Penyerapan Lelang SBSN Tidak Capai Target - Pasar Penuh Ketidakpastian

NERACA

Jakarta- Kegiatan lelang yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk negara berbasis proyek saat ini dinilai tidak cukup menarik investor. Pemicunya, antara lain karena kondisi pasar yang saat ini penuh ketidakpastian. Dari lima seri yang dilelang, pemerintah hanya memenangkan sekitar Rp500 miliar.

Analis obligasi dari Lembaga Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa mengatakan, penyerapan atas lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk negara berbasis proyek saat ini lebih rendah dibanding tahun lalu.“Sekarang hanya berhasil dimenngkan sebesar Rp550 milliar dari sebelumnya Rp 1 triliun.” ucapnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, dari lima seri yang dilelang pemerintah, seri SPN-S adalah salah satu seri yang paling banyak menarik investor atau sekitar 48% dibanding seri lainnya. Hal itu karena seri SPN-S memiliki tenor pendek dan juga masuk ke pasar uang syariah. Selain itu, seri ini menjadi favorit investor terutama bank untuk pengelolaan likuiditas. “Di tengah tingginya ketidakpastian, investor pasti cenderung meminati obligasi yang tenornya lebih pendek untuk meminimumkan risiko.” jelasnya.

Karena itu, seri tersebut mendukung kegiatan lelang sukuk negara yang diselenggarakan pemerintah. Dari jumlah penawaran yang masuk mencapai Rp 3,22 triliun, naik dari lelang sukuk sebelumnya yang hanya mencapai Rp 2,43 triliun. Meskipun demikian, dalam penawaran tersebut investor masih meminta yield tinggi sehingga jumlah yang dimenangkan pemerintah pun turun atau hanya sebesar Rp550 miliar.

Pada 14 Mei 2013, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) menyampaikan akan membuka lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk negara berbasis proyek untuk lima seri. Kelima seri tersebut yaitu PBS-001 (reopening) yang jatuh tempo pada 15 Februari 2018, PBS-004 (reopening) yang jatuh tempo pada 15 Februari 2037, PBS-005 (reopening) jatuh tempo pada 15 April 2034 dan PBS-006 (new issuance) yang jatuh tempo pada 15 Mei 2015, serta SPN-S 15112013 (new Issuance) yang jatuh tempo 15 November 2013.

Langkah ini diambil pemerintah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN dengan target indikatif Rp1,5 triliun. Adapun underlying asset yang digunakan yaitu proyek atau kegiatan dalam APBN 2013.

Peserta lelang diikuti oleh sejumlah perbankan antara lain PT Mandiri, PT Bank Rakyat Indonesia, PT bank Negara Indonesia, PT Bank permata, PT bank Panin, dan The Hongkong and Shanghai Banking Corporotion Limited. Selain perbankan, lelang tersebut juga diikuti oleh perusahaan sekuritas antara lain PT Danareksa Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Trimegah Sekuritas, dan Bahana Sekuritas. (lia)

BERITA TERKAIT

Presiden Tidak Akan Tanda Tangani UU MD3

Presiden Tidak Akan Tanda Tangani UU MD3 NERACA Jakarta - Presiden Joko Widodo tidak akan menandatangani revisi Undang-Undang No 17…

Pasar Modal di Bali Diyakini Tumbuh Positif - Dampak Penyederhaan Kebijakan

NERACA Denpasar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis kinerja pasar modal dan industri keuangan nonbank di Bali dan Nusa Tenggara…

OJK Kaji Rencana Menaikkan MKBD Tahun Ini - Dukung Pertumbuhan Pasar Modal

NERACA Jakarta – Bergerak dinamisnya pertumbuhan industri pasar modal dan termasuk meningkatnya kapitalisasi di pasar modal, mendorong Otoritas Jasa Keuangan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Semen Baturaja Terbitkan MTN Rp 400 Miliar

PT Semen Baturaja (Persero) Tbk atau (SMBR) menerbitkan surat hutang (MTN) senilai Rp400 miliar dengan jangka waktu selama tiga tahun…

Pelanggan Diminta Registrasi Nomor Prabayar

Telkomsel mengimbau pelanggan untuk segera melakukan registrasi nomor prabayar yang divalidasi sesuai dengan data kependudukan yang berlaku. Batas akhir masa…

BEI Resmikan Galeri Investasi di Untan

Direktur Pengembangan Bisnis PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Nicky Hogan meresmikan galeri investasi BEI di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura (Untan)…