Industri Mamin Diproyeksikan Menguat 6%

Kuartal II-2013

Senin, 13/05/2013

NERACA

Jakarta - Tingginya konsumsi masyarakat di dalam negeri sudah pasti ikut mengerek pertumbuhan Industri makanan dan minuman yang ada. Terlebih lagi pertumbuhan industri makanan minuman (mamin) pada kuartal II diproyeksikan menguat menembus angka 6%, lebih besar dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama di 2012 sebesar 4%.

Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Benny Wahyudi, menuturkan pertumbuhan pada kuartal kedua dimungkinkan menguat menyusul regulasi pemerintah yang kian longgar terkait penyediaan bahan baku industri mamin. "Kemarin ini kan masalahnya bahan baku. Walaupun prosentasenya sedikit tapi bahan bakunya nggak ada di dalam negeri, jadi industrinya nggak jalan. Tapi itu sudah lewat. Pemerintah sudah menyadari hal itu," kata Benny, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut dia, terpuruknya pertumbuhan industri mamin pada kuartal satu akibat dua masalah pokok yakni regulasi dan bahan baku. Dia mencontohkan, seperti industri mie instan yang membutuhkan bawang putih sebagai bahan bakunya. Pada kuartal I tidak mencetak pertumbuhan menggembirakan karena ada masalah importasi bawang.

Sementara itu, industri minuman kemasan juga terkendala aturan pembatasan importasi hortilkultura untuk sejumlah komoditas buah. Benny, juga menambahkan industri mamin yang menggunakan bahan baku daging juga terkendala regulasi."Masalahnya terkait dengan regulasi dan bahan baku, terkait mamin. Produk yang menggunakan daging. Lalu, mie instan ada bawang putihnya diatur. Buah-buahan untuk mamin diatur. Sekarang sudah tidak diatur," kata Benny.

Benny menambahkan pertumbuhan industri makanan minuman kemungkinan akan terhambat oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Tapi, Kementerian Perindustrian kini masih mengkaji kisaran penurunan pertumbuhan yang mungkin timbul. "Dan terkait BBM, pasti akan turun kinerjanya. Tapi berapanya, masih dalam kajian," katanya.

Mengalami Penurunan

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, Franky Sibarani, mengatakan pertumbuhan industri makanan minuman pada triwulan I memang mengalami penurunan. Industri minuman triwulan I tahun 2013 turun 4,81 % dibandingkan triwulan IV/2012, sementara industri makanan turun 12,47 % pada triwulan I 2013 dibandingkan triwulan IV/2012.

"Awal tahun permintaan memang melandai, selain itu ketentuan mengenai UMR, dan kenaikan TDL juga turut mempengaruhi," katanya. Menurut Benny, kenaikan upah buruh membuat beberapa pabrikan merelokasi kegiatan usaha sehingga terjadi slowdown dalam produksi.

Pada triwulan kedua, Franky memproyeksi industri mamin akan naik 10-15 % karena permintaan cenderung akan naik khususnya pada bulan Juni. "Jelang puasa dan Lebaran, permintaan akan naik," katanya. Selain itu, Gapmmi mendesak pemerintah untuk melancarkan bahan baku daging pada triwulan II untuk mendorong pertumbuhan industri pengolahan daging.

Franky mengatakan kemungkinan naiknya harga BBM pada triwulan II tidak akan menghambat prediksi kenaikan 10-15 %. Menurut dia, industri akan menyesuaikan dengan kenaikan BBM tersebut.

Sekedar informasi ,Indonesia boleh berbangga karena capaian pertumbuhan ekonomi beberapa tahun belakangan ini menunjukkan trend positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, dalam beberapa kurun waktu terakhir angka pertumbuhan ekonomi masih bertahan di kisaran 6,3%. Angka pertumbuhan ini memang tidak seperti yang ditargetkan yaitu sebesar 6,5%. Tapi mengingat beberapa krisis ekonomi yang melanda dunia, Indonesia termasuk negara yang bisa bertahan.

Jika dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB), maka konsumsi masyarakat merupakan faktor penyumbang terbesar yang mencapai lebih dari 60%.Kontribusi konsumsi masyarakat terhadap PDB ini cukup konstan dari tahun ke tahun. Jika melihat kontribusinya, maka setiap pertumbuhan 1% konsumsi Rumah Tangga akan menyumbang 2,04% pertumbuhan PDB. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa saat ini konsumsi masyarakat merupakan motor penggerak dari perekonomian Indonesia.

Konsumsi masyarakat sendiri dibagi menjadi dua kategori, yakni makanan dan non-makanan. Pengeluaran sektor non makanan dalam hal ini mempunyai sensitivitas lebih tinggi dibandingkan pengeluaran untuk makanan. Namun perbedaan selisih ini tidak terlampau jauh. Berikut adalah data tentang pengeluaran per kapita masyarakat Indonesia per bulan dalam kurun waktu 2009-2011.

Jika mencermati data di atas, dalam konsumsi rumah tangga sektor makanan, padi-padian (serealia) menduduki peringkat teratas. Setelah itu disusul oleh jenis makanan dan minuman jadi (prepared foods and beverages). Tingkat konsumsi makanan dan minuman jadi ini melebihi pengeluaran untuk sayuran, ikan maupun daging.