Apakah Indonesia Siap Memasuki ASEAN Economic Community (AEC) 2015? - Oleh: Ir. Gustami Harahap, MP, Staf Pengajar Fakultas Pertanian, Program Studi Agribisnis, Universitas Medan Area, Medan

Presiden SBY mengatakan pada konferensi pers di Bandar Seri Bengawan, Brunei Darusalam (26/4), bahwa Indonesia harus siap, jangan sampai mengeluh mengatakan tidak siap, \"Let’s do something together (mari kita lakukan bersama),\" ujar SBY terhadap perjanjian AEC seperti dikutip Harian Analisa (27/4).

AEC ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh anggota ASEAN melalui kerjasama ekonomi dan perdagangan intra dan antar negara anggota agar mampu menghadapi persaingan ekonomi pada lingkup regional dan global. AEC diharapkan semua negara ASEAN akan mengembangkan Konektivitas baik fisik, kelembagaan dan sumberdaya manusia seperti yang tercantum pada Master Plan ASEAN. Konektivitas fisik melalui transfortasi, ICT dan energi, sedangkan Konektivitas kelembagaan melalui liberalisasi perdagangan dan fasilitas, investasi, jasa, daerah perbatasan dan program capacity building. Konektivitas sumberdaya manusia melalui pendidikan dan budaya dan pariwisata.

Konsekuensi dari kesepakatan AEC ini, maka produk-produk industri, pertanian, manufaktur dan lainnya akan bebas keluar masuk di negara-negara ASEAN. Oleh karena itu di lingkungan masing-masing negara ASEAN akan mempersiapkan langkah-langkah strategis bagaimana kebijakan dan mempersiapkan sarana dan prasarana yang harus dilakukan dari level bawah sampai ke level atas, sehingga melahirkan suatu kebijakan yang sesuai dengan tuntutan dari kesepakatan AEC.

Konsentrasi yang harus dikembangkan dengan adanya perjanjian AEC ini adalah kesiapan Indonesia untuk melakukan penguatan agroindustri dan agribisnis produk yang merubah konsentrasi penciptaan produk yang berasal dari on-farm menjadi produk yang off-farm . Mekanisme kinerja agroindustri dan agribisnis ini masih dikuasai oleh perusahan-perusahaan besar, terutama usahatani dengan kondisi skala usaha tani kecil pada prinsipnya belum tersentuh dengan adanya konsep agroindustri, oleh karena itu di pusat-pusat pengolahan bahan baku menjadi barang jadi (off farm) petani kecil hanya bertindak sebagai pensuplai dalam skala kecil, dikarenakan ekonomi kelembagaan : seperti Koperasi Unit Desa (KUD) belum bekerja secara optimal di lingkungan petani kecil.

Piranti kebijakan sesungguhnya tidak begitu jauh dibandingkan dengan di beberapa begara ASEAN, dikarenakan kondisi perhatian berikut dengan pengelolaan sesungguhnya diperkirakan sama, akan tetapi diduga dari produktivitas dan adopsi teknologi menunjukkan bahwa adanya perbedaan-perbedaan yang tidak begitu jauh. Namun yang menjadi pertimbangan agar perdagangan terjadi di negara-negara ASEAN, pasti pertimbangan ekonomi lebih dominan untuk dapat dipertimbangkan sebagai tolok ukur untuk menentukan kebijakan yang lebih tepat yang harus dilakukan pada seluruh stakeholders yang terkait. Pertimbangan ekonomi yang lebih relevan dalam konteks ini adalah keunggulan absolut dan keuanggulan komperatif (Absolute and Comperative adventage) di dalam pengelolaan suatu komoditas.

Pertukaran Informasi

Adanya spesialisasi dalam produksi pertanian antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, merupakan pertimbangan yang memberi refleksi dan menimbulkan perdagangan dalam arti keuntungan absolut itu tercapai jika biaya produksi setengah dibanding dengan negara lain dalam memproduksi komoditas pertanian yang sama. Oleh karena itu sudah saatnya diinventarisasi komoditas eksport yang mempunyai keunggulan absolut, sehingga di masing-masing negara ASEAN dapat diketahui secara simultan komoditas apa yang mempunyai spesialisasi di antara masing-masing negara ASEAN. Pertukaran informasi di masing-masing agen di antara negara ASEAN dapat dilakukan terutama di Indonesia penyebaran pertukaran informasi itu dapat dilakukan melalui dunia maya, sehingga dari 33 propinsi yang terdekat dengan negara eksport di kawasan ASEAN dapat menentukan langkah-langkah dan kebijakan sekaligus menekan biaya distribusi dan pemasaran.

Keunggulan Komperatif (comperative adventage) adalah rasio keuntungan di dalam memproduksi suatu komoditas adalah paling tinggi. Artinya berbeda dengan keunggulan absolut yang menganalogkan bahwa perbandingan biaya dimaksud misalkan 1 : 2, sedangkan dimaksudkan keunggulan komperatif dapat dianalogkan dengan perbandingan biaya produksi 1: 3. Teori ini menjelaskan bahwa suatu negara akan melaksanakan eksport suatu barang apabila mempunyai keuntungan komperatif terbesar dan kerugian komperatif yang terkecil. Oleh karena itu suatu negara sudah saatnya menginventarisasi komoditas produk tahunan (perinial crops), produk semusim (annual crops), hortikultura, bunga-bungaan, produk palawija, perikanan, peternakan, terutama di Indonesia sudah saatnya mempersiapkan langkah strategis komoditas di atas yang mempunyai keunggulan absolut dan keunggulan komperatif.

Departemen Pertanian, Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan Departemen Perkebunan dan Kehutanan serta instansi yang terkait (stakeholders), sudah saatnya melakukan integrasi secara horizontal dan integrasi vertical di dalam merumuskan kebijakan yang paling tepat : Terutama di Departemen Pertanian melalui lembaga riset sudah harus melaksanakan dan pengkajian yang sinergis terhadap keunggulan absolut dan keunggulan komperatif seluruh komoditas yang merupakan potensi sumberdaya alam di dalam negeri, maupun di masing-masing propinsi, serta kabupaten, sehingga diperoleh informasi yang bermanfaat untuk membuat kebijakan yang lebih tepat terhadap pelaksanaan eksport, di lain pihak pengkajian dan riset yang dilakukan bukan terbatas pada produk on-farm tetapi juga produk off-farm sehingga keunggulan absolute dan keunggulan produk baik on-farm maupun produk off-farm dapat diketahui.

Selanjutnya persiapan yang harus dilakukan adalah dengan mengklasifikasikan teknologi pengolahan, serta teknologi pasca panen yang harus dilakukan pada komoditas. Klasifikasi teknologi pengolahan yang menghasilkan derivasi penciptaan produk baru sudah saatnya diinventarisasi, sudah sebatas mana, dengan sejumlah sejauh mana yang diperoleh derivasi produk dengan penggunaan satu bahan baku dengan dibantu bahan penolong lainnya baik yang bersifat fisika, biologi, kimia, sehingga menghasilkan produk baru. Klasifikasi ini berguna untuk mengetahui sampai sejauh manakah teknologi pengolahan dan teknologi pasca panen yang diperoleh, sehingga memudahkan untuk mencari serta mengadopsi teknologi baru di luar yang tersedia, atau dengan melakukan pertukuran teknologi sesama nagara ASEAN

Pengaturan yang Sistematis

Di lain pihak petani kecil yang jumlahnya begitu besar harus dimodifikasi menjadi suatu kekuatan agribisnis dengan membangun ekonomi kelembagaan yang kuat di dalam membantu petani dalam penggunaan modal yang mudah untuk diperoleh, serta meningkatkan pengetahuan dan pengelolaan usaha dengan konsep kebersamaan dengan seluruh stakeholders yang ada. Pada dasarnya petani kecil belum sepenuhnya menggunakan sarana produksi dan faktor produksi yang optimal. Oleh karena itu Depertemen Pertanian melalui Petugas Penyuluh Lapangan diperlukan pengaturan yang sistematis, bagaimana misalnya penggunaan pupuk yang bersubsidi dapat dimanfaatkan petani secara langsung, tanpa adanya campur tangan spekulan yang merampas alokasi pupuk subsidi.

Pengelolaan petani kecil untuk menerapkan agro industri dan agribisnis perlu mendapat pembinaan yang intensif. Oleh karena pada umumnya tingkat pendidikan formal mereka yang rendah, skala luas lahan yang kecil, modal yang rendah merupakan ciri dari usahatani yang subsistein yang perlu dibantu dan dibina pemerintah untuk pengembangannya. Oleh karena itu kendala yang paling besar yang dihadapi pemerintah dalam melaksanakan persiapan kebijakan pada instansi yang terkait, terutama dalam pengelolaan usahatani kecil ini yang diduga kurang dapat menerapkan AEC. Pemerintah dapat menerapkan kearifan lokal yang sangat bervariasi dalam mengeksplore sumber daya alam ; Pemerintah diharapkan mampu melaksanakan konektifitas fisik berupa pembangunan infrastruktur yang cukup di segala pelosok di 33 Propinsi di Indonesia. Keadaan ini merupakan faktor keharusan agar keunggulan produksi dapat dilanjutkan.(analisadaily.com)

Related posts