Penyerapan Lelang SBSN Tidak Capai Target

Pasar Penuh Ketidakpastian

Kamis, 16/05/2013

NERACA

Jakarta- Kegiatan lelang yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk negara berbasis proyek saat ini dinilai tidak cukup menarik investor. Pemicunya, antara lain karena kondisi pasar yang saat ini penuh ketidakpastian. Dari lima seri yang dilelang, pemerintah hanya memenangkan sekitar Rp500 miliar.

Analis obligasi dari Lembaga Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa mengatakan, penyerapan atas lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk negara berbasis proyek saat ini lebih rendah dibanding tahun lalu.“Sekarang hanya berhasil dimenngkan sebesar Rp550 milliar dari sebelumnya Rp 1 triliun.” ucapnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, dari lima seri yang dilelang pemerintah, seri SPN-S adalah salah satu seri yang paling banyak menarik investor atau sekitar 48% dibanding seri lainnya. Hal itu karena seri SPN-S memiliki tenor pendek dan juga masuk ke pasar uang syariah. Selain itu, seri ini menjadi favorit investor terutama bank untuk pengelolaan likuiditas. “Di tengah tingginya ketidakpastian, investor pasti cenderung meminati obligasi yang tenornya lebih pendek untuk meminimumkan risiko.” jelasnya.

Karena itu, seri tersebut mendukung kegiatan lelang sukuk negara yang diselenggarakan pemerintah. Dari jumlah penawaran yang masuk mencapai Rp 3,22 triliun, naik dari lelang sukuk sebelumnya yang hanya mencapai Rp 2,43 triliun. Meskipun demikian, dalam penawaran tersebut investor masih meminta yield tinggi sehingga jumlah yang dimenangkan pemerintah pun turun atau hanya sebesar Rp550 miliar.

Pada 14 Mei 2013, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) menyampaikan akan membuka lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk negara berbasis proyek untuk lima seri. Kelima seri tersebut yaitu PBS-001 (reopening) yang jatuh tempo pada 15 Februari 2018, PBS-004 (reopening) yang jatuh tempo pada 15 Februari 2037, PBS-005 (reopening) jatuh tempo pada 15 April 2034 dan PBS-006 (new issuance) yang jatuh tempo pada 15 Mei 2015, serta SPN-S 15112013 (new Issuance) yang jatuh tempo 15 November 2013.

Langkah ini diambil pemerintah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN dengan target indikatif Rp1,5 triliun. Adapun underlying asset yang digunakan yaitu proyek atau kegiatan dalam APBN 2013.

Peserta lelang diikuti oleh sejumlah perbankan antara lain PT Mandiri, PT Bank Rakyat Indonesia, PT bank Negara Indonesia, PT Bank permata, PT bank Panin, dan The Hongkong and Shanghai Banking Corporotion Limited. Selain perbankan, lelang tersebut juga diikuti oleh perusahaan sekuritas antara lain PT Danareksa Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Trimegah Sekuritas, dan Bahana Sekuritas. (lia)