Merek Asing Kuasai Pasar Indonesia

Produk Lokal Kalah Bersaing

Jumat, 17/05/2013

NERACA

Jakarta - Program Director Indonesia Brand Forum Yuswohady menilai bahwa masyarakat Indonesia tidak lepas dari produk ber merek asing. "Dominasi merek-merek asing di Indonesia semakin menguat mulai menguasai sumber daya alam, perbankan, perkebunan bahkan hingga produk consumer goods pun juga dikuasai oleh asing. Artinya Indonesia menjadi kolonialisasi merek asing," ungkap Yuswohady di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, walaupun merek asing tidak secara langsung menguasai merek di Indonesia namun keuntungan dari bisnis merek asing di Indonesia sangat dominan dibandingkan dengan produk lokal. "Pemainnya sih hanya 20% akan tetapi omset dan keuntungannya bisa lebih dari 80%. Ini artinya sebagian besar merek asing telah mendominasi di Indonesia," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa merek-merek asing telah menyelimuti kehidupan masyarakat Indonesia mulai dari kamar mandi. Yuswohady mengungkapkan dari sabun badan, pasta gigi sampai sabun muka didominasi merek asing. Saat bekerja, kata dia, laptop yang digunakan merek asing. Saat makan, sebagian besar makan di waralaba asing, bahkan untuk telekomunikasi hampir 100% dikuasai oleh merek-merek asing.

Jika merek-merek yang ada di Indonesia telah dikuasai oleh asing, lanjut dia, maka yang jadi pertaruhannya adalah kedaulatan menjadi terancam. Tak hanya itu, ketika suatu produk telah dimiliki asing maka tujuannya adalah keuntungan. "Kebanyakan merek asing melakukan ekspansi di Indonesia untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Lain hal nya dibandingkan merek-merek lokal yang selalu mengedepankan unsur budaya Indonesia dan juga lebih peduli dengan lingkungan sekitar seperti program CSR," ucapnya.

Yuswohady juga menilai bahwa selama ini pemerintah tidak mendukung karya merek lokal. Hal ini bisa dilihat dari seberapa jauh pemerintah mendukung program wirausaha. Meskipun pemerintah mempunyai program menciptakan jutaan wirausaha, akan tetapi menurut dia hasilnya tidak relevan. “Kalau bicara pemerintah, yang ada hanya membuat susah. Kalau mau izin saja susah, belum lagi pungutan-pungutan lainnya. Untuk itu, serahkan swasta untuk lebih berkarya,” tambahnya.

Apakah pengusaha butuh insentif, menurut Yuswohady, insentif tersebut hanya bikin para pengusaha menjadi lebih malas dalam menjalankan bisnisnya. “merek-merek yang hebat bukan karena insentif akan tetapi dari perjuangan dari nol sampai bisa sukses. Kalau sudah sukses, maka nantinya merek tersebut akan terkenal,” tuturnya.

Beratkan Pengusaha

Selain itu, menurut dia, Indonesia telah mengalami kemajuan dalam hal ekonomi bukan dari pemerintah. Akan tetapi para pengusahanya yang bekerja keras. “Membuat produk-produk yang inovatif, mendorong UKM untuk lebih berkembang. Itulah yang membuat Indonesia maju. Kalau pemerintah mau membantu, bagus. Akan tetapi jangan sampai membuat repot pengusaha dengan segala macam birokrasi yang justru memberatkan pengusaha,” katanya.

Senada dengan Yuswohady, Presiden Indonesian Islamic Business Forum Heppy Trenggono mengungkapkan kini pasar teksil dan farmasi di Indonesia 80% didominasi oleh produk asing. Pada bidang teknologi, sekitar 92% produknya masih impor. “Sebagian produk impor menggunakan merek China, sebagian lagi dilabeli di Indonesia seolah-olah itu produk lokal. Padahal bukan,” ucapnya.

Akibat penggunaan barang-barang impor tersebut, menurut Heppy perekonomian Indonesia dijajah oleh bangsa lain. Hal ini karena perusahaan dan pengusaha lokal tidak bersaing akibar produknya kurang di serap pasar. Menurutnya, penduduk Indonesia yang sebanyak 237 juta jiwa merupakan pasar potensial dalam pemasaran produk. Tak heran jika banyak perusahaan asing yang membidik masyarakat negeri ini untuk menjadi konsumen produk mereka.

Padahal efek dari membanjirnya produk asing, sejumlah industri lokal berguguran dan mati. Menurut Heppy, pada 2008 sebanyak 200 industri di negeri ini gulung tikar karena produknya kalah bersaing dengan produk perusahaan asing. Kondisi seperti itu bakal terus terjadi, jika masyarakat tidak mau berpihak pada produk lokal.

Asing tidak hanya menguasai merek-merek yang selama ini digunakan oleh masyarakat Indonesia. Akan tetapi sector lain juga turut didominasi oleh asing. Berdasarkan data yang diolah, Per Maret 2011 pihak asing telah menguasai 50,6% aset perbankan nasional. Dengan demikian, sekitar Rp 1.551 triliun dari total aset perbankan Rp 3.065 triliun dikuasai asing. Secara perlahan porsi kepemilikan asing terus bertambah. Per Juni 2008 kepemilikan asing baru mencapai 47,02%.

Tak hanya perbankan, asuransi juga didominasi asing. Dari 45 perusahaan asuransi jiwa yang beroperasi di Indonesia, tak sampai setengahnya yang murni milik Indonesia. Kalau dikelompokkan, dari asuransi jiwa yang ekuitasnya di atas Rp 750 miliar hampir semuanya usaha patungan. Dari sisi perolehan premi, lima besarnya adalah perusahaan asing.

Pasar modal juga demikian. Total kepemilikan investor asing 60-70% dari semua saham perusahaan yang dicatatkan dan diperdagangkan di bursa efek. Pada badan usaha milik negara (BUMN) pun demikian. Dari semua BUMN yang telah diprivatisasi, kepemilikan asing sudah mencapai 60%.

Lebih tragis lagi di sektor minyak dan gas. Porsi operator migas nasional hanya sekitar 25%, selebihnya 75% dikuasai pihak asing. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM menetapkan target porsi operator oleh perusahaan nasional mencapai 50% pada 2025.