Meter Prabayar PLN, Solusi Atau Masalah?

Listrik prabayar kini telah menjadi trend di perumahan-perumahan modern, namun sebagaian orang enggan menggunakannya karena dianggap lebih boros dan lebih mahal dibandingkan listrik dengan sistem pembayaran pascabayar.

NERACA

Layanan ini juga dikenal dengan sebutan \"Listrik Pintar\". Mahalnya pemakaian listrik dan ketidakakuratan meteran listrik adalah beberapa faktor yang membuat tagihan listrik melambung. Atas pertimbangan tersebut, PLN memperkenalkan layanan listrik prabayar yang bisa mengatur sekaligus mengecek pemakaian listrik sendiri.

Seperti diutarakan di atas tadi, cara kerja \"Listrik Pintar\" pada dasarnya mirip dengan voucher isi ulang handphone. Pelanggan tinggal membeli pulsa listrik dengan nominal tertentu, masukkan kode token pada meteran, dan setrum listrik pun akan bertambah.

Tapi, hal ini justru sangat mengganggu sebagian orang yang kadang terpaksa menggunakannya, selain bunyi pengingat pulsa yang sangat mengganggu saat berbunyi walaupun pulsa belum habis, dan yang paling menakutkan, listrik bisa mati saat pulsa habis. Hal ini seperti memberikan pekerjaan baru kepada penggunanya, seperti bayi 5 tahun, “Listrik Pintar” ini harus terus dijaga dan diperhatikan.

Bila dibandingkan dengan listrik pascabayar, hal ini sangatlah merepotkan pengguna. Solusinya adalah kita harus memasukan pulsa listrik sebanyak-banyaknya agar tidak berbunyi yang sangat mengganggu dan mati tiba-tiba disaat yang tidak di inginkan.

Sedangkan mengenai harga, saat pemasangan listrik prabayar dikenakan biaya Rp20.000 untuk pemasangan alat listrik prabayar yang kemudian diganti dengan pulsa/token 33 kWh. Katakanlah biaya pemasangan tersebut gratis karena diganti pulsa listrik. Kemudian membeli pulsa senilai Rp100, nilai uang tersebut setara dengan 158 kWh setelah dipotong PPN dan administrasi bank senilai Rp5.000. Jadi dengan biaya Rp120.00 untuk 191 kWh ( 33 kWh + 158 kWh).

Kemudian bila dibandingkan dengan Simulasi untuk tarif listrik pascabayar melalui website : www.pln.co.id. Untuk pemakaian 191 kWh dengan golongan tarif rumah tangga dan batas daya 900 VA, menurut ketentuan 1 April 2013 s.d. 30 Juni 2013 adalah Rp.605/kWh, hanya membutuhkan biaya Rp115.555. Menurut perhitungan justru tarif listrik prabayar lebih mahal dibandingkan listrik pascabayar.

Terminal listrik prabayar ini juga berbeda dengan terminal listrik pascabayar, diterminal listrik prabayar ini dilengkapi tombol-tombol angka seperti pesawat telepon. Angka-angka itulah yang alat untuk memasukan kode pulsa, tentunya dilengkapi oleh layar kecil sebagai penunjuk angka atau penunjuk pulsa yang tersimpan.

Memang bila diperhatikan, pengisian pulsanya memang cukup mudah. Pulsanya pun sudah banyak yang menjual, dari warung-warung biasa hingga minimarket. Seperti halnya pulsa isi ulang pada telepon seluler, maka pada sistem listrik pintar, pelanggan juga terlebih dahulu membeli pulsa (voucher/token listrik isi ulang) yang terdiri dari 20 digit nomor. Lalu, 20 digit nomor token tadi dimasukkan (diinput) ke dalam kWh Meter khusus yang disebut dengan Meter Prabayar (MPB) dengan bantuan keypad yang sudah tersedia di MPB. Kelebihan lainnya, pengguna listrik prabayar tidak akan terganggu lagi dengan kedatangan petugas pln yang biasa mengecek meteran listrik.

Meter prabayar ini pun memiliki beragam merek, diantaranya Merk Actaris / Itron, Hexing, Star, Landis Gyr, Conlog, Glomet, Holey. Meski mereknya beragam, namun penggunaannya tetap sama. Pelanggan lebih mudah mengendalikan pemakaian listrik. Melalui meter elektronik prabayar, pelanggan dapat memantau pemakaian listrik sehari-hari dan setiap saat.

Di meter tersebut tertera angka sisa pemakaian kWh terakhir. Bila dirasa boros, pelanggan dapat mengerem pemakaian listriknya. Selain itu pengguna tidak akan terkena biaya keterlambatan. Tidak ada lagi biaya tambahan bayar listrik dikarenakan terbebani biaya keterlambatan akibat lupa bayar tagihan listrik. Sekarang tinggal anda yang memilih, mau gunakan listrik dengan meter pascabayar atau prabayar.

Related posts