Industri Air Kemasan Tumbuh 9,9%

Kuartal I-2013

Selasa, 14/05/2013

NERACA

Jakarta - Kinerja industri air minum dalam kemasan (AMDK) selama kuartal I/2013 meningkat 9,9% dibandingkan periode yang sama pada 2012. Konsumsi sepanjang kuartal I/2013 sebesar 5 miliar liter, sedangkan pada kuartal I/2012 4,55 miliar liter.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) Hendro Baroeno menyebutkan, permintaan menjadi pemicu utama pertumbuhan tersebut. Sebagai rincian, pada Januari, konsumsi AMDK mencapai 1,7 miliar liter, Februari 1,6 miliar liter dan Maret 1,7 miliar liter.

"Pertumbuhan industrinya signifikan sekali. Permintaannya saat ini lebih besar dari pada supply. Ini akibat dari konsumen yang semakin teredukasi terhadap pemenuhan air minum yang berkualitas," ujar Hendro di Jakarta, Senin.

Hendro memaparkan saat ini konsumsi AMDK sudah mulai meluas ke daerah lain di luar Jawa dan Bali, meski masih mendominasi, terutama kawasan Jabodetabek. Pada 2011 tingkat konsumsi AMDK dari Jabodetabek mendominasi sebesar 39%, dan pada tahun lalu, konsumsi dari kawasan tersebut dan Serang meningkat hingga 45%.

Meski demikian, Hendro memproyeksikan pada tahun ini konsumsi dari Sumatera akan tumbuh signifikan meski tak menyebut angka pasti, sedangkan konsumsi Kalimantan dan Sulawesi masih stagnan.

Hendro menambahkan, pada tahun ini Aspadin menargetkan konsumsi AMDK meningkat 11,1% atau 22 miliar liter dibandingkan dengan realisasi konsumsi pada tahun lalu sebanyak 19,8 miliar liter. Tak hanya itu, Hendro menargetkan konsumsi dapat tumbuh 12% hingga 13% pada semester ini.

Pembangunan Pabrik

Di tempat berbeda Wakil Sekretaris Jenderal Aspadin, Sudarman Bolo mengungkap kalau industri air minuman dalam kemasan di Indonesia bakal kian semarak. Hal itu seiring rencana pendirian minimal dua perusahaan air minum kemasan di tahun ini. Perusahaan tersebut rencananya berlokasi di Jawa dan Sumatera.

Sudarman mengatakan berdirinya kembali industri air minum kemasan tersebut karena melihat pasar dan permintaan air kemasan yang terus tumbuh. "Saat ini pemerintah menargetkan kontribusi perluasan jangkauan ketersediaan air minum yang sehat untuk dikonsumsi dan peluang ini yang ditangkap para industri," ujar dia.

Namun dia enggan menyebutkan nama perusahaan maupun nilai investasi yang akan ditanamkan perusahaan air kemasan baru tersebut. Yang pasti, perusahaan tersebut berskala menengah maupun besar.

Potensi pasar air kemasan memang masih baik. Pada tahun ini saja, produksinya diperkirakan naik 12% sampai 15% dari dari jumlah produksi pada 2012 sebanyak 19 miliar liter. Di sisi lain, dia menyatakan jika pengusaha belum menaikkan harga jual produknya hingga saat ini kendati mereka telah menanggung beban kenaikan biaya produksi seiring peningkatan upah dan tarif listrik.

Pernyataan ini menanggapi kenaikan harga air minum dalam kemasan sudah mulai terjadi di tingkat eceran. "Kami sebagai asosiasi belum menerima laporan dari para pelaku jika mereka telah menaikkan harga," tutur dia.

Sudarman menduga kenaikan harga merupakan pembentukan pasar, di mana kebutuhan yang tinggi tak seimbang dengan pasokan. Hal itu, kata dia, karena beberapa wilayah di Jakarta masih kesulitan mendapatkan pasokan air minum kemasan karena akses yang masih terdampak banjir."Pengiriman sedikit tersendar di depot tertentu dan mempengaruhi pasokan," tegas. Dia pun berharap kondisi tersebut segera berubah sehingga pasokan kembali lancar.

Industri Mamin

Masih terkait usaha minuman kemasan, konsumsi masyarakat di dalam negeri sudah pasti ikut mengerek pertumbuhan Industri makanan dan minuman (mamin) yang ada. Terlebih lagi pertumbuhan industri makanan minuman (mamin) pada kuartal II diproyeksikan menguat menembus angka 6%, lebih besar dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama di 2012 sebesar 4%.

Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Benny Wahyudi, menuturkan pertumbuhan pada kuartal kedua dimungkinkan menguat menyusul regulasi pemerintah yang kian longgar terkait penyediaan bahan baku industri mamin. "Kemarin ini kan masalahnya bahan baku. Walaupun prosentasenya sedikit tapi bahan bakunya nggak ada di dalam negeri, jadi industrinya nggak jalan. Tapi itu sudah lewat. Pemerintah sudah menyadari hal itu," kata Benny, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut dia, terpuruknya pertumbuhan industri mamin pada kuartal satu akibat dua masalah pokok yakni regulasi dan bahan baku. Dia mencontohkan, seperti industri mie instan yang membutuhkan bawang putih sebagai bahan bakunya. Pada kuartal I tidak mencetak pertumbuhan menggembirakan karena ada masalah importasi bawang.