Penyerapan Produk Reksa Dana Diyakini Melesat

Masih Menjanjikan

Kamis, 16/05/2013

NERACA

Jakarta-Di tengah kondisi pasar yang tidak pasti, pertumbuhan investasi diyakini akan tetap positif. Tidak terkecuali bagi produk reksa dana. Mandiri Investasi misalnya, optimistis penyerapan produk reksa dana tahun ini akan lebih baik dibanding tahun sebelumnya. "Dengan bertambahnya kalangan menengah dan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan investasi. Kami yakin industri reksa dana akan terus bertumbuh sehingga jumlah investor, khususnya ritel juga akan bertambah." kata Direktur Utama Mandiri Investasi, Muhammad Hanif di Jakarta, Rabu (15/5).

Menurutnya, total dana yang dikelola perusahaan hingga saat ini telah mencapai Rp22,2 triliun. Mandiri Investasi menargetkan dapat mengelola dana investasi (Asset Under Management) sebesar Rp 30 triliun atau naik 50% dari tahun lalu sebesar Rp20 triliun. Rencananya, hingga akhir tahun ini perusahaan akan fokus pada produk saham dan berencana untuk menerbitkan reksa dana saham syariah.

Perkembangan ekonomi makro dan kondisi pasar yang terjadi akhir-akhir ini, lanjut dia, merupakan tantangan tersendiri bagi perusahaan untuk lebih kreatif dan responsif dalam memperbanyak variasi produk unggulan. “Investor indonesia terkonsentrasi pada nasabah bank dan asuransi yang dipaket dengan produk unit link. Kalau bisa kita punya produk investasi langsung sehingga itu akan lebih baik.” ucapnya.

Dia menilai, suhu politik di tahun ini tidak akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan produk reksa dana. Buktinya, aliran dana asing yang masuk saat ini masih besar, baik dalam bentuk investasi langsung maupun portofolio. Meningkatnya likuiditas tentu akan berdampak pada dunia investasi, baik dalam bentuk saham, obligasi, dan instrumen lainnya.

Untuk perkembangan produk reksa dana, pihaknya mencatat dari tahun 2002 hingga April 2013, pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membawa reksa dana berbasis saham memberikan return yang cukup positif atau sebesar 27%. “Kita lihat tidak ada kaitannya investasi dengan pemilu. Dari pencapaian IHSG yang diprediksi sebelumnya 4.800-5200 tumbuh lebih cepat. Inflow investor asing juga semakin besar.” ujarnya.

Gairah investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia, kata dia, seharusnya menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat indonesia untuk berinvestasi dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saat ini, investor asing menilai Indonesia menjadi salah satu tempat investasi yang menarik selain Cina dan India.

Karena itu, pihaknya optimistis, perusahaan akan dapat menangkap momentum peluang investasi yang diberikan meskipun krisis global sedang melanda dunia dan mentransformasikan peluang tersebut menjadi produk dan bauran strategi investasi yang menguntungkan bagi investor. “Kami sedang ekspansi ke luar negeri. Salah satunya memasarkan produk investasi yang menarik seperti obligasi,” ucapnya. (lia)