Bakrie Building Anggarkan Capex Rp 1,2 Triliun

Sebesar 70% Didanai Utang

Rabu, 15/05/2013

NERACA

Jakarta – PT Bakrie Building Industries unit usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menganggarkan dana investasi pada 2013-2015 sebesar Rp1,2 triliun, “Dana tersebut sebesar 70% didapat melalui pinjaman kepada dua bank dan 30% equity perusahaan, “kata Chief Executive Officer (CEO) PT Bakrie Building Industries, Yogi Pratamo Widhiarto di Jakarta, Selasa (14/5).

Disebutkan, pinjaman dua bank tersebut adalah Bank Artha Graha dan Bank Syariah Nasional. Alasan pinjaman terhadap bank syariah karena perseroan merasa bisnis yang dilakoni cocok dengan pinjaman syariah.

Kata Yogi, tahun ini perusahaan menganggarkan dana Rp300 miliar, sebesar Rp300 pada 2014 dan sebesar Rp600 pada 2015. Nantinya, dana tersebut digunakan untuk ekspansi guna menambah kapasitas produksi perusahaan.

Sementara untuk realisasi hingga kuartal pertama perusahaan sudah menggunakan 15% yang digunakan untuk biaya rutin perusahaan, “Kuartal kedua dan ketiga dana digunakan untuk lahan dan pembelian mesin, baru pada kuartal keempat masuk tahap ekspansi,\"katanya.

Kemudian memasuki tahun 2015, lanjutnya, perseroan juga akan menjajaki bisnis di sektor konstruksi material untuk wilayah pelabuhan dan tol. Sebelumnya, perusahaan juga sudah memasuki llini bisnis tersebut namun hanya mencakup bantalan kereta api.

Selain itu, perseroan juga mengungkapkan, untuk penjualan tahun ini ditargetkan sebesar Rp873 miliar dan di 2014 sebesar Rp1 triliun atau meningkat 34,5% dari tahun lalu yang Rp651 miliar. Sementara untuk realisasi pendapatan hingga kuartal pertama sebesar Rp213 miliar, “Target tersebut sangat realistis mengingat berbagai inisiatif yang sedang dilakukan untuk mendorong pertumbuhan usaha perusahaan. Selain itu pertumbuhan juga didukung oleh optimalisasi produksi dan trading,\" kata CEO PT Bakrie Building Industries, Yogi Pratamo.

Dirinya menjelaskan, kegiatan trading tersebut adalah kegiatan di mana perusahaan mengikuti suatu proyek, misalnya perumahan perkebunan, dalam proyek tersebut akan menggunakan sebagian dari produk perusahaan sebagian menggunakan produk dari luar. Sementara untuk EBITDA ditargetkan hingga akhir tahun sekitar 14% atau Rp120 miliar, namun realisasi hingga kuartal pertama mencapai Rp33 miliar atau naik dibandingkan sebelumnya Rp22 miliar. (bani)