Kontribusi Investasi Terhadap PDB Makin Menurun

Tahun Ini

Rabu, 15/05/2013

NERACA

Jakarta - Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk, Destry Damayanti mengatakan, kontribusi investasi terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) akan semakin menurun pada tahun ini. Pasalnya, hal tersebut ada faktor ekonomi dan non-ekonomi. Sumbangan investasi terdahulu memang tinggi, namun saat ini, khususnya triwulan I 2013, kontribusi investasi hanya 1,4% terhadap PDB secara keseluruhan.

“Investasi langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) hanya naik sedikit di periode tiga bulan pertama tahun ini. Satu hal yang menyelamatkan (neraca pembayaran) di triwulan pertama adalah net ekspor karena angkanya positif. Ke depan, kita berharap investasi tidak terlalu tinggi sementara impor akan turun lebih dalam. Kita ketahui selama ini kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi memang berasal dari konsumsi masyarakat,” kata Destry di Jakarta, Selasa (14/5).

Terkait investasi, terutama FDI, lebih banyak masuk ke sektor manufaktur. Tetapi proses industrialisasi di Indonesia memang masih berjalan lambat. Hal ini, tutur Destry, sudah disadari Pemerintah. Oleh karena itu, Pemerintah akan lebih memperkuat sektor industri atau manufaktur, misalnya, dengan mewajibkan pihak produsen asing untuk membangun pabrik suku cadangnya di Indonesia.

“Padahal sektor (industri) ini menyerap tenaga kerja yang besar sehingga memang harus diperkuat. Dengan begini, Indonesia tidak hanya menjadi pasar saja, tapi mendapatkan value added juga,” imbuhnya. Destry mengungkapkan, berdasarkan riset dari berbagai media internasional misalnya, The Economist bahwa Indonesia masih tercatat sebagai negara yang paling menarik ketiga, di bawah Cina dan India, sebagai tempat untuk investasi utama di Asia.

“Seperti data dari BKPM juga bahwa 70% investasi langsung yang masuk Indonesia adalah dari asing. Rasio investasi langsung terhadap keseluruhan investasi di PDB sekarang sudah 11-13%. Asing memang punya confident untuk memasukkan FDI di Indonesia. Tapi investasi FDI di negara lain, seperti Malaysia dan Singapura sudah double digit,” ungkapnya.

FDI di Indonesia, ujar dia, masih banyak masuk ke sektor industri menengah dan kecil, lalu investor asing tersebut membuat pabrik di sini, dan memakai tenaga kerja kita. Ini positif untuk perekonomian Indonesia, khususnya untuk sektor manufaktur. Dan ini membuat penyerapan tenaga kerja lebih besar. Investor asing tertarik masuk ke sini juga karena suku bunga di negara kita masih tinggi, sehingga itu akan memberikan return yang cukup besar untuk mereka.

“Suku bunga di negara lain (khususnya negara maju) sangat rendah, dikarenakan likuiditas global juga semakin besar, akibat hampir semua bank sentral menstimulus pasarnya. Pada akhir tahun lalu investasi asing yang masuk sekitar Rp40 triliun, sementara sampai Mei tahun ini sudah sampai sekitar Rp30 triliun, karena di sini suku bunga kita masih tinggi dan nilai rupiah juga stabil. Mereka (investor asing) memandang BI sangat kredibel dalam me-manage nilai tukar,” paparnya.

Pengaruh kenaikan harga BBM

Mengenai pertumbuhan ekonomi, Kelompok Ekonom Bank Mandiri (KEBM) juga menurunkan proyeksinya menjadi 6,15% pada akhir tahun ini, dari yang sebelumnya 6,3%. “Di triwulan pertama, memang pertumbuhan ekonomi kita melambat sekali yakni hanya 6,02%. Sedangkan proyeksi semula antara 6,08%-6,1%. Di kuartal kedua, masih akan lebih baik dibandingkan triwulan pertama yakni di 6,1%. Jadi kita juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi di tahun ini,” ucapnya.

Destry mengakui bahwa perekonomian Indonesia memang mengalami perlambatan di triwulan pertama 2013 lalu, bahkan di sektor transportasi yang biasanya cukup tinggi. Kemudian, impor bahan baku masih akan tinggi, tapi impor barang modal melambat, sehingga menyebabkan surplus neraca perdagangan sebesar US$0,31 miliar di Maret 2013 dari defisit di Februari 2013 yang sebesar US$0,33 miliar.

“Kepercayaan investor juga akan terpengaruh oleh kebijakan BBM dari Pemerintah. Bahkan outlook peringkat dari S&P kemarin lebih karena tidak adanya kejelasan itu, jadi kalau ini dibereskan mungkin peringkatnya bisa tetap atau meningkat di akhir tahun nanti,” tukasnya.

Kemudian, apabila BBM jadi dinaikkan maka akan bisa menghemat anggaran negara yang akan termuat dalam APBN-P 2013. Ini juga akan mengurangi defisit terhadap PDB. “Kalau menurut Pemerintah angka (defisit) 3,8% (kalau harga BBM tidak naik). Kalau hitungan kita 2,9%. Untuk itu, kalau Pemerintah menaikkan harga BBM, maka mereka harus tetap memotong anggaran. Jadi misalnya saja sudah berhasil menaikkan 33%. Itu penghematannya sekitar Rp37 triliun,” ungkap Destry.

Dia melanjutkan, bila bantuan langsung tunai (BLT), katakanlah, angkanya sama dengan 2008 lalu sebesar Rp14 triliun, maka angka Rp37 triliun dikurangi untuk BLT sehingga menjadi sekitar Rp23 triliun yang bisa dihemat Pemerintah.

Mengingat kenaikan harga BBM itu akan berpengaruh kepada kenaikan inflasi juga, maka dirinya menyarankan agar itu dilakukan secepatnya, sebelum inflasi naik lagi pada bulan Juli dan Agustus mendatang. Terutama supaya bisa menghemat anggaran negara juga.

“Tren inflasi biasanya setelah Maret-April, akan naik lagi. Apalagi di bulan Juli sudah masuk puasa, Agustus masuk lebaran, juga ada masuk sekolah di bulan-bulan itu. Jadi kenaikan BBM itu makin cepat makin baik. Kalau sudah lewat lebaran akan telat sekali. Nanti penghematan anggarannya itu semakin kecil,” pungkasnya. [ria]