Konsumsi Listrik Jawa-Bali Capai 21.968 MW - Ukir Rekor Baru

NERACA

Jakarta - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mencatat pada Mei 2013, konsumsi listrik Jawa dan Bali telah menembus rekor yaitu mencapai 21.968 megawatt (MW). Atas dasar itu, berarti telah kenaikan beban penggunaan listrik pada sistem Jawa Bali di saat WBP sebanyak 731 MW atau naik sekitar 3,4% dari rekor beban puncak tujuh bulan lalu, yaitu 21.237 MW yang terjadi pada 15 Oktober 2012.

Kepala Divisi Niaga PLN Benny Marbun mengungkapkan dengan tembusnya rekor menjadi sinyal bahwa pertumbuhan perekonomian dengan konsumsi listrik cukup bagus. Namun ia menyayangkan rekor tersebut tercapai pada beban puncak antara pukul 18.00-22.00. \"Kami senang dengan penjualannya akan tetapi sedikit negatifnya adalah rekor beban puncak di Jawa Bali menjadi tertinggi yaitu 21.968 MW,\" ungkap Benny saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (14/5).

Ia menjelaskan dari kenaikan beban listrik sebanyak 731 MW ini, sekitar 488 MW (67%) terjadi di wilayah timur dari Sistem Jawa Bali yaitu Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali. Sedangkan sisanya yaitu 243 MW (33%) terjadi di wilayah barat yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. \"Saat ini, dari total 21.968 MW beban listrik Jawa Bali, sekitar 61% beban listrik atau 13.338 MW berada di barat, sedangkan 39% beban atau sekitar 8.630 MW berada di wilayah timur,\" papar dia.

Benny mengatakan bahwa rekor tersebut di capai lantaran penggunaan listrik oleh rumah tangga, pusat perbelanjaan tidak terkontrol. \"Beban puncaknya antara pukul 18.00-22.00, rumah tangga dan mall itu berkontribusi cukup besar. Namun kalau industri besar cenderung menggunakan listrik stabil selama 24 jam. Akan tetapi kalau industri menengah lebih menggunakan listrik tidak di beban puncak,\" tambahnya.

Jika konsumsi listrik pada pukul 18.00-22.00 terus mengalami peningkatan maka mau tidak mau PLN harus menyediakan pembangkit listrik lebih banyak untuk menyeimbangkan konsumsi listrik. Hal ini, kata Benny, yang akan terus dipantau oleh pihaknya. Karena konsentrasi PLN dalam menyalurkan listrik ada di skala industri dan bisnis. \"Misalnya ada perusahaan yang ingin membangun pabrik dan membutuhkan listrik. Akan tetapi listrik pada jam-jam puncak beban (18.00-22.00) sudah melebihi daya, maka bisa saja perusahaan tersebut tidak jadi investasi di sini,\" katanya.

Maka dari itu, lanjut Benny, konsumsi listrik pada jam puncak beban perlu dikurangi agar bisa hemat listrik. Selain itu, alokasi dana untuk pengadaan pembangkit listrik yang baru karena menyeimbangkan konsumsi juga bisa dialihkan untuk pemeliharaan dan distribusi listrik ke daerah-daerah yang belu teraliri listrik. \"Kalau bisa, untuk rumah tangga menggunakan listrik jangan pada jam beban puncak. Atau paling tidak bisa dihemat penggunaannya,\" ujarnya.

Benny juga mengatakan, pertumbuhan konsumsi listrik untuk kelompok pelanggan industri masih tergolong tinggi mencapai 9% yang terutama dikontribusi oleh kelompok pelanggan skala sangat besar seperti pabrik semen dan baja.

Di sisi lain, Benny menyebutkan, industri tekstil dan pabrik kimia juga memberi kontribusi yang cukup besar dalam hal konsumsi listrik oleh kalangan industri. \"Berarti sektor penggerak utama perekonomian tetap bergairah yang pada akhirnya diharapkan dapat menyediakan tambahan lapangan pekerjaan dan mengurangi kemiskinan,\" ujar Benny.

Industri Produktif

Melihat fenomena tersebut, PLN terus berusaha memenuhi komitmennya untuk menyediakan listrik kepada kalangan industri produktif yang sekaligus menjadi komitmen Perseroan untuk ambil bagian dalam pembangunan nasional. \"Untuk mendukung pertumbuhan konsumsi yang menggerakan perekonomian pasokan listrik kepada sektor-sektor produktif seperti konsumen komersil dan industri tetap mendapat perhatian khusus agar kualitas dan kontinuitas pasokan listrik dari waktu ke waktu semakin baik,\" tegasnya.

Diakui Benny, pihaknya berharap dengan ketersediaan pasokan listrik untuk sektor industri yang berkelanjutan dapat mendorong calon investor tertarik untuk menanamkan sahamnya di tanah air. \"Ini tantangan bagi PLN, untuk pertahankan kelompok bisnis dan industri. Pasokan listrik untuk bisnis dan industri harus diperhatikan, jangan sampai terganggu kan lagi bertumbuh. Ini membuat calon investor pun bagus melihatnya seperti ini, wah ada pasokan listriknya,\" imbuhnya.

Ia juga menjelaskan konsumsi listrik Indonesia yang besar ini juga telah mengalahkan pertumbuhan konsumsi listrik negara lainnya seperti Vietnam dan Thailand. Konsumsi listrik melebihi periode yang sama di tahun lalu. “Ini menjadi sesuatu yang menggembirakan, kami memperkirakan semula ada gonjang ganjing mulai dari isu buruh, upah, kenaikan TTL (tarif tenaga listrik), lesunya ekonomi di dunia, makin gencar China, kami semula agak khawatir penjualan yang kami targetkan bisa mencapai 9-10% bisa tercapai,” katanya.

Meski tidak menyebutkan perbandingan angka pastinya, Benny menyebut capaian ini melampaui pertumbuhan konsumsi listrik di Vietnam dan Thailand. \"Tetangga kita Thailand, Vietnam tertahan itu karena perekonomian dunia masih lesu, itu berdampak pada penjualan atau produksi listrik mereka,\" tambahnya.

Related posts