BCA Akan Pasang "ATM Recycle"

Semester II 2013

Kamis, 16/05/2013

NERACA

Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk tengah merencanakan untuk memasang mesin anjungan tunai mandiri (ATM) recycle, yakni gabungan antara ATM setoran tunai dan ATM penarikan tunai, mulai semester II 2013 mendatang. "Secara bertahap mulai bulan Agustus, terutama di daerah-daerah perkantoran," kata Direktur Utama BCA, Jahja Setiaatmadja di Jakarta, Rabu (15/5). Dia mengungkap ratusan ATM recycle akan dipasang sepanjang tahun ini. Dengan mesin ATM recycle, nasabah dapat menyetor uang tunai dengan cash deposit machine (CDM) dan juga bisa menarik uang seperti mesin ATM biasa.

Menurut Jahja lagi, pemasangan mesin ATM recycle merupakan upaya BCA untuk memudahkan dan meningkatkan efisiensi, baik dari sisi nasabah maupun bank. Selama ini, jika uang tunai di mesin ATM sudah kosong, maka harus diisi secara manual.Demikian juga dengan CDM, bila sudah penuh oleh uang setoran dari nasabah, maka pihak bank harus mengambil uang tersebut. Untuk mengisi ataupun mengambil uang tersebut, perlu biaya dan waktu yang cukup tinggi.

"Untuk lokasi ATM yang harusnya bisa 10 menit, ternyata ditempuh satu jam," tambahnya. BCA saat ini telah mempunyai lebih dari 12 ribu mesin ATM di seluruh Indonesia. Sebelumnya, Jahja menjelaskan, pengertian recycle bukan berarti menggunakan mesin daur ulang, tetapi penggabungan antara ATM setoran tunai dan ATM biasa. Dengan begitu, petugas kami tidak perlu sering mengisi uang ke mesin ATM," katanya. Jahja menambahkan, selama ini petugas harus mengisi uang ke dalam mesin ATM serta mengambil uang dari mesin setoran tunai secara berkala. Penggabungan dua mesin itu akan membuat kinerja ATM lebih efektif.

Tingkat likuiditas

Terkait suku bunga, Jahja menilai kondisi suku bunga rendah yang terjadi selama beberapa tahun terakhir akan sulit dipertahankan meski secara global ada tren suku bunga turun. "Dengan perkiraan tingkat inflasi 5%-8%, tidak mungkin bunga Bank Indonesia atau BI Rate bertahan di posisi 5,75%," ujar dia. Menurut Jahja, perkiraan suku bunga termasuk bunga perbankan akan meningkat bukan saja karena perkiraan kenaikan tingkat inflasi, namun juga karena tingkat likuiditas dalam perekonomian yang tinggi. Dia juga menyebut rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi saat ini secara psikologis sudah berdampak kepada tingkat inflasi.

Demikian juga kenaikan harga bahan-bahan kebutuhan masyarakat. "Kalau nanti harga BBM bersubsidi naik maka tingkat inflasi akan mencapai 7%-8%,” terang Jahja. Sementara dari sisi likuiditas yang meningkat, Jahja mengatakan peningkatan rasio penyaluran kredit dibanding dana pihak ketiga atau loan deposit ratio (LDR) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan cukup tinggi.

"Tingkat LDR pada akhir tahun 2012 industri perbankan nasional mencapai sekitar 83%, pada akhir Maret 2013 meningkat menjadi 85%. Kalau bank-bank besar dikeluarkan maka tingkat LDR mencapai sekitar 92%. Artinya, likuiditas di masyarakat meningkat," katanya. Mengenai tren penurunan suku bunga secara global, Jahja menjelaskan kondisi itu terjadi sebagai akibat dari pelemahan ekonomi global. "Kondisi di dalam negeri berbeda, rupiah merupakan mata uang yang hanya digunakan di dalam negeri sehingga penambahan likuiditas berdampak pada inflasi," tandasnya. [ardi]