Upaya Merebut Pasar Bebas ASEAN 2015

HIPMI, IWAPI, DAN HIPPI BERSATU

Sabtu, 18/05/2013

HIPMI, IWAPI DAN HIPPI BERSATU

Upaya Merebut Pasar Bebas ASEAN 2015

Globalisasi dan liberalisasi perdagangan, tampaknya telah menjadi fenomena dunia yang tidak terelakkan. Sebagai anggota masyarakat internasional, setiap negara akan terkena arus liberalisasi perdagangan ini. Termasuk Indonesia.Sebagai satu komunitas yang dinamis, Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) pun terdorong untuk membentuk blok kerja sama ekonomi. Pasalnya, liberalisasi dipandang sebagai suatu peluang bagi Asean untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan populasi di kawasan.

Bagaimana dengan Indonesia? Berlakunya globalisasi ekonomi, serta semakin pesatnya kerjasama ekonomi antar negara khususnya dalam konteks ASEAN, akan menciptakan peluang sekaligus tantangan baru bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Pada tahun 2015 mendatang, UMKM di negara-negara ASEAN akan menghadapi era baru yang dicanangkan sebagai salah satu tujuan dalam ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN ("MEA") yang merupakan bentuk integrasi ekonomi ASEAN.

Terdapat beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh UMKM dalam MEA 2015, salah satunya adalah meningkatnya persaingan di antara produk-produk UMKM negara ASEAN. Untuk menghadapi hal ini, UMKM perlu menjaga dan meningkatkan daya saing sebagai industri kreatif dan inovatif, meningkatkan standar, desain dan kualitas produk agar sesuai ketentuan ASEAN serta diversifikasi output dan stabilitas pendapatan usaha mikro.

Untuk mempersiapkan UMKM dalam memasuki pasar tunggal ASEAN 2015, tiga organisasi pengusaha di Jakarta, yaitu Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi), dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) melakukan sinergi.

Salah satu yang mereka lakukan adalah menginventarisasi potensi berikut pasar yang dimiliki kalangan UMKM untuk menetapkan tingkat keunggulan dibandingkan negara ASEAN. Langkah lainnya adalah mengidentifikasi seluruh kelemahan dan hambatan yang ada. Lalu, mengembangkan rantai nilai UMKM di antara negara-negara ASEAN yang dapat dikembangkan menjadi cluster ASEAN.

“Negara-negara ASEAN melihat arti penting usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebagai tulang punggung perekonomian, sehingga negara-negara di ASEAN memiliki kepentingan dan keseriusan bersama untuk membesarkan UMKM,” kata Ketua I Iwapi DKI Jakarta Megananda.

Menurut Megananda, menyatunya kawasan ekonomi di ASEAN menyebabkan masing-masing negara akan bersaing mengangkat keunggulannya masing-masing untuk merebut pasar. Namun, dia mengaku, sebagian besar UMKM di Indonesia masing tertinggal disbanding di Malaysia dan Thailand “Karena itu, kami, yang sebagian besar meupakan kalangan UMKM juga hars melakukan persiapan,” katanya.

Sementara itu, Rishi Wahab, Sekretaris Umum BPC Hipmi Jakarta Utara, menambahkan, dua tahun lagi bukanlah waktu yang lama untuk mempersiapkan diri menuju terwujudnya AEC. “Jika tak cepat-cepat sadar, bangsa Indonesia dikhawatirkan hanya akan menjadi sapi perah bagi negara-negara ASEAN lainnya yang lebih siap menjual produknya, baik barang dan jasa, maupun tenaga kerjanya,” kata dia.

Padahal, kata dia, Indonesia adalah salah satu Negara terbesar populasinya yang ada di kawasan ASEAN. Masyarakat Indonesia adalah Negara Heterogen dengn berbagai jenis suku, bahasa dan adat istiadat yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Indonesia juga mempunyai kekuatan ekonomi yang cukup bagus, pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia (4,5%) setelah RRT dan India. “Inilah yang akan menjadi modal yang penting untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Menurut Rishi, dilihat dari sisi jumlah UMKM terhadap total entitas bisnis di negara-negara ASEAN hampir sama. Ada sekitar 96% perusahaan di negara-negara ASEAN berstatus UMKM. Tingkat penyerapan tenaga kerja di tiap negara tersebut antara 50%-80% sedangkan sumbangan ke Produk Domestik Bruto (PDB) antara 30%-53%. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM meningkat menjadi 55,2 juta. Rata-rata pertumbuhan jumlah UMKM sebesar 7,39% lebih tinggi dari usaha besar yang hanya 6,49%.

Ada tiga indikator untuk meraba posisi Indonesia dalam AEC 2015. Pertama, pangsa ekspor Indonesia ke negara-negara utama ASEAN (Malaysia, Singapura, Thailand, Pilipina) cukup besar yaitu 13.9% (2005) dari total ekspor. Dua indikator lainnya bisa menjadi penghambat yaitu menurut penilaian beberapa institusi keuangan internasional - daya saing ekonomi Indonesia jauh lebih rendah ketimbang Singapura, Malaysia dan Thailand. Percepatan investasi di Indonesia tertinggal bila dibanding dengan negara ASEAN lainnya.

“Namun kekayaan sumber alam Indonesia yang tidak ada duanya di kawasan, merupakan local-advantage yang tetap menjadi daya tarik kuat, di samping jumlah penduduknya terbesar yang dapat menyediakan tenaga kerja murah,” ujarnya. Kendati demikian, belum lama ini Presiden Susulo Bambang Yudhoyono menyatakan saat ini bukan lagi era upah buruh murah.

Itu sebabnya, HIpmi Hippi, dan Iwapi di DKI Jakarta akan menggelar Seminar Nasional STrategi, Peluang, dan Tantangan bagi UMKM dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEASN 2015. Seminar akan diadakan 29 Mei 2013.

Sementara itu, Angelina Yuri, bendahara Hippi DKI Jakarta menambahkan, tantangan Indonesia ke depan adalah mewujudkan perubahan yang berarti bagi kehidupan keseharian masyarakat kita. Dia berharap, seluruh masyarakat Indonesia mau membantu UMKM dalam mewujudkan kehidupan ekonomi dan sosial yang layak, berkualitas hingga mampu duduk berdampingan dengan masyarakat UMKM dari negeri lain. (saksono)