Pemerintah Usung Gerakan Tanam Pohon Karet

Harga di Pasar Dunia Melemah

Selasa, 14/05/2013

NERACA

Jakarta - Saat ini harga karet di pasar internasional sedang melemah. Namun begitu, hal ini merupakan sinyal positif bagi para petani Indonesia untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Untuk itu, pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Pertanian akan merencanakan gerakan nasional menanam pohon karet melalui kegiatan replanting. Hal ini seperti dikumukakan Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan di Jakarta, Senin (13/5).

Ia menjelaskan di kala rendahnya harga karet maka harus disikapi dengan melakukan replanting pohon karet. "Rendahnya harga karet harus disikapi dengan baik, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan replanting pohon karet yang menurun produktivitasnya," ujarnya.

Pemerintah juga berupaya untuk kembali kerja sama trilateral Indonesia Triparite Rubber Council (ITRC) yang terdiri dari produsen karet terbesar dunia yaitu Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Rusman menjelaskan bahwa kerjasama trilateral tersebut untuk mengendalikan harga karet di pasar dinia. Namun, kata dia, kerjasama tersebut telah berakhir pada Maret 2013 lalu.

Sejauh ini, Kementerian Pertanian telah menyiapkan lahan sebesar 450 ribu hektar dengan anggaran diperkirakan mencapai Rp3 triliun. "Dari total lahan tersebut, sebagian besar akan diprioritaskan untuk replanting tanaman sedangkan sebagian kecil berupa perluasan lahan," tuturnya.

Selain itu, gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan yang milik petani harus mencapai 2 ton per hektar. Namun, pada saat ini produksi masih sekitar 1 ton per hektar. Direktur Tanaman Tahunan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian Herdrajat Natawidjaya menambahkan gernas karet siap dimulai efektif pada 2014. Rencananya, gernas karet akan dilakukan di atas lahan seluas 450 ribu hektare selama tiga tahun atau berakhir pada 2017. "Proposalnya sudah ada di tangan Presiden. Tinggal menunggu arahan dari beliau," kata Herdrajat. Sayangnya, Herdrajat tidak mengatakan besaran anggaran untuk program gernas karet.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu terjadi penurunan harga karet yang biasanya Rp15.000 sampai Rp20.000 per kilogram namun menurun mencapai Rp7.000 per kilogram. Hal ini terjadi karena permintaan dunia terhadap komoditas karet menurun sehingga membuat eksportir karet menurunkan volume pembelian karet pada tingkat petani.

Namun demikian, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menilai penurunan harga karet masih dalam kisaran yang baik. Saat ini harga berada di bawah US$3 per kilogram. Bayu memperkirakan harga karet masih bisa naik pada kisaran US$3-3,2 per kilogram. "Saya membacanya (harga) justu masih US$3 per kilogram," kata Bayu.

Menurut dia, harga karet menurun setelah komitmen pemangkasan ekspor karet tiga negara lewat agreed export tonnage scheme (AETS) berakhir per 31 Maret lalu. Posisi Indonesia terhadap pembatasan ekspor masih merekomendasikan untuk tidak dilanjutkan.

Menurut Bayu, pembatasan ekspor sudah memberi pelajaran penting bagi petani dan eksportir karet Indonesia. Pasar Indonesia jadi lebih tahu kapan harus menahan produksi agar harga tidak terlalu jatuh, adan kapan harus menggenjot produksi. "Kalau dilihat dari sudut Indonesia, eksportir, petani dan pedagang distributor sudah lebih paham bagaimana mengelola pasokan. Ini satu hal yang sangat bagus, bahkan nilainnya lebih dari sekadar kebijakan enam bulan. Ke depan mereka memberikan komitmen pada kita, kita tidak mau (harga) jeblok, kita nggak bodoh. Kalau kita keluarkan hati-hati, harga bagus." katanya.

Produksi Turun

Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) memperkirakan produksi karet alam turun 200.000 ton menjadi sekitar 1,38 juta ton pada semester I-2013. Tahun ini, total produksi karet diperkirakan 2,77 juta ton. Penurunan produksi karet alam ini terjadi akibat gangguan iklim.

Ketua Gapkindo Daud Husni Bastari mengatakan, kebun karet di sentra produksi karet di Sumatera Utara memasuki masa gugur daun sehingga tak bisa berproduksi. Produksi pun akan turun 150.000 ton atau sekitar 50% dari produksi tahun lalu. "Sementara produksi kebun karet di selatan khatulistiwa turun 50.000 ton akibat banjir dan hujan sehingga tidak bisa menyadap," katanya.

Penurunan produksi itu, menurut Daud, efektif mengurangi stok karet di gudang. Kesepakatan pemangkasan ekspor karet antara Indonesia, Thailand, dan Malaysia selama enam bulan telah membuat stok karet di pabrik cum rubber menumpuk. Walau ekspor dipangkas, pabrik cum rubber wajib membeli produksi karet rakyat.