Kemenperin Terus Dorong Industri Hijau

Senin, 13/05/2013

NERACA

Jakarta - Wakil Perindustrian Alex SW Retraubun terus mendorong pengembangan industri hijau dalam upaya mendukung komitmen Pemerintah untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Lebih jauh lagi Alex memaparkan, langkah tersebut sesuai amanah Presiden RI dalam pertemuan mengenai perubahan iklim di Copenhagen pada tahun 2009, dimana Indonesia pada tahun 2020 bertekad menurunkan emisi GRK sebesar 26% dengan upaya sendiri dan 41% dengan bantuan internasional.

"Emisi GRK nasional sebesar 1,3 juta Gigagram CO2 equivalen. Sektor industri berkontribusi sebesar 3,12% dari proses produksi dan 9,63% dari penggunaan energi. Terdapat delapan sektor industri yang tergolong memberikan kontribusi emisi GRK yang besar antara lain industri semen, industri baja, industri pulp dan kertas, industri tekstil, industri keramik, industri pupuk, industri petrokimia, serta industri makanan dan minuman,"ungkap Wamen saat menutup Lomba dan Pameran Foto yang berlangsung sejak tanggal 7 Mei 2013 di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat, (10/5).

Tantangan pemerintah saat ini adalah pengembangan industri hijau yang kompetitif dengan sasaran pemanfaatan peluang ekonomi ramah lingkungan (green economy) serta mampu menciptakan lapangan kerja baru, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kontribusi sektor industri hijau pada PDB nasional. Selain itu, investasi yang diperlukan untuk pengembangan industri hijau cukup besar, salah satunya adalah karena diperlukan penggantian mesin produksi dengan teknologi yang ramah lingkungan.

Perlu Insentif

Oleh sebab itu, ujar Wamen, insentif dari pemerintah sangat perlu supaya industri hijau bisa tumbuh dan berkembang di Indonesia. Kemenperin, sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2012, telah memberikan Penghargaan Industri Hijau (Green Industry Award) kepada industri yang menerapkan pola-pola penghematan sumber daya, termasuk penggunaan bahan baku dan energi, terutama energi yang ramah lingkungan serta terbarukan.

Bentuk insentif lain yang telah diberikan oleh Kemenperin kepada pelaku industri adalah memberikan keringanan berupa potongan harga untuk pembelian mesin baru di industri tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, dan gula melalui Program Restrukturisasi Permesinan. Program ini telah dilaksanakan sejak tahun 2007 dan telah memberikan dampak yang signifikan berupa penghematan penggunaan energi sampai 25%, peningkatan produktivitas sampai 17%, peningkatan penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan efektivitas giling pada industri gula.

Lomba dan Pameran Foto bertema “Industri Hijau” di Plasa Pameran Industri Kemenperin dinilai strategis untuk mengkomunikasikan kebijakan dan capaian sektor industri di tanah air kepada masyarakat luas. Penyelenggaraan acara tersebut diharapkan dapat mendukung upaya pemerintah menggalakkan pentingnya pembangunan sektor industri berwawasan lingkungan.

“Oleh karena itu, saya mengharapkan acara ini dijadikan agenda tahunan dengan melibatkan banyak pihak, sebagai bagian dari upaya kita mensosialisasikan prestasi dan kemampuan industri dalam negeri menghadapi persaingan yang semakin ketat di masa yang akan datang,” kata Wakil Perindustrian Alex SW Retraubun.

Wamenperin menambahkan, pemenang dari lomba foto tersebut memang mendapatkan sejumlah penghargaan dan hadiah. Namun, pemberian penghargaan ini hendaknya tidak dilihat dari nilainya, tapi juga diharapkan dapat memotivasi para fotografer untuk tetap menciptakan karya-karya yang dapat menginspirasi semua pihak dalam membangun kemandirian industri nasional.

Sebelumnya Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama Kementerian Perindustrian sejak awal tahun telah melakukan kerjasama untuk merampungkan penyusunan standar industri hijau. Hal tersebut dilakukan untuk menekan penggunaan energi disektor industri besar yang mencapai 50% dari konsumsi. “Standarisasi industri hijau belum diterapkan melalui regulasi. Sedangkan penggunaan energi oleh sektor industri besar hampir 50% dari konsusmsi,” kata Ketua Umum Kadin, Suryo Bambang Sulisto.

Pelaku usaha, menurut Suryo, banyak mengembangkan sumber daya energi terbarukan seperti energi mini hydro dan biomas energi dari ampas tebu.