Produksi Kecambah Sawit Ditaksir Turun 1 Juta - Sektor Perkebunan

NERACA

Jakarta – Pemerintah memprediksi penurunan produksi benih tanaman kelapa sawit di 2013 ini sebesar satu juta kecambah dibanding tahun lalu yang mencapai 175 juta kecambah. Di 2013 ini, produksi benih sawit diraksir hanya sebesar 174 juta kecambah.

Hal itu diungkapkan Direktur Tanaman Tahunan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Herdrajat Natawijaya di Jakarta, Senin. Menurut dia, salah satu penyebab turunnya produksi benih kelapa sawit tahun ini karena melambatnya ekspansi perkebunan kelapa sawit. Sepanjang 2012 produksi benih sawit domestik dipatok 175 juta kecambah, namun hingga akhir tahun ternyata produksi itu terlalu banyak, sehingga sebagian kecil dari benih yang tidak laku terpaksa dibakar.

Perlambatan kemampuan perusahaan kelapa sawit untuk memperluas arealnya juga berdampak terhadap penyerapan benih sawit. “Karena itu, tahun ini produksi diperkirakan lebih rendah satu juta kecambah dari tahun lalu,” katanya.

Herdrajat mengatakan, ada indikasi pelaku usaha perkebunan sawit kini mencari lahan ke Afrika, Kamerun, dan Liberia karena mereka berpikir lahan di Indonesia sudah terbatas, sebaliknya di negara- negara tersebut dinilai cenderung lebih mudah untuk mencari lahan. Selain itu, rencana produksi benih sawit sebanyak 174 juta kecambah itu dihasilkan 10 perusahaan sumber benih sawit, yaitu PT London Sumatra sebanyak 23 juta kecambah, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) 30 juta kecambah, PT Socfin Indonesia 40 juta kecambah, PT Bina Sawit Makmur 17,5 juta kecambah, dan PT Dami Mas Sejahtera sebanyak 20 juta kecambah. Selanjutnya, PT Tunggal Yunus Estate 20 juta kecambah, PT Tania Selatan 5 juta kecambah, PT Bakti Tani Nusantara 7 juta kecambah, PT Sarana Inti Pratama 6,5 juta kecambah, dan PT Sasaran Ehsan Mekarsari 5 juta kecambah.

Adapun produksi benih sawit pada 2012 sebanyak 175 juta kecambah terbagi kepada PPKS 30 juta kecambah, PT Socfin Indonesia 28 juta kecambah, PT London Sumatra 23 juta kecambah, PT Bina Sawit Makmur 17,5 juta kecambah, dan PT Dami Mas 20 juta kecambah. Lalu PT Tunggal Yunus Sejahtera 20 juta kecambah, PT Tania Selatan lima juta kecambah, PT Bakti Tani Nusantara delapan juta kecambah, PT Sarana Inti Pratama 6,5 juta kecambah, dan PT Sasaran Ehsan Mekarsari lima juta kecambah.

Petani Sawit

Masih terkait dengan sektor perkebunan sawit, engamat pertanian Bungaran Saragih memprediksi bahwa akan ada pertumbuhan pesat pada petani swadaya yang mengelola perkebunan sawit. \"Saat ini jumlah petani sawit swadaya mencapai 44%, saya memprediksi pada 2020 akan meningkat jumlahnya mencapai 70%,\" ungkap Bungaran.

Ia menjelaskan bahwa petani swadaya lebih mudah membuka lahan sawit baru dibandingkan dengan perusahaan yang membutuhkan lahan yang jumlahnya ribuan hektar. \"Kalau perkebunan besar ingin membuka lahan membutuhkan 5.000 hektar, kalau tidak ada lahan tersebut maka tidak akan mau buka lahan,\" tambahnya.

Hal itu berbanding terbalik dengan petani sawit swadaya yang hanya membutuhkan sedikit lahan. \"Kalau petani swadaya, jika ingin membuka lahan cukup menyiakan 5-10 hektar di lahan kosong yang sudah tidak produktif. Saat ini banyak petani yang ingin buka perkebunan sawit. Akan tetapi kalau perusahaan besar mau buka perkebunan sawit maka harus mengambil area hutan karena area nya sangat luas,\" tambahnya.

Dengan meningkatkan petani swadaya, lanjut Bungaran yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertanian era Megawati, maka akan berdampak pada penurunan orang miskin. \"Tujuan pembangunan adalah mengurangi kemiskinan sedangkan sawit adalah komoditi yang paling menguntungkan dan bisa membawa petani keluar dari jurang kemiskinan,\" tuturnya.

Bungaran kembali menuturkan, pengelolaan kebun sawit yang baik harus dilakukan petani swadaya agar aspek sustainability diterapkan secara menyeluruh. Pemerintah, kata dia juga harus turut serta dalam membantu petani swadaya. Pemerintah, lanjut Bungaran, harus turut serta dalam mengorganisir, mendidik, dan menyediakan dana bagi petani swadaya untuk sustainability sawit. \"RSPO membantu sertifikasinya,\" tukas Bungaran. Berikut jumlah petani swadaya di seluruh dunia antara lain Indonesia 44%, Malaysia 41%, Thailand 76%, dan Papua Nugini 42%.

BERITA TERKAIT

Harga Avtur Turun, Maskapai Diminta Turunkan Harga Tiket

    NERACA   Jakarta - Sejumlah kalangan meminta maskapai penerbangan nasional menurunkan harga tiket pesawat menyusul penurunan harga avtur.…

Sektor Pangan - CIPS Sarankan Bulog untuk Tinjau Ulang Skema Penyerapan Beras

NERACA Jakarta – Bulog perlu meninjau ulang skema penyerapan beras yang selama ini dilakukan. Ditemukannya beras busuk di Sumatra Selatan…

PGN Raup Laba Bersih US$ 304,99 Juta

NERACA Jakarta- Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih 54,90% secara tahunan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kenaikan Investasi dan Ekspor Manufaktur Wujudkan Ekonomi Sehat

NERACA Jakarta – Pemerintah sedang memprioritaskan peningkatan investasi dan ekspor guna memperbaiki struktur perekonomian nasional. Dua faktor tersebut, juga menjadi…

ASN Milenial Diandalkan Dalam Industri Digital

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus membangun Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menyongsong era revolusi industri 4.0, termasuk menyiapkan Aparatur…

Stimulus Investasi - Pemerintah Segera Gelontorkan Insentif ‘Super Deductible Tax’

NERACA Jakarta – Pemerintah segera merealisasikan skema pemberian insentif fiskal berupa keringanan pajak untuk industri yang berinvestasi untuk kegiatan vokasi…