PRODUK DALAM NEGERI HADAPI TANTANGAN BERAT Pemberdayaan UKM di Jabar Perlu Dimaksimalkan

Bandung - Wakil Bupati Bandung Drs. H. Deden Rukman Rumaji menilai, memasuki era globalisasi barang-barang produk dalam negeri, menghadapi tantangan cukup berat. Hal ini sebagai dampak dibukanya kebijakan pasar bebas oleh pemerintah. Untuk menghadapi tantangan tersebut, dihimbau kepada para produsen untuk menghasilkan barang berkualitas tinggi namun dengan harga cukup murah

NERACA

“Cara seperti itu merupakan salah satu kiat untuk berkompetisi dengan produk luar negeri,” ungkap Deden R Rumaji ketika membuka Sosialisasi Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) di Hotel Kampung Pago Kecamatan Pasirjambu, Selasa (21/6). Sosialisasi diikuti sekitar 150 peserta dari dinas/instansi dan swasta.

Dia menyebutkan, barang produksi Cina mulai dari elektronika, otomotif maupun barang-barang rumah tangga sejak beberapa waktu lalu telah membajiri pasaran Indonesia. “Di Indonesia, barang produk Cina ini cukup laku karena harganya sangat kompetitif..” ungkap Deden R Rumaji.

Menghadapi persoalan tersebut, sambung Deden, pengusaha di Indonesia khususnya di Kabupaten Bandung jangan patah semangat. Bahkan persoalan itu harus menjadi tantangan bagi para pelaku UKM kita untuk menghasilkan produk berkualitas dengan harga murah.

Wakil Bupati Bandung itu juga mengakui, Kabupaten Bandung memiliki potensi daerah yang sangat beragam. Potensi ini harus dapat dikembangkan untuk peningkatan pendapatan masyarakat, melalui program kegiatan pembangunan ekonomi berbasis wilayah dan masyarakat. “Setiap wilayah diharapkan memiliki produk unggulan komparatif sebagai nilai tambah produk yang dihasilkan oleh masyarakat Kabupaten Bandung,”tandas dia.

Salah satu agenda pembangunan ekonomi di Kabupaten Bandung kata Deden R Rumaji antara lain peningkatan eksesibilitas UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) terhadap sumber daya ekonomi produktif yang dilakukan melalui kegiatan pengembangan usaha, pembinaan manajerial dan kelembagaan, peningkatan kapasitas produksi, fasilitasi perijinan dan sertifikasi usaha disamping membuka akses pemasaran seluas-luasnya.

Sampai tahun 2011, jumlah UMKM di Kabupaten Bandung tercatat 5.614 unit yang terbagi dalam kategori usaha perdagangan, jasa dan industri dengan omzet keseluruhan sebesar Rp 1,4 triliun.

Produk Kota Depok

Sementara itu di Kota Depok, Bidang Postel & Diseminasi Informasi Diskominfo Kota Depok menyelenggarakan seminar Pemberdayaan Produk Unggulan Kota Depok melalui media e-bisnis. Seminar ini dilaksanakan Selasa (21/6) di Aula Lantai 5 Balaikota Depok.

Latar belakang dari kegiatan ini adalah bahwa media informasi berbasis internet saat ini akan memberikan dukungan dan menyediakan teknologi yang dapat membantu para UKM produk khas Kota Depok dalam meningkatkan potensinya sehingga dapat mendorong perekonomian lokal di Kota Depok.

Adapun tujuan dari kegiatan sosialisasi ini adalah untuk mengembangkan peran penggunaan e-bisnis oleh kalangan usaha kecil, menekan kesulitan yang dihadapi usaha kecil saat bisnis baru dimulai, memberdayakan program unggulan / khas Kota Depok melalui informasi berbasis internet. Sehingga memudahkan warga Depok mengenal produk khas dan UKM yang ada di kotanya sendiri.

Menurut Kasie Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok, Reni Siti Neraeni, permasalahan yang dialami saat ini adalah kurangnya koordinasi dari beberapa OPD yang menangani UKM. Belum adanya data tentang potensi lokal yang layak dikembangkan, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) biasanya memiliki pasar ekstrim yang mendekati ke “given” (maksudnya pangsa pasarnya sudah disiapkan oleh Disperindag, sehingga tidak mandiri), serta terbatasnya informasi, Sumber Daya Manusia, dana dan pasar.

Oleh karena itu, lanjut Reni, diperlukan upaya pemecahan masalah tersebut oleh Disperindag, di antaranya dengan cara pelatihan, promosi, roadshow (komunikasi intensif dengan buyer potensial dan informasi peluang-peluang export.

Related posts