Usaha Pemasangan Konverter Kit Sepi Konsumen

Program Konversi BBM ke BBG Tak jelas

Selasa, 14/05/2013

NERACA

Jakarta - Lambatnya pemerintah menerapkan kebijakan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke gas, membuat bengkel pemasangan konverter kit kekurangan order. Ketidakjelasan kebijakan konversi ini membuat perusahaan pemasang konverter kit semakin sepi konsumen, salah satunya, lantaran disebabkan ketidakjelasan pasokan gas untuk kendaraan bermotor.

Salah satu bengkel yang melayani pemasangan konverter kit adalah PT Autogas Indonesia. Bengkel yang terletak di Taman Techno Blok H3 No.172 BSD City, Tangerang ini, menerima pemasangan konverter kit untuk menggantikan BBM ke gas. Ini salah satu bengkel percontohan pemasangan konverter kit oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Ketika berkunjung ke bengkel tersebut beberapa waktu lalu, terlihat beberapa kendaraan operasional yang terparkir di bengkel itu. \"Ya saat ini paling hanya satu kendaraan saja yang memasang konverter kit tiap hari,\" kata salah satu pegawai PT Autogas Indonesia Hendi Suhendi.

Padahal, saat pemerintah gencar-gencarnya mensosialisasi kebijakan konversi BBM ke gas, bengkel itu per hari bisa menerima tiga sampai empat kendaraan yang mau memasang konverter kit. Mereka yang memasang konverter kit biasanya pengguna pertamax. Hendi menjelaskan, untuk pemasangan konverter kit, khusus kendaraan buatan Jepang membutuhkan waktu delapan jam. \"Datang pagi, sore bisa diambil,\" ucapnya.

Untuk pengisian bahan bakarnya LGV/VIGAS dan CNG/BBG tidak ada kendala, karena sudah banyak tempat pengisiannya. Apalagi dia mengklaim perusahaannya merupakan perwakilan atau distributor dari LOVATO Italy, perusahaan yang memproduksi konverterkit LGV/VIGAS dan CNG/BBG.

Data Kebutuhan

Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi mengatakan, pihaknya tengah mendata kebutuhan konverter kit di stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) yang beroperasi tahun ini, baik di SPBG eksisting maupun SPBG baru.

Menurutnya, tim teknis sedang mendata kondisi SPBG di Jakarta, Bogor, Surabaya dan Palembang untuk menentukan jumlah konverter kit yang dapat dilayani SPBG tersebut. Adapun jumlah konverter kit yang akan disalurkan tahun ini, pihaknya masih menunggu kepastian dari PT Pertamina (Persero) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). \"Anggaran tahun ini Rp 250 miliar. Jumlah konverter kit menyesuaikan dengan SPBG yang ada, tapi itu bukan kewenangan kami. Itu bisa ditanyakan ke Pertamina atau Kementerian ESDM,\" jelas Budi.

Dikatakan dia, jumlah konverter kit yang dilepas ke pasar akan disesuaikan dengan jumlah SPBG yang ada. Pasalnya, bila SPBG yang terbangun tahun ini minim, akan .membuat program konversi BBM ke BBG tidak efektif.

Budi mengklaim, setiap satu SPBG bisa melayani sekitar 1.000 konverter kit dan untuk pe-ngadaannya tahun ini masih mengandalkan impor. Nantinya, kewenangan impor akan diberikan kepada industri yang memiliki rencana untuk industrialisasi konverter kit. \"Tapi kami mengharapkan pengadaan konverter kit bisa dilakukan industri lokal,\" ujar Budi.

Studi Banding

Tahun ini wilayah Jabodetabek ditargetkan memiliki sekitar 20 SPBG guna meningkatkan program konversi BBM ke BBG. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo menyatakan, pemerintah mengirimkan tim studi banding ke luar negeri untuk mempelajari konversi BBM ke gas buat transportasi darat dan laut. \"Kami akan kirim tim ke Shell di Belanda, Norwegia dan Amerika Serikat untuk belajar konversi BBM ke BBG untuk kapal,\" kata Susilo.

Sementara untuk pasokan gas, Susilo mengaku terdapat alokasi gas sebesar 35 juta standar kaki kubik per hari (Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD) hingga 50 MMSCFD untuk gas transportasi.

Sebelumnya pada Februari, pemilik mobil pribadi sudah bisa memesan konverter kit buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) dengan kisaran harga Rp 12 juta per unitnya. Penjualan itu dilakukan demi menggalakkan konsumsi BBG untuk mengurangi konsumsi BBM. Pemilik mobil pribadi nantinya tidak usah jauh-jauh ke Bandung untuk membeli konverter kit, mengingat PT DI akan menyalurkannya di Jakarta.

Terkait harga, jika pesanan terhadap konverter kit sudah banyak, maka dengan sendirinya harga produk itu akan turun. PT DI sendiri juga akan siap menerima pesanan dari masyarakat. Pemakaian konverter kit buatan PT DI itu dinilai aman. Konverter kit sendiri sudah digunakan oleh 22 juta mobil di seluruh dunia.

Terkait hal ini, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengharapkan, sosialisasi akan pemakaian konverter kit bisa gencar dilakukan, sehingga pemilik mobil pribadi yang tidak kuat untuk menggunakan Pertamax bisa beralih ke LGV. Sebelumnya, pemerintah berencana menawarkan cicilan pembelian konverter kit yang harganya belasan juta itu kepada para pemilik mobil pribadi dengan subsidi bunga. \"Konverter kit rencananya akan ada subsidi 100% untuk kendaraan umum. Untuk mobil pribadi melalui subsidi bunga, kita akan bicarakan lagi,\" ucapnya.

Untuk angkutan umum, pemerintah akan membagikan konverter kit dengan cuma-cuma. Langkah ini diambil untuk menekan pemakaian BBM subsidi yang dianggarkan 40 juta kilo liter (KL) di 2012. Pemerintah melalui Kementerian ESDM, lanjut Hatta, juga telah melakukan diversifikasi bahan bakar, mulai dari BBG-LGV atau CNG (Compressed Natural Gas). Selain peningkatan energi terbarukan melalui geothermal.