BUMN Diminta Eksploitasi AEC 2015

Jumat, 17/05/2013

NERACA

Jakarta - Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Gunaryo meminta kepada perusahaan BUMN bisa mengeksploitasi datangnya Asean Economic Community yang akan berlaku mulai 2015. "Sebagai perusahaan milik negara, seharusnya tidak khawatir dan sebaliknya berusaha meraih manfaat semaksimal mungkin dari integrasi ekonomi kawasan Asean," ungkap Gunaryo dalam acara Program Edukasi Publik tentang AEC 2015 di Jakarta, Kamis (16/5).

Ia juga menjelaskan bahwa Asean yang terdiri dari 10 negara memiliki populasi 608 juta dengan luas total mencapai 4,5 juta kilometer persegi. Apalagi dengan GDP gabungan yang mencapai UUS$3,36 triliun serta pertumbuhan ekonomi Asean berkisar 5-7,2% menjadi daya tarik tersendiri untuk memanfaatkan momentum tersebut.

Menurutnya, AEC tidak bisa dihindari karena sudah ditetapkan secara bersama-sama oleh semua negara Asean. Dengan melihat waktu menuju AEC tinggal 2 tahun lagi, menurut Gunaryo, Indonesia masih punya waktu untuk meningkatkan daya saing secara penuh. "Perlu peningkatan dibidang barang dan jasa. Selain itu, jangan mengandalkan barang mentah akan tetapi barang jadi untuk dilakukan ekspor," tambahnya.

Gunaryo mengatakan bahwa dalam menghadapi AEC 2015 tidak hanya kesiapan dari pemerintah dalam mengolah regulasi tetapi juga dari kalangan dunia usaha baik dalam skala besar maupun skala kecil. "Harus ada kesiapan dari BUMN, pemerintah, pengusaha dan UKM. Jangan sampai mereka jalan sendiri-sendiri maka akibatnya akan sulit berkompetisi. Untuk itu, perlu disosialisasikan dengan baik dan jalan bersama-sama agar bisa memanfaatkan momentum AEC," ucapnya.

Meskipun sisa waktu menghadapi AEC tingga 2 tahun lagi, Gunaryo merasa yakin bahwa perusahaan plat merah milik negara bisa bersaing dengan perusahaan negara tetangga lainnya. "BUMN kita dapat menciptakan produk barang dan jasa yang mampu berdaya saing. Saya yakin BUMN kita mampu bersaing dengan perusahaan neegara tetangga lainnya," ujarnya.

Dikatakan Gunaryo, beberapa BUMN sangat dikenal masyarakat ASEAN lewat produk barang dan jasanya. Sebut saja PT Dirgantara Indonesia (Persero), PT Wijaya Karya Tbk (Persero), Pindad (Persero) dan di sektor perbankan. "BUMN Indonesia ini mendapatkan apresiasi yang cukup baik di negara Asean maupun negara lainnya contoh PT DI, Pindad dengan panser Anoa-nya dikenal Malaysia, PT Wika juga sama ekspansi membuat jembatan di Brunei dan jalan di Timor Leste juga sektor BUMN perbankan yang sudah mulai dikenal," katanya.

Oleh karena itu dengan melihat potensi yang ada, Indonesia diminta memanfaatkan secara penuh. Diharapkan BUMN memiliki ruang yang lebih besar untuk menjalankan roda bisnisnya di Asean. "Peningkatan kualitas dan kuantitas barang dan jasa itu penting. Profesi-profesi jangan sampai kita asyik dengan yang ada sekarang. BUMN Indonesia diharapkan dapat melihat ini sebagai pasar. Peluang ini dapat kita raih jika kita siap dan harus mempunyai daya saing dengan perusahaan negara Asean lainnya," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Iman Pambagio menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh BUMN dalam menghadapi AEC yaitu peningkatan efisiensi usaha dan kualitas produk, riset pasar dan networking denga mitra lokal, promosi produk dengan mengikuti pameran, mengikuti misi dagang ke negara tujuan ekspor, membangun komunikasi dan hubungan kerjasama yang erat dengan Kemendag untuk mengakses informasi peluang, mampu beradaptasi terhadap kebutuhan dan gaya hidup serta melakukan inovasi dalam mengembangkan jaringan kerja.

Lebih lanjut lagi, ada beberapa BUMN yang sudah melakukan ekspansi sebelum diterapkannya AEC 2015 yaitu PT Wijaya Karya Tbk, PT BNI Tbk, dan PT Pertamina (Persero) yang sudah membangun kantor perwakilan di Myanmar dengan tujuan mencari peluang bisnis di Myanmar.

Dengan diberlakukannya AEC, maka memudahkan perusahaan untuk membuka usaha di negara Asean lainnya, tak terkecuali Thailand. Duta Besar RI untuk Thailand Luthfi Rauf menjelaskan bahwa GDP Thailand pada 2012 mencapai US$365 miliar semetara GDP perkapita mencapai US$5,382. "Index kemudahan dalam berbisnis di Thailand menempati peringkat 18 di dunia sementara Indonesia berada di peringkat 128. Sementara logistic performance index Thailadn menempati peringkat 38 di dunia sementara Indonesia menempati urutan 59. Ini menjadi bukti bahwa investasi di Thailand cukup menarik," tambahnya.