Tak Ada Istilah Pensiun

Sabtu, 18/05/2013

NUKE MAYA SAPHIRA

Presiden Direktur PT Indonesia Raya Audivisi (Indra TV News Agency)

Tak Ada Kata Pensiun

Mengaku sudah sepuh dan senior, tapi Nuke Mayasaphira tak mau pensiun dan digantikan mereka yang muda. Ini bukan soal jabatan, tapi soal kemampuan dan karya. “Selama jantung masih berdetak, insya’Allah tidak ada kata pensiun, ya sampai akhir hayat dan selama masih mampu,” kata Nuke, yang kini berusia 64 tahun tepat pada 28 Februari lalu.

Karena itu dia tak ingin mewariskan perusahaannya kepada kedua anaknya untuk memimpin. Sebab, ibu kelahiran Yogyakarta itu tak ingin mengatur kehidupan dan masa depan anak-anaknya. “Silakan mereka memilih profesinya masing-masing, mereka meiliki masa demannya sendiri. Itu sebabnya, saya tak ingin menyerahkan perusahaan yang saya pimpin kepada anak saya,” tuturnya kepada Neraca, belum lama ini.

Saat ini, kedua anaknya, yaitu Alvin Christian dan Nudyan Hakinithasari sedang belajar di Boston University. Pendelegasian tugas di perusahaan, kata dia, akan diberikan kepada para staf yang sudah pengalaman dan mumpuni. Namun dia berharap anak-anaknya tinggal dan berkarya di Tanah Airnya sendiri. Masih banyak yang bisa mereka perbuat bagi bangsanya.

“Tapi,biar para karyawan saja yang memiliki perusahaan, bukan anak-anak,” ujarnya. Saat ini usaha yang digeluti Nuke adalah sektor periklanan. Mula-mula menggarap media luar ruang atau griya, sejak 1983, melalui PT Nindotama Kharisma. Gedungnya ada di Jalan Tanah Abang III, Jakarta Pusat. Menurut dia, papan iklan model baliho sampai sekarang masih menarik. Sebab, dengan ukurannya yang besar, pasti akan dilihat oleh setiap orang yang lewat.

“Kuncinya, kata dia, bagaimana menyajikan pesan dalam bentuk gambar dan tulisan yang mudah dimengerti,” kata dia. Itu sebabnya dia banyak aktif di Asosiasi Pengusaha Media Luargriya Indonesia (AMLI). Di tingkat pusat, Nuke terpilih menjadi sekretaris jenderal bersama ketua umumnya Aip Syarifuddin. Sedangkan di tingkat DKI Jakarta, Nuke tercatat sebagai ketua umumnya. Menurut dia, masih ada satu pekerjaan yang belum berhasil dituntaskan di AMLI, yaitu memperjuangkan peraturan pepajakan iklan media luargriya yang adil dan transparan yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Dia memperkirakan, bisnis iklan media luar ruang itu masih cukup besar, yaitu pada kisaran 35-40% dari seluruh belanja iklan. Selagi masih ada ruangpublik, di situlah media luar ruang diperlukan. Namun, dia mengakui, saat ini belanja iklan terbesar sudah ke arah media visual, yaitu televisi. Belanja iklan lainnya ke media cetak, radio, dan online dengan porsi yang berbeda.

Untuk menunjang tuntutan profesi dan kliennya, Nuke pun mengembangkan sayap ke produk visual melalui media televise. Maka, didirikanlah PT Indonesia Raya Audivisi (Indra TV), yang berperan sebagai teve news agency, semacam production house/PH. Peluang mengisi acara di televisi sangat terbuka lebar. Tergantung kreativitas kita.

“Kami memilih spesialisasi program teve dengan muatan edukasi,” kata Nuke yang mempunyai nama asli Nuke Sri Nooryati. Sejumlah program teve yang dibuat Indra berhasil ditayangkan di sejumlah stasiun teve swasta. Di antaranya adalah Foody With Rudy, Who is Indonesia Peoples?, Champion, Inspiring Woman, Renungan Ramadhan, Hidup Sehat Hidup Berkualitas, Primarasa, Culinary Sensation. “Dari situ kita ingin memberikan spirit bahwa sebetulnya banyak orang hebat dari Indonesia,” katanya.

Banyaknya Agen Asing

Nuke mengakui, saat ini persaingan di dunia publikasi dan media periklanan sangat ketat. Bahakan sudah banyak perusahaan asing yang mulai merambah ke Indonesia. Itu karena banyak perusahaan asing yang mengembangkan usahanya di Indonesia. Namun demikian, Nuke tak khawatir dengan kehadiran agen-agen asing tersebut.

Kuncinya, kita harus mengedepankan profesionalisme, know how kita harus tahu bagaimana keinginan para klien, sebab kita berperan juga sebagai konsultan mereka. “Tentu semua itu harus dilakukan dengan kerja keras, ulet pantang menyerah, loyal pada klien, serta jujur,” kata perempuan penyuka gincu warna pink ini.

Kepada klien, kata Nuke, pihaknya menawarkan dua alternatif medua promosi. Memasang di teve atau dengan billboard. Memilih teve, tarifnya memang mahal, tapi sebetunya lebih murah jika dilihat dari jangkauan pemirsanya. Sedangkan, dengan bilboard, tergantung dimana dipasang. Tentu akan dipasang di kawasan yang ramai dilewati.

Dia berpendapat, kehadiran agen asing itu memang tak bisa dicegah di era globalisasi ini. Itu sebabnya dia mengajak masyarakat Indonesia untuk berjuang bersama-sama menjadi wirausaha (entrepreneur) yang tangguh dan produktif. “Atau kita hanya menjadi masyarakat konsumtif yang lebih suka berbelanja tanpa bisa menghasilkan? Jika demikian, yang seterusnya kita akan menjadi negeri konsumtif bagi membanjirnya produk asing, produk lokal akan hancur,” ujarnya.

Untuk mengembangkan wawasan dan kemampuan profesinya, ada banyak cara yang bisa dilakukan Nuke. Antara lain mengikuti pelatihan dan seminar. Bahkan mengadakan studi banding ke sejumlah Negara. Menurut dia, bisnis media luar ruang akan hidup subur terutama di Negara-negara yang padat penduduknya, seperti India, Bangladesh, juha Indonesia. Bahkan di Negara maju seperti Inggris dan Rusia, media ruang ruang masih penting. Pasar masih gemuk.

Kehidupan Masa Lalu

Nuke di masa lalu ternyata lebih lincah. Tentu saja. Dunia yang diterjuni adalah dunia pentas. Setelah mahir menjadi penari, dia pun mulai menggeluti dunia perfilman. Sejumlah judul film telah dibintanginya di era 1970an. Sebut saja judul Apa Jang Kau Tjari Palupi (1969), Orang Orang Liar (1970), Dan Bunga - Bunga Berguguran (1970), Banteng Betawi (1971), Pendekar Bambu Kuning (1972), Ambisi (1973), dan Bila Si Kembar Bercinta (1978).

Menurut dia, ada masa lalu yang hingga kini masih bisa dipegang teguh, yaitu nilai-nilai. Saat ini, masyarakat Indonesia pasca reformasi ini sudah mulai kehilangan nilai-nilai. Tidak lagi mempunyai budi pekerja yang santun, tak lagi menghirmati yang lebih tua. Tenggang rasa juga sudah mulai luntur. “ITu karena kita sudah menginggalkan ajaran moral Pancasila,” kata Nuke.

Karena itu, dia mengusulkan agar pemerintah mengembalikan Pacasila dan falsafahnya ke dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Masukkan lagi Pendidikan Moral Pancasila menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah. “Pancasila harus kita kobarkan lagi,” ujarnya menyudahi perbincanganya. (saksono)

NUKE MAYASAPHIRA MBA

Nama asli : Nuke Sri Nooryati

Lahir : di Yogyakarta, 28 Februari 1949

Putra : Alvin Christian dan Nudyan Hakinithasari

Pekerjaan :

Presiden Direktur PT Indonesia Raya Audivisi (Indra TV News Agency)

Presiden Direktur PT Nindotama Kharisma (outdoor)

Artis film : Apa Jang Kau Tjari Palupi (1969), Orang Orang Liar (1970), Dan Bunga Bunga Berguguran (1970), Banteng Betawi (1971), Pendekar Bambu

Kuning (1972), Ambisi (1973), Bila Si Kembar Bercinta (1978), dan lain- lain.

Organisasi :

Sekretaris Jenderal DPP AMLI (Asosiasi Pengusaha Media Luargriya Indonesia) Ketua Komite Tetap Promosi Produk Indonesia Kadin DKI Jakarta.