Permata Kelola Rp50 Triliun Dana Nasabah Prioritas

Rabu, 15/05/2013

NERACA

Jakarta - PT Bank Permata Tbk (PermataBank) mengelola dana nasabah priority banking-nya yang sebesar Rp40-Rp50 triliun. 20% di antara jumlah dana tersebut merupakan dari wealth management. Sehingga mereka merasa bahwa minat nasabahnya atas produk wealth management masih akan sangat besar di tahun ini.

\"Di Bank Permata ada dua dimension, bukan hanya pada priority. Tapi priority customer menjadi kontributor penting, karena pada kelompok ini kesadaran investasi relatif lebih tinggi. Kalau Wealth management ini seperti asuransi, investasi,\" kata Head Retail Liabilities, Wealth Management dan e-channelPermataBank, Bianto Surodjo, di Jakarta, Selasa (14/5).

Menurutnya, perhatian nasabah akan produk pasar modal saat ini masih cukup besar. Kondisi itu sejalan dengan ekspektasi ekonomi yang sedang bagus. Inflasi pun, kata dia, dinilai tidak terlalu berpengaruh secara signifikan pada saat ini. Karena secara jangka panjang pertumbuhan investor cukup positif. Tahun ini PermataBank menargetkan pertumbuhan nasabah bisa tercapai 20-25%.

\"Dari keseluruhan bisnis priority itu tidak akan terlalu berpengaruh terhadap inflasi, itu short term impact dan kami optimis,\" ujarnya.

Kategori nasabah kaya di Bank Permata yaitu memiliki saldo minimum Rp 500 juta. Di saat ada bank lain ada yang sudah mempertinggi saldo minimum nasabah kayanya, Bianto menyebut bahwa sementara pihaknya belum berencana menaikkan standar tersebut.

Ia menyebut, terdapat beberapa keuntungan yang didapat dari menjadi nasabah priority banking. Salah satunya yaitu fasilitas airport lounge. Kemudian ada diskon di beberapa restoran.

Lalu, Bianto menerangkan kalau terdapat paket keluarga. Jadi, bila ada orang tua yang menjadi nasabah priority banking Permata, maka anaknya yang tabungannya cuma sedikit juga akan mendapatkan keuntungan yang sama seperti orang tuanya. \"Keluarga inti dapat fasilitas yang sama. Itu paling unik,\" klaim Bianto.

Nasabah kaya Permata saat ini ada di posisi sekitar 35.000 orang. Jumlah tersebut tersebar di berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar. Namun Bianto menyebut bahwa dominasi nasabah kaya masih di Jakarta.

Sementara, terkait program uji coba bank tanpa cabang (branchless banking) yang akan segera dilakukan Bank Indonesia (BI), Bank Permata menyatakan bahwa pihaknya tak akan berpartisipasi di dalamnya. \"Kami tak ikut pilot project tersebut,\" imbuhnya.

Alasannya, untuk mengembangkan branchless banking, harus ada infrastruktur yang harus dibangun perseroan. Selain itu, mereka juga harus membuat linkage yang lebih baik. Meski begitu, dia bilang bahwa pihaknya akan mempelajari bagaimana branchless banking dilakukan saat uji coba tersebut berlangsung.

\"Itu yang sedang kami pelajari. Supaya itu dapat memperkuat bisnis kami ke depannya,\" ucapnya.

Saat ini, Bianto mengungkapkan bahwa Permata masih melakukan evaluasi. Ini untuk melihat model yang tepat untuk menjalankan branchless banking.

Sebelumnya, BI menyebut bahwa ada 3 model yang diperbolehkan untuk program branchless banking. Pertama yaitu bank led, kedua adalah telko led, dan ketiga yakni hybrid yang merupakan gabungan dari bank dan telko. BI juga akan meluncurkan uji coba konsep tersebut pada 15 Mei 2013. [ria]