Banyak Mahasiswa Salah Ambil Jurusan

Sabtu, 18/05/2013

Tes minat dan bakat yang selama ini ada belum bisa menjawab kebutuhan dari calon mahasiswa. Pasalnya, kualitas sistem tes minat dan bakat yang ada di sekolah masih minim. Selain itu, pengenalan program studi Perguruan Tinggi (PT) saat di Sekolah Menengah Atas (SMA) juga dinilai masih sangat dangkal.

Tak ayal, anggapan keliru memilih jurusan masuk ke perguruan tinggi seringkali berubah menjadi \"mitos\" yang akhirnya malah lebih dipercaya kebenarannya meski acapkali tidak didasarkan sebuah fakta. Alhasil, banyak mahasiswa yang merasa jika dirinya salah dalam memilih jurusan. Sebuah survei menyebutkan lebih dari 50% mahasiswa ternyata merasa salah memilih jurusan di PT.

Dari hasil penelitiannya dengan mewawancara 50 responden, Country Manager La Trobe University (Australia), Ina Liem mengatakan, lebih dari 50% mengaku salah memilih jurusan di perguruan tinggi. Mereka merasa jurusan yang diambil tidak sesuai dengan minat dan bakatnya sehingga tidak berkembang dan sulit mengikuti pelajaran.

Lebih lanjut Ina menuturkan, ada anggapan bahwa sarjana matematika hanya bisa bekerja sebagai guru dan atau lowongan pekerjaan terbatas lainnya karena anggapan matematika masuk kategori ilmu murni bukan ilmu terapan. Tidak heran bila peminat ke jurusan ilmu-ilmu murni dari tahun ke tahun menunjukkan angka yang relatif kecil.

"Banyak jurusan yang kemudian menjadi sepi peminat karena banyak siswa yang tidak tahu peluang berkarya di bidang itu ternyata sangat besar dan bagus. Jurusan matematika, misalnya, tidak harus menjadi guru," tambahnya.

Menurut Ina, salah satu penyebab utamanya adalah minimnya informasi yang diterima siswa mengenai program-program studi yang ada di perguruan tinggi dan juga bagaimana prodi tersebut memiliki peluang kerja yang baik.

“Siswa harus sudah diberi pengenalan pada minat dan bakatnya sejak masih duduk di SMU. Jadi pada saat nantinya mereka kuliah, sudah tidak perlu lagi belajar dari awal. Hanya tinggal melanjutkan,” imbuh dia.