerbitkan obligasi denominasi dolar karena yield yang rendah serta likuiditas global yang masih tinggi sehingga kemungkinan besar akan oversubscribed.” kata Analis obligasi dari Lembaga Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa.

Meskipun demikian, lanjut dia, dalam jangka panjang penerbit global bond juga harus hati-hati terutama bagi perusahaan ketika pembayaran bunga dan pokok utang. Pasalnya, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar akan mempengaruhi biaya pembayaran utang dalam dolar tersebut.

Baca juga: Penjualan Agung Podomoro Capai Rp 2,77 Triliun

Seperti diketahui, dalam penerbitan obligasi yang dilakukan PLN sebelumnya, penawaran transaksi obligasi internasional disambut baik oleh para investor global. Buktinya, pemesanan obligasi yang diterbitkan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut mengalami peningkatan dari nilai obligasi yang ditawarkan senilai US$ 1 miliar. Pemesanan obligasi yang diterbitkan perseroan mencapai US$ 11,5 miliar atau 11,5 kali dari nilai obligasi yang ditawarkan.

Disebutkan, pemesanan dengan total nilai sekitar US$ 11,5 miliar, yaitu dengan tingkat bunga tetap berjangka panjang dan berasal lebih dari 380 investor. Dari penawaran obligasi tersebut sebesar 45% dialokasikan kepada investor di Asia, 31% investor Amerika Serikat dan 24% adalah investor Eropa. Sementara dari jenis investor, pihaknya mengalokasikan 73% untuk manajer investasi, 7% perusahaan asuransi, 8% untuk bank, 9% untuk bank-bank swasta, 3% untuk pengelola kekayaan negara, dan institusi publik.

Baca juga: Hero Catatkan Pendapatan Rp 7,48 Triliun