Hatta Klaim Baru Terasa Tahun Depan

Manfaat Kenaikan Harga BBM

Rabu, 15/05/2013

NERACA

Jakarta - Kenaikan harga BBM Bersubsidi yang Pemerintah rencanakan tidak akan menimbulkan ruang yang terlalu besar untuk digunakan di tahun ini. “Tahun depan (2014) nanti sudah lebih ada space kita yang bisa digunakan pembangunan infrastruktur. Tapi kita sekarang menambal dulu defisit yang besar karena penggunaan BBM yang meloncat dari 46 juta jadi 50 juta (kiloliter) lebih, kita tutup dari penghematan itu,” jelas Hatta di Jakarta, Selasa (14/5). Kenaikan tersebut, menurut Hatta, jelas akan menimbulkan inflasi tambahan, yaitu sebesar 1,5% sampai 1,6%. Sementara asumsi dalam APBN inflasi 2013 adalah sebesar 4,9%. Jadi yang jelas inflasi akan lebih dari 6%. “Kita jaga inflasi pangan, makanya kemarin saya putuskan intervensi daging karena ingin menekan harga yang tidak normal sekarang ini,” ujar Hatta.

Pangan menjadi sektor yang krusial karena dianggap berdampak paling besar terhadap masyarakat kecil. Masyarakat miskin menghabiskan separuh lebih uangnya untuk pangan. Pemerintah mencoba menekan inflasi pangan agar masyarakat miskin tidak begitu terkena dampaknya. Selain itu, Pemerintah juga akan menyisihkan dana APBN untuk program bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) yang menurut Menko Kesra, Agung Laksono, jumlahnya akan sekitar Rp14 triliun dengan menyasar 15,5 juta rumah tangga sasaran (RTS). “BLSM itu penting sekali. Saya ingin sampaikan, ini satu paket (dengan kenaikan harga BBM). BLSM penting karena masyarakat kita yang bawah itu kena langsung dampaknya, padahal dia tidak berhubungan dengan BBM. Ini perlu perlindungan, supaya mereka tidak jatuh,” jelas Hatta.

Sementara Menko Kesra, Agung Laksono, sudah berani menyampaikan anggaran untuk BLSM, Hatta tetap belum mau menyebutkan besarannya. “Besarannya saya tidak usah ngomong angkanya dulu. Nanti kalau sudah disampaikan DPR, sudah dibacakan paripurna, baru akan saya sampaikan,” kata dia. Sementara untuk pembedaan harga antara solar dan bensin premium, Hatta berkomentar, “solar itu langsung berhubungan dengan logistik kita, nelayan, angkutan umum luar kota yang jauh-jauh, jadi sangat mempengaruhi cost logistik dan mempengaruhi angkutan orang dan barang jarak jauh. Oleh sebab itu, ini jadi perhitungan kita. Apalagi kita sekarang ingin menekan ongkos logistik dari 14% jadi 10% pada tahun 2014,” ujar Hatta.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menjelaskan bahwa harga solar bersubsidi yang lebih rendah daripada bensin adalah hal yang wajar, andai memang kebijakan harganya seperti itu. “Kalau usulan solar nanti lebih rendah, itu karena solar menyangkut pertama transportasi, menyangkut basic logistic kita,” kata Hatta. Alasan kedua, adalah karena solar digunakan oleh nelayan. “Sebagian solar itu banyak diunakan masyarakat kita pengguna angkutan umum yang paling bawah,” tambahnya. Namun begitu, Hatta belum menjelaskan berapa jumlah subsidi yang akan dipangkas, baik untuk bensin maupun solar.

“Soal berapa besar, itu pembicaraan dengan DPR. Walau DPR sudah memberikan kewenangan pada pemerintah atas dasar UU APBN 2013 untuk memutuskan masalah BBM dinaikkan atau tidak, dalam rapat paripurna dan itu di tangan pemerintah, akan tetapi tetap saja RAPBN diajukan karena beberapa asumsi makro berubah. Termasuk juga terkait penghematan BBM kita, itu juga dalam RAPBN P,” jelas Hatta. Menanggapi penyelundupan solar yang lebih banyak daripada bensin, Hatta hanya berkomentar singkat, “Kalau bicara selundup menyelundup, ya, harus diberantas,” ujar dia. Namun Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Salsiah Alisjahbana sudah mengeluarkan besaran kenaikan yang akan dilakukan Pemerintah, yaitu Rp6.500/liter untuk bensin premium dan Rp5.500 untuk solar.

"Premium (naik) Rp2.000, solar (naik) Rp1.000," kata Armida. Finalisasi kenaikan harga BBM subsidi, lanjut Armida, akan dibahas dalam Sidang Kabinet Terbatas yang dipimpin oleh Presiden SBY. Kemudian baru diserahkan ke DPR dalam bentuk RAPBN-P 2013. "Persisnya besok ya. Kan ini masih finalisasi pemerintah, baru nanti dibahas lagi di DPR," kata Armida. Hal krusial yang masuk dalam finalisasi tersebut adalah bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM). "Berapanya besok, ya, tapi intinya penguatan yang ada itu sudah bolak-balik diceritakan. Program Keluarga Harapan, Raskin, Beasiswa Miskin, lalu program khususnya BLSM 5 bulan Rp150 ribu, rumah tangga sasarannya 15,5 juta, kemudian infrastruktur pedesaan," jelasnya. [iqbal]