Indocement Tingkatkan Keuntungan Dari Margin

Siapkan Capex Rp 3 Triliun

Rabu, 15/05/2013

NERACA

Jakarta – Bisnis penjualan semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) sepanjang kuartal pertama tahun ini kurang aktif, berbeda dengan pesaingnya PT Semen Indonesia Tbk yang justru kebanjiran permintaan. Kurang aktifnya penjualan Indocement, disebabkan perseroan fokus pertumbuhan margin.

Menurut Direktur Keuangan Indocement, Tju Lie Sukanto, kurang aktifnya penjualan di kuartal pertama tahun ini karena perseroan fokus pada pertumbuhan margin, “Pertumbuhan volume penjualan memang tidak banyak, domestik hanya 2,1% dan ekspor 1,4%, namun kami tetap bisa pertahankan pertumbuhan laba 14,6%.”ujarnya di Jakarta, Selasa (14/5).

Diakuinya, kinerja perseroan yang cukup kuat juga membantu menaikan dividen sebesar Rp 450/lembar saham atau setara Rp 1,66 triliun sekitar 34,8% dari total laba bersih yang akan dibayarkan mulai 9 Juli mendatang. Jumlah laba bersih tahun buku 2012 Rp 4,76 triliun dan sisa dari pembagian dividen akan disimpan sebagai cadangan umum.“Keuangan kita masih bagus dengan jumlah kas yang masih dimiliki sekitar Rp 11,2 triliun, perseroan juga tidak memiliki hutang sama sekali,”katanya.

Selain itu, kata Tju Lie mengenai, capex perseroan menginvestasikan dana sekitar Rp 3 – 3,5 triliun untuk pembangunan pabrik yang rencananya selesai pada 2015 mendatang. Disamping itu, perseroan juga memiliki dua proyek yang terletak di Jawa dan luar pulau Jawa.“Realisasi penggunaan capex hingga kuartal pertama tahun ini telah habiskan dana sekitar Rp 200 – 300 miliar, “ungkapnya.

Sementara itu, Indocement membukukan volume penjualan domestik tertinggi dalam sejarahnya yang mencapai 17,9 juta ton untuk tahun 2012 atau 16,1% lebih banyak dari penjualan 2011. Secara bersamaan, pertumbuhan penjualan nasional justru melambat, hanya 14,5%. Ini menyebabkan pertumbuhan pasar pada 2012 hanya naik 0,5% dari tahun sebelumnya yaitu menjadi 32%.

Ekspor Menurun

Meningkatnya permintaan pasar domestik juga berakibat dengan penurunan ekspor hingga 84,5% atau menjadi 0,1 juta ton. Peningkatan permintaan pasar juga disertai peningkatan produksi dengan mencatatkan pendapatan 2012 mencapai Rp 17,3 triliun atau naik 24,5% dari tahun sebelumnya. Kenaikan pendapatan juga disebabkan oleh naiknya harga jual rata-rata semen domestik hingga 7% per ton.

Selain itu, kuartal pertama tahun ini, Indocement mencatatkan pendapatan neto naik 9,6% menjadi Rp 4,2 triliun sedangkan biaya produksi naik 8,5% yang disebabkan oleh tingginya volume bisnis beton siap pakai (RMC) dan juga naiknya upah buruh. Beban usaha juga naik 8,7% atau menjadi Rp 615 miliar yang disebabkan biaya logistik yang lebih tinggi karena mengikuti volume penjualan dan meningkatnya tarif distribusi.

Saat ini, kapasitas produksi Indocement mencapai 18,6 juta ton dan sedang menyelesaikan tahap akhir unit penggilingan semen di Citeureup dengan kapasitas 1,9 juta ton per tahun. Pembangunan pabrik semen (brownfield-plant 14) juga sudah dimulai, dengan kapasitas 4,4 juta ton per tahun yang ditargetkan selesai pada kuartal tiga tahun 2015 di Citereup juga.

Pada 25 Maret kemarin, Indocement telah menandatangani perjanjian dengan Tianjin Cement Industry Design & Research Institute Co.Ltd (TCDRI) untuk penyediaan peralatan konstruksi dan pelaksanaan proyek pabrik P14 Indocement di Citeureup dengan perkiraan nilai mencapai Rp 6,5 triliun. (nurul)