Indonesia Masih Kekurangan 15 Ribu Insinyur - Hadapi AFTA 2015

NERACA

Jakarta - Indonesia harus menghambat masuknya profesional asing dari negara-negara tetangga dalam menghadapi area perdagangan bebas ASEAN (ASEAN Free Trade Area/AFTA) 2015 mendatang, dengan menerapkan standard jasa profesional sesuai kebutuhan. Pasalnya, saat ini Indonesia mengalami kekurangan 15 ribu tenaga perekayasa dan insinyur profesional untuk mendukung pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi, Idwan Suhardi, mengungkap jika tidak ingin kalah bersaing, maka Indonesia harus membuat standard jasa profesional yang cocok untuk Indonesia. Dia mencontohkan hambatan itu dengan cara melakukan sertifikasi insinyur profesional dan sistem penjenjangan profesi yang diselenggarakan oleh asosiasi-asosiasi profesi semacam Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

“Apalagi menyambut persaingan global seperti ASEAN Economy Community tahun 2015. Untuk itu, kebutuhan insinyur profesional dan perekayasa harus segera ditingkatkan,\" kata Idwan di Jakarta, Rabu (15/5). Sementara Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Marzan A Iskandar, mengungkap kompetensi perekayasa mempunyai kedudukan yang sangat strategis sebagai komponen pembangunan nasional, melalui penerapan Iptek di berbagai sektor, khususnya bidang industri. Menurut dia, bila tidak segera disiapkan, kebutuhan sebanyak 15 ribu perekayasa ini akan diisi oleh tenaga asing. Dia menuturkan, saat ini Indonesia baru mempunyai 2.126 orang tenaga perekayasa, dan 10 ribu orang insinyur profesional. Secara nasional, ada sekitar 37 ribu sarjana teknik yang bekerja di bidang perekayasaan.

Untuk memenuhi kebutuhan sebanyak 15 ribu perekayasa dan insinyur profesional, lanjut Marzan, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan, di antaranya, menyampaikannya kepada perguruan tinggi, memodifikasi kurikulum dan pelatihan. Selain itu, diperlukan acuan baku standard kompetensi perekayasa, penerapan kode etik perakayasa, pedoman formasi jabatan perekayasa, pemberlakuan sistem sertifikasi perekayasa, dan uji kompetensi. Menurut Marzan, persaingan global pada 2015 mendatang akan membuka pintu bagi masuknya tenaga asing di Indonesia. \"Kondisi ini menuntut Indonesia untuk mengenjot jumlah sumberdaya manusia (SDM) yang andal dan mumpuni di bidang teknik,\" ungkapnya. [munib]

BERITA TERKAIT

Insinyur Perlu Berkontribusi Ciptakan Inovasi

NERACA Jakarta – Insinyur dinilai berperan penting dalam menyukseskan penerapan revolusi industri 4.0 di Indonesia melalui penguasaan teknologi terkini. Hal…

Hingga Akhir Tahun 2018, Udang Masih Jadi Primadona Ekspor Sektor Perikanan

  NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga akhir tahun ekspor hasil perikanan jelang akhir tahun 2018…

Mata Uang Digital Di Indonesia Mulai Tumbuh

  NERACA   Jakarta - Pakar keuangan dari Skipjack Corporation Profesor Dr Mike Irvan melihat mata uang digital mulai tumbuh…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

BPS Klaim Desa Tertinggal Berkurang Ribuan

      NERACA   Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat berdasarkan hasil pendataan Potensi Desa (Podes) 2018, jumlah…

Kemenhub Kembangkan Konsep Integarasi Tol Laut

    NERACA   Jakarta - Dtjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan mengembangkan konsep tol laut yang terintregasi dan terkoneksi "end…

Mitsubishi Dukung Pengembangan Infrastruktur Mobil Listrik

NERACA   Jakarta - PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), distributor resmi kendaraan penumpang dan niaga ringan Mitsubishi…