Lamban, Sosialisasi E-Money

Jumat, 17/05/2013

Perkembangan teknologi informasi yang kian pesat belakangan ini membawa dampak terhadap berbagai sendi kehidupan di masyarakat. Salah satunya adalah terhadap sistem pembayaran yang sudah mulai menggeser preferensi penggunaan uang kertas kepada sistem pembayaran non tunai seperti kartu debit, ATM maupun kartu kredit. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat sudah mulai mengenal instrumen e-money.

Kita melihat sistem pembayaran di Indonesia sejauh ini masih didominasi oleh transaksi uang kertas. Jumlah transaksi uang kertas setiap tahun mencapai 6,2 juta senilai Rp 260 triliun. Nilai transaksi secara tunai rata-rata naik 10% per tahun. Di luar itu, masih ada sistem pembayaran lain seperti kartu ATM, kartu debet, uang elektronik (E-Money).

Namun diluar kartu kredit, kartu debit atau ATM, belakangan berbagai jenis kartu pintar kini semakin populer. Dengan kartu tersebut, kita dapat berbelanja di super market, membeli BBM, membeli pulsa, membayar taksi, hingga membayar tarif tol, tanpa harus menggunakan uang tunai yang seringkali membuat ribet. Bahkan perbankan sekarang getol meluncurkan kartu yang juga disebut micro payment atau e-money.

Dua bank swasta, Bank DKI dan BCA lebih dulu tancap gas. Jika Bank DKI mengeluarkan JakCard untuk pembayaran busway, BCA merilis Flazz Card yang bisa dipakai berbelanja di jaringan super market Alfamart, Indomaret, Carrefour, McDonald, hingga membeli tiket bioskop.

Kalangan bank BUMN pun tak mau ketinggalan. Menggandeng Alfamart, Bank BNI memperkenalkan kartu sejenis. Langkah Bank BNI mengikuti jejak Bank Mandiri yang sudah memiliki tiga produk di segmen ini, yakni Gaz Card untuk pembelian BBM, Mandiri Debit untuk pembayaran di Indomart dan e-Toll Card untuk pembayaran tiket tol secara elektronik.Bank Mandiri sebenarnya bukan bank pertama yang meluncurkan kartu tol. Sebelumnya Bank CIMB-Niaga sudah memperkenalkan lebih dulu layanan sejenis. Namun entah mengapa, layanan itu kurang populer. Mungkin timing yang belum tepat saat itu.

Menariknya lagi, tidak hanya perbankan yang giat menggarap bisnis potensial ini, operator telekomunikasi pun mulai serius terjun di bisnis yang sama. Tiga operator seluler Telkomsel, Indosat dan XL Axiata ternyata meluncurkan produknya. Setelah Telkomsel mengeluarkan layanan T-cash dan Indosat dengan Dompetku, XL Axiata juga mengeluarkan layanan serupa, yang diberi nama XL Tunai. Seperti halnya T-Cash dan Dompetku, layanan XL Tunai, memanfaatkan ponsel sebagai perangkat untuk melakukan transaksi keuangan.

Sejalan dengan pengenalan model branchless banking (cabang bank tanpa kantor), Indonesia mulai memasuki era less cash society. Tingginya pembayaran dengan menggunakan ATM dan kartu kredit, mampu meredam peredaran uang tunai di masyakat. Meski begitu, penerapan less cash society di Indonesia masih terbatas, baik sisi jumlah maupun fungsinya. Dari 60 juta jumlah nasabah bank di Indonesia, baru 15 juta orang saja yang terbiasa menggunakan transaksi non tunai.

Tren penggunaan kartu pintar ini memang menjanjikan peluang bisnis. Pangsa pasar micro payment yang diperebutkan paling tidak mencapai Rp 200 triliun – Rp 293 triliun, di mana saat ini sekitar 75 % transaksi ritel masih dilakukan secara cash. Apabila suatu bank atau operator dapat menjadi pemain utama dalam layanan e-money, dapat dipastikan jumlah nasabah dan uang yang disimpan di bank atau operator itu akan bertambah secara signifikan. Apalagi masih ditambah dengan pendapatan fee dari transaksi pembayaran elektronik.

Hanya persoalannya, BI harus lebih transparan dalam menetapkan kriteria bank pelaksana dan segera membuat aturan pendukung teknis maupun sosialisasi, agar perkembangan transaksi e-money ke depan tidak menimbulkan salah pengertian baik di kalangan operator maupun masyarakat pengguna jasa keuangan lainnya.