Kebijakan BBM Dijamin Tak Ganggu Perdagangan

Harga Naik, Pembelian Dibatasi

Senin, 13/05/2013

NERACA

Jakarta - Pemerintah saat ini sedang dipusingkan dengan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang terus membengkak. Mengatasi ini, pemerintah telah mewacanakan kenaikan harga BBM ataupun pembatasan pembelian BBM subsidi.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menjamin harga dan pasokan pangan tetap aman walaupun ada kenaikan ataupun pembatasan BBM subsidi. Meski saat ini ada wacana pembatasan pembelian BBM, harga kebutuhan pokok akan tetap terjaga selama pasokan tidak terganggu cuaca.

\"Untuk semua seperti beras, bawang putih, bawang merah, buah-buahan, sayur-sayuran, ayam dan telur, cabai sudah aman. Cuma daging sapi aja yang belum. Ini yang harus disikapi dalam waktu dekat,\" tutur Gita di Pasar Klender, Jakarta Timur, Minggu (12/5).

Pemerintah saat ini memang sangat berambisi untuk menaikkan harga jual BBM subsidi. Selain menaikkan harga jual, pemerintah juga menyebut akan mengurangi konsumsi premium dan solar bersubsidi.

Wakil Menteri ESDM Susilo Siswo Utomo mengatakan sepeda motor akan dibatasi hanya boleh membeli premium 0,7 liter sehari, sementara mobil pribadi ataupun kendaraan umum hanya diperkenankan mengonsumsi BBM paling banter 3 liter per hari. \"Untuk motor dibatasi 0,7 liter per hari. Mobil pribadi kalau tidak salah maksimal 3 liter per hari. Kalau dihitung per minggu kan jadi banyak,\" kata Susilo belum lama ini.

Sementara itu, rencana pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai memengaruhi harga bahan pokok di sejumlah pasar di kawasan Jabodetabek. Meskipun kenaikannya belum terlalu tinggi, sekitar Rp 200-3.000 per kilogram, namun dikhawatirkan kenaikan ini akan makin tinggi begitu harga baru BBM ditetapkan.

Di Pasar Cengkareng dan Puri Kembangan, Jakarta Barat, beras kualitas super dan tepung terigu naik Rp 200 per kilogram, sementara minyak curah dan telur ayam naik Rp 1000 per kg. Di Depok, bawang putih yang semula sudah turun kini naik Rp 1.000 per kg, yakni dari Rp 25.000 menjadi Rp 26.000 per kg. Telur ayam sudah seminggu ini naik drastis dari Rp 14.285 kg menjadi Rp 17.855 kg.

Di Pasar Rawalumbu, Bekasi, harga telur ayam ras yang tadinya Rp 16.000 per kg, naik menjadi Rp 18.000. Bahkan di warung-warung kecil, telur dijual Rp 19.000 per kg, sementara bawang merah hanya naik dari Rp 30.000 menjadi Rp 32.000 per kilogram.

Kenaikan yang paling mengagetkan terjadi pada bawang bombai. Satu biji bawang mombai yang biasanya Rp 1.000 kini menjadi Rp 4.000 per biji. Kenaikan bawang bombai ini sudah terjadi sejak satu minggu ini. Demikian pantauan SH di Pasar Rawalumbu, Kota Bekasi.

Di Pasar Kelapa Dua, Tangerang, harga cabai merah yang tadinya Rp 20.000 per kg naik menjadi Rp 25.000 per kg. Mumu, salah seorang pedagang sayur mayur di Pasar Kelapa Dua, mengkhawatirkan kenaikan harga akan semakin parah setelah pemerintah menaikkan harga BMM nanti.

Kenaikan harga juga terjadi pada mi instan, yang biasanya Rp 53.000 per dus (40 bungkus), naik menjadi Rp 57.000 per dus, sedangkan yang biasanya Rp 57.000 per dus, kini menjadi Rp 61.000. Meski masih dalam batas normal, kenaikan harga dikeluhkan oleh kalangan ibu rumah tangga. Mereka menduga, kenaikan harga yang kerap terjadi pada momen tertentu, merupakan akal-akalan pedagang dan spekulan untuk meraup keuntungan pribadi.

\"Kenaikan harga ini pasti cuma akal-akalan pedagang dan spekulan. Karena, hampir selalu rutin pada momen tertentu, harga kebutuhan pokok pasti akan naik, seperti Lebaran, Natal, musim hujan, kemarau dan sekarang BBM naik,\" ujar Ibu Panjaitan yang berbelanja di Pasar Kelapa Dua.

Namun di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, harga sayur mayur, bumbu, dan kebutuhan pokok seperti gula pasir, minyak goreng dan telur masih relatif stabil. Salah seorang pedagang bernama Anas (46) mengungkapkan, meski sempat mendengar adanya wacana kenaikan BBM, sampai saat ini harga masih relatif stabil.

Dia mengatakan, pemerintah harus segera memastikan harga BBM agar tidak beredar isu yang tidak jelas dan justru dapat berdampak pada harga. \"Kalau mau naik ya langsung naikkan, jangan ada isu-isu meresahkan. Kalau sudah ada kepastian naik jadi harga bisa seragam, bukan naik karena isu,\" ungkapnya. Ia menambahkan, jikaa isu tersebut dibiarkan berkembang, ada kekhawatiran bahwa hal itu akan dimanfaatkan oleh para spekulan.

Ongkos Distribusi

Dihubungi melalui telepon selulernya, Asisten Manajer Unit Pasar Besar (UPB) Pasar Induk Kramat Jati, Sugiono, membenarkan bahwa tidak ada kenaikan harga signifikan untuk komoditas yang dijual di pasar tersebut. Bahkan ia mengaku sejumlah komoditas seperti cabai merah dan bawang putih mengalami penurunan. \"Semua komoditas itu terbilang turun. Hanya bawang merah yang masih tinggi, harganya di atas Rp 24.000,\" kata Sugiono.

Ia menambahkan, jika nantinya harga BBM benar-benar naik, harga kebutuhan pokok dapat tetap stabil jika dua opsi dipilih, yakni adanya subsidi untuk transportasi umum. Hal ini menurutnya dapat membuat ongkos distribusi tidak berpengaruh dan berdampak pada tetap stabilnya harga komoditas.

Dihubungi terpisah, pedagang beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur, Nellys Soekidi, mengaku tidak ada kenaikan signifikan terhadap komoditas beras. Menurutnya, meskipun isu tersebut bergulir semenjak sepekan terakhir, ongkos distribusi masih sama dan tidak ada penambahan ongkos distribusi yang berdampak pada harga beras.