Mohammad Nuh: Kurikulum 2013 Tekankan Akhlak Mulia

Sabtu, 18/05/2013

NERACA

Pintar, jenius, dan memiliki IQ di atas rata-rata merupakan kedudukan tertinggi dalam dunia intelek. Tak sedikit para orang tua yang menginginkan anak-anak mereka untuk dapat merengkuh posisi ini. Bagaimana tidak? Dengan kepintarannya, seseorang dapat memngatasi problem-problem hidupnya. Namun ternyata, berbekalkan kepintaran saja tidak cukup. Kenapa? Karena jika dalam kehidupan sehari-hari, orang pintar yang tidak berkepribadian baik justru akan mencelakakan, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.

Kerusakan akibat kepintaran yang tidak di topang budi pekerti baik itu bisa dilihat dan dirasakan sekarang ini. Buktinya banyak koruptor yang tertangkap, diadili, dan dipenjarakan. Oleh karena berhasil menempuh pendidikan dan bahkan hingga pendidikan tinggi, mereka menjadi pintar dan diangkat sebagai pejabat, baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Namun dengan segudang tingkah-tingkah “busuk” yang mereka miliki, uang rakyat pun dikuras habis-habisan demi kepentingan pribadi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh menuturkan, kelemahan dan kekurangan yang menonjol pada bangsa ini berada di sikap. Untuk itu, Kemendikbud menekankan pelajaran agama dan budi pekerti untuk pembentukan sikap yang baik pada penerapan integrasi kompetensi Kurikulum 2013. Dengan adanya penekanan pelajaran agama dan budi pekerti dalam Kurikulum 2013, generasi muda ke masa depan memiliki tata krama dan kelakuan yang baik.

"Orang pintar saat ini sudah banyak. Tapi, orang pintar yang jujur, baik, dan punya tata krama itu yang defisit," kata dia.

Nuh menjelaskan, Dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, pada Kurikulum 2013 pemerintah ingin menonjolkan sisi integrasi dari kompetensi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Sehingga, diharapkan mampu mencetak generasi yang pintar dan berbudi pekerti.

"Kita ingin punya penerus bangsa yang pintar tapi sikapnya juga bagus, sopan dan santunnya juga bagus. Jika sekolah sudah siap maka akan dijalankan," ujarnya.

Kurikulum 2013, lanjut Nuh, nantinya akan dilakukan secara bertahap dan terbatas. Bertahap artinya tidak semua kelas, yakni untuk tingkat SD akan diberikan pada kelas I dan IV, tingkat SMP pada kelas VII, dan tingkat SMA/SMK pada kelas X. Sedangkan terbatas artinya tidak semua sekolah menerapkannya. Ada beberapa sekolah yang dipilih pemerintah untuk menerapkan kurikulum baru tersebut

"Baru setelah itu tahun depannya akan digenjot untuk dilakukan lebih besar lagi," tegas mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya tersebut.

Data Kemendikbud mencatat, tahap awal Kurikulum 2013 akan diterapkan pada 2.598 SD, 1.521 SMP, 1.270 SMA, dan 1.021 SMK. Total keseluruhan siswa yang ditargetkan mencapai 1.535.065 siswa. Adapun sekolah yang menjadi sasaran pelaksanaan penerapan kurikulum baru tersebut adalah sekolah eks-Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan sekolah dengan akreditasi A.