Pelanggan Listrik Prabayar Tembus 9,7 Juta

Hingga Mei 2013

Rabu, 15/05/2013

NERACA

Jakarta – Kendati pelanggan listrik prabayar ditargetkan mencapai 10 juta di akhir tahun 2013, namun per Mei 2013, PT Perusahan Listrik Negara (Persero) mencatat pelanggan listrik prabayar telah mencapai 9.741.000. Hal ini seperti dikemukakan oleh Kepala Divisi Niaga PLN Benny Marbun di kantor PLN Pusat, Jakarta, Selasa (14/5).

“Per Mei 2013, posisi pelanggan listrik prabayar telah mencapai 9.741.000 pelanggan. Hasil ini di luar ekspektasi kami yang tahun ini saja 10 juta pelanggan baru. Dua bulan lagi patokannya juga sudah bisa terlampaui,” ungkap Benny.

Secara akumulatif hasil terbesar yang akan berkontribusi pada peningkatan pelanggan baru pra bayar melebihi 10 juta pelanggan berada di Pulau Jawa. Namun, Benny menyebutkan, secara per unit kontribusi wilayah timur Indonesia cukup mendorong pertumbuhan pelanggan pra bayar selama triwulan pertama tahun ini.

"Jawa akan berkontribusi besar terhadap peningkatan pelanggan pra bayar baru. Namun Indonesia timur, pelanggan pra bayar baru secara per unit juga mendorong hal tersebut, khususnya di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT)," tutur dia.

Benny menambahkan, kedua daerah yakni NTB dan NTT memberi kontribusi pada peningkatan pelanggan pra bayar baru sebesar 50%-60% seiring tingginya pemanfaatan listrik di daerah tersebut. "Sepanjang masifnya pertumbuhan pelanggan pra bayar, ini juga didorong dari migrasi pelanggan pasca bayar guna efisiensi pemanfaatan listrik," ujar dia.

Sementara itu, Direktur Utama PT PLN Nur Pamudji mengatakan pihaknya akan menerapkan cara baru untuk mengisi listrik prabayar pelanggan. Cara ini diklaim lebih cepat dan mudah. Selama ini, pelanggan prabayar PLN saat harus mengisi pulsa untuk listriknya harus memencet tombol agar jumlah top up yang diinginkan bisa masuk. Masalahnya, untuk pelanggan besar seperti papan iklan ataupun listrik di Base Transceiver Station (BTS) akan susah melakukan hal tersebut.

"Memang terobosan baru ini untuk menyasar pelanggan high end. Nantinya meteran listrik akan dibuat lebih istimewa dan pelanggan bisa isi listrik prabayarnya via ATM. Jadi pelanggan tidak perlu naik ke atas untuk mengisi pulsa listrik prabayarnya," kata Pamudji.

Pamudji menegaskan teknologi ini tentunya akan memerlukan investasi yang mahal, sehingga biaya yang dibebankan ke konsumen juga akan mahal. Otomatis karena memerlukan biaya tinggi, alat meteran listrik prabayar terbaru ini tidak akan diberikan ke pelanggan rumah tangga. Untuk konsumen rumah tangga masih menggunakan meteran biasa seperti yang selama ini ada. "Untuk konsumen rumah tangga belum kita pikirkan penerapannya," tambahnya.

Meski menggunakan teknologi terbaru untuk pengisian meteran listrik prabayar, Pamudji mengatakan bahwa hal tersebut tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap penambahan jumlah pelanggan. "Tidak ada target. Kita hanya ingin melayani pelanggan listrik prabayar agar lebih baik karena mereka berkebutuhan khusus. Apalagi meteran mereka berada di lokasi yang tinggi dan di puncak gedung. Makanya kita memberikan kemudahan atas teknologi terbaru ini," katanya.

Batasi Konsumsi

Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR) Fabby Tumiwa meminta agar PLN harus mengendalikan pertumbuhan konsumsi listrik untuk mengantisipasi meningkatnya naikknya penggunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangkit listrik.

Fabby mengatakan PLN harus melakukan pembatasan terhadap konsumsi listrik pelanggan golongan rumah tangga. Alasannya, konsumsi dari sektor tersebut melonjak paling tinggi diantara sektor lain, sementara rumah tangga tidak produktif. “Peningkatan konsumsi listrik pelanggan rumah tangga beberapa tahun belakangan besar, itu yang harus dibatasi dengan penghematan. Apalagi golongan itu tidak produktif,” katanya.

Fabby mengungkapkan dengan pola konsumsi listrik saat ini penggunaan BBM untuk pembangkit listrik sepanjang 2013 dapat mencapai 6,5 juta kilo liter. Apalagi, saat ini masih ada beberapa proyek pengurangan konsumsi BBM untuk pembangkit tidak selesai sesuai jadwal.

Fabby mencontohkan proyek pemipaan Arun-Belawan yang tidak selesai pada 2013, sehingga kebutuhan listrik di Belawan harus dipenuhi dengan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang menggunakan BBM sebagai sumber energinya.